Baca Novel Online

Digital Fortress

Memotong jalan Gauntlet tidaklah lazim. Walaupun begitu, dalam situasi seperti ini, tidak ada salahnya langsung mengirim Benteng Digital kepada TRANSLTR. Sang komandan tahu dengan pasti dokumen apa itu dan dan mana asalnya.

“Komandan,” sela Susan yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi. “Saya benar-benar harus-”

Kali ini kata-kata Susan terputus oleh deringan tajam telepon seluler milik Strathmore. Sang komandan menekan tombol jawab. “Ada apa!” bentaknya. Kemudian, dia terdiam dan menyimak penelepon itu.

Susan segera melupakan Hale. Dia berdoa agar yang menelepon adalah David. Katakan padaku dia baik-baik saja. Katakan padaku dia telah menemukan cincin itu. Tetapi Strathmore menatap mata Susan dan mengernyit. Telepon itu bukan dan David.

Susan merasakan napasnya bertambah pendek. Vang ingin diketahuinya adalah, pria yang dicintainya selamat. Dia tahu, Strathmore gelisah karena alasan lain. Jika David masih lama, sang komandan akan harus mengirimkan bantuan—petugaspetugas lapangan NSA. Terlalu berisiko berharap Strathmore tidak akan melakukan itu.

“Komandan?” desak Chartrukian. “Saya benar-benar berpikir kita harus memeriksa-”

“Tunggu sebentar,” kata Strathmore sambil meminta maaf kepada peneleponnya. Dia menutup corong teleponnya dan melayangkan pandangan marah kepada petugas Sys-Sec muda itu. “Mr. Chartrukian,” geramnya, “pembicaraan ini telah selesai. Kau akan segera meninggalkan Crypto. Sekarang. Ini perintah.”

Chartrukian berdiri dengan perasaan kaget. “Tetapi, Pak, rangkaian mut-”

“SEKARANG!” teriak Strathmore.

Chartrukian menatap Strathmore sesaat dan tidak bersuara. Kemudian petugas Sys-Sec itu segera menuju laboratorium Sys-Sec.

Strathmore berbahk dan melihat Hale dengan pandangan bertanya-tanya. Susan mengerti kenapa sang komandan merasa bingung. Hale selama ini diam—terlalu diam. Hale tahu dengan baik bahwa tidak ada tes diagnostik yang menggunakan rangkaian mutasi, apalagi yang sampai membuat TRANSLTR sibuk selama delapan belas jam. Tetapi Hale tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia tampaknya tidak peduli pada semua keributan yang terjadi. Strathmore jelas jelas mempertanyakan hal tersebut. Dan Susan mempunyai jawabannya.

“Komandan,” kata Susan dengan gigih, “kalau saja saya boleh berbicara-”

“Sebentar,” sela Strathmore sambil tetap menatap Hale dengan bingung. “Aku harus menjawab telepon ini.” Strathmore berbahk dan kembali ke ruang kantornya.

Susan membuka mulutnya, tetapi semua kata tertahan di ujung lidahnya. Hale adalah North Dakota. Susan berdiri dengan kaku dan tidak bisa bernapas. Dia merasa Hale sedang memelototinya. Dia kemudian berbahk. Hale bergeser sedikit dan mengayunkan lengannya dengan anggun ke arah pintu Node 3. “Silakan jalan dulu, Sue.”

***

41

DI SEBUAH kamar penyimpan linen di lantai tiga Alfonso XIII, seorang pelayan kamar tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Seorang pria dengan kacamata berbingkai kawat mengembalikan sebuah kunci utama hotel itu ke dalam kantong pelayan wanita itu. Dia tidak mendengar jeritan wanita itu ketika dia memukulnya tadi, tetapi dia memang tidak pernah tahu dengan pasti— pria itu telah tuli semenjak berusia dua belas tahun.

Dia menggapai paket baterai di pinggangnya dengan gaya penuh hormat. Diberikan oleh seorang kliennya, mesin itu telah memberinya hidup baru. Sekarang dia bisa menerima kontrak kerjanya di mana pun di seluruh dunia. Semua komunikasi tiba secara cepat dan tak terlacak.

Dengan penuh semangat dia menyentuh tombol alat itu. Kacamatanya berkedip menyala. Sekali lagi jemarinya bergerak-gerak di udara dan mulai mengetik. Seperti yang selalu dilakukannya, dia menyimpan catatan semua nama korbannya. Kontak-kontak yang dibuat jarinya mulai tersambung, dan huruf-huruf muncul pada lensa kacamatanya seperti hantu-hantu yang melayang di udara.

SUBJEK: ROCIO EVA GRANADA—SUDAH DISINGKIRKAN SUBJEK: HANS HUBER—SUDAH DISINGKIRKAN

Tiga lantai ke bawah, David Becker membayar minumannya dan berjalan ke arah lobi dengan minuman yang tinggal setengah di tangan. Dia menuju serambi hotel yang terbuka untuk mendapatkan udara segar. Masuk dan keluar, renungnya. Banyak hal terjadi tidak seperti yang diharapkannya. Dia harus membuat keputusan. Haruskah dia menyerah dan kembali ke bandara? Masalah keamanan nasional. Becker mengutuk pelan. Lalu kenapa mereka mengirim seorang guru sekolah?

Becker menyingkir dan pandangan si bartender dan menuang minumannya ke dalam tanaman melati di dalam pot. Vodka telah membuat kepalanya sedikit sakit. Peminum yang payah, Susan sering meledeknya. Setelah mengisi ulang gelas kristal yang berat itu di pancuran air minum, Becker menenggaknya habis.

Becker meregangkan tubuhnya sambil berusaha menyingkirkan kabut dalam pikirannya. Kemudian dia meletakkan gelas itu dan berjalan menyeberangi lobi.

Saat Becker melewati lift, pintu lift itu terbuka. Ada seorang pria di dalamnya. Vang bisa dilihat Becker hanyalah sebuah kacamata berbingkai kawat tebal. Pria itu mengangkat sebuah saputangan untuk membersihkan hidungnya. Becker tersenyum sopan dan terus berjalan … keluar menuju malam Sevilla yang menyesakkan.

***

42

DI DALAM Node 3, Susan berjalan mondar-mandir dengan panik. Dia berharap bisa membuka kedok Hale ketika ada kesempatan tadi.

Hale duduk di depan komputernya sendiri. “Stres bisa membunuh, Sue. Ada yang ingin kauceritakan?”

Susan memaksakan dirinya untuk duduk. Dia pikir Strathmore telah selesai berbicara di telepon sekarang dan kembali untuk berbicara dengannya, tetapi sang komandan tidak kelihatan sama sekali. Susan berusaha untuk tetap tenang. Dia melihat layar komputernya. Pelacaknya masih terus bekerja—untuk kedua kalinya. Hal itu sudah tidak penting lagi. Susan sudah tahu alamat siapa yang akan terkirim kembali: GHALE@crypto.nsa.gov.

Susan melihat ke arah tempat kerja Strathmore dan dia tahu dirinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah saatnya menyela pembicaraan komandan di telepon. Dia berdiri dan berjalan ke pintu.

Melihat tingkah Susan yang aneh, tiba-tiba Hale gelisah. Dia segera melangkah menyeberangi ruangan dan mendahului Susan sampai di pintu. Hale melipat tangannya dan menghalangi jalan keluar Susan.

“Katakan apa yang sedang terjadi,” pinta Hale. “Ada sesuatu yang sedang terjadi di sini hari ini. Apa itu?”

“Biarkan aku keluar,” kata Susan setenang mungkin. Tibatiba dia merasa sedikit marah.

“Ayolah,” desak Hale. “Strathmore hampir memecat Chartrukian karena petugas Sys-Sec tersebut telah melakukan tugasnya. Apa yang sedang terjadi di dalam TRANSLTR? Kita tidak memiliki sebuah tes diagnostik yang memakan waktu delapan belas jam. Itu omong kosong dan kautahu itu. Katakan apa yang sedang terjadi.”

Mata Susan mengecil. Kautahu dengan pasti apa yang sedang terjadi! “Minggir, Greg,” perintahnya. “Aku harus ke kamar kecil.”

Hale menyeringai. Dia menunggu sebentar dan bergeser. “Maaf, Sue. Hanya bercanda.”

Susan melewati Hale dan meninggalkan Node 3. Saat melewati dinding kaca, dia merasakan tatapan Hale dan sisi dalam Node 3 menembus dirinya.

Dengan segan, Susan memutar menuju kamar kecil. Dia harus berjalan memutar sebelum mengunjungi sang komandan. Greg tidak mungkin curiga.

***

43

CHAD BRINKERHOFF, berusia 45 tahun dan selalu ceria, adalah seorang pria yang berbadan tegap, berdandan rapi, dan memiliki banyak informasi. Setelan jas musim panasnya yang ringan, seperti kulitnya yang terbakar matahari, tidak menunjukkan kerutan atau bekas dipakai. Rambutnya tebal, berwarna pirang keabuan, dan—yang terpenting—itu adalah rambut asli. Matanya biru cemerlang—sedikit dipertajam oleh keajaiban lensa kontak berwarna.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.