Baca Novel Online

Digital Fortress

Saat Rocio melangkah masuk ke dalam kamar, mata orang Jerman itu membelalak. Rocio memakai pakaian dalam berwarna hitam. Kulit cokelatnya bersinar di bawah lampu yang temaram dan putingnya mencuat jelas di balik bahan berenda.

“Kornrn doch hierher,” kata pria itu dengan bersemangat sambil membuka mantel dan terlentang.

Rocio memaksakan sebuah senyum dan mendekati tempat tidur. Dia menatap ke arah si Jerman yang besar itu. Dia tertawa kecil dengan lega. Perkakas di antara kedua kaki pria itu berukuran sangat kecil.

Pria itu segera menyambar Rocio dan dengan tidak sabar melucuti baju dalam wanita itu. Jari-jari gemuk milik pria itu menjamah setiap inci badan Rocio. Rocio jatuh ke atas tubuh si Jerman, mengerang dan bergeliat dalam kenikmatan palsu. Saat pria itu berguling ke atasnya, Rocio merasa dirinya hampir remuk. Dia terengah dan tercekik di bawah leher si Jerman yang bergelambir. Dia berdoa agar pria itu cepat selesai.

“Si! Si!” Rocio terengah di antara hentakan serta menancapkan kuku jarinya di punggung pria itu untuk memberinya semangat.

Berbagai macam peristiwa berputar di dalam kepala Rocio—wajah-wajah para pria yang tak terhitung jumlahnya yang telah dipuaskannya, langit-langit yang pernah dilihatnya selama berjam-jam di dalam kegelapan, impiannya untuk memiliki anak ….

Tiba-tiba, tanpa peringatan, tubuh si Jerman melengkung, menjadi kaku, dan segera roboh di atasnya. Hanya begitu saja? pikir Rocio dengan perasaan terkejut dan lega.

Rocio mencoba untuk keluar dan tindihannya. “Sayang,” bisiknya parau, “biarkan aku di atas.” Tetapi pria itu bergeming.

Rocio meraih ke atas dan mendorong pundak si Jerman yang besar itu. “Sayang, aku … aku tidak bisa bernapas!” Rocio mulai merasa seperti akan pingsan. Sepertinya tulang iganya retak. “iDespiertate!” Secara naluriah jari-jarinya merenggut rambut kusut pria itu. Bangun!

Pada saat itulah Rocio merasakan cairan lengket yang hangat di jarinya. Cairan itu ada pada rambut si Jerman yang kusut—mengalir turun ke pipi Rocio dan ke dalam mulutnya. Rasanya asin. Rocio menggeliat dengan liar di bawah pria itu. Di bagian atas, secercah sinar yang ganjil menerangi wajah si Jerman yang terpelintir. Sebuah lubang bekas peluru di pelipis pria itu mengalirkan darah ke seluruh badan Rocio. Rocio berusaha menjerit, tetapi tidak ada udara yang tertinggal di dalam paru-parunya. Pria itu telah meremukkannya. Dengan kalap Rocio berusaha menggapai berkas sinar yang berasal dan pintu. Dia melihat sebuah tangan. Sebuah senjata dengan peredam. Kilatan sinar. Dan kemudian, tidak ada apa-apa.

***

40

DI LUAR Node 3, Chartrukian tampak putus asa. Dia sedang berusaha meyakinkan Hale bahwa TRANSLTR bermasalah. Susan mendahului mereka dengan satu pikiran di dalam benaknya— mencari Strathmore.

Petugas Sys-Syc yang panik itu menangkap lengan Susan saat wanita itu melewati mereka. “Ms. Fletcher! Kita terserang virus! Saya yakin! Anda harus—”

Susan mengibaskan tangannya agar terlepas dan memelototi Chartrukian dengan marah.

“Saya pikir Komandan telah menyuruh Anda pulang.”

“Tetapi Run-Monitor itu menunjukkan delapan—”

“Komandan Strathmore telah menyuruhmu pulang!”

“PERSETAN DENGAN KOMANDAN STRATHMORE!” jerit Chartrukian. Kata-katanya bergema di seluruh kubah.

Sebuah suara bergemuruh di atas mereka. “Mr. Chartrukian?” Ketiga pegawai Crypto itu tidak bergerak.

Jauh di atas mereka, Strathmore berdiri dekat pagar pembatas di luar ruang kantornya.

Untuk sesaat, suara yang terdengar hanyalah dengungan aneh dan rnesin pembangkit tenaga di bagian bawah. Dengan putus asa, Susan berusaha menarik perhatian Strathmore. Komandan! Hale adalah North Dakota!

Tetapi Strathmore terpaku pada petugas Sys-Sec muda itu. Strathmore menuruni anak tangga tanpa berkedip. Matanya tetap tertuju pada Chartrukian. Dia menyeberangi lantai Crypto dan berhenti enam inci di depan teknisi yang gemetar itu. “Apa katamu?’

“Pak,” Chartrukian tercekat, “TRANSLTR sedang bermasalah.”

“Komandan?” sela Susan. “Bisakah saya—”

Strathmore mengibaskan tangannya. Matanya tidak berpaling dan petugas Sys-Sec itu.

Chartrukian berkata dengan cepat, “Kita memiliki sebuah dokumen yang terinfeksi, Pak. Saya yakin itu!”

Wajah Strathmore berubah menjadi merah tua, “Mr. Chartrukian, kita sudah membahas masalah ini. Tidak ada dokumen yang membuat TRANSLTR terinfeksi!”

“Ya, ada!” jerit Chartrukian. “Dan jika sampai mengenai bank data utama-”

“Di mana dokumen yang terinfeksi itu?” teriak Strathmore.

“Tunjukkan padaku!”

Chartrukian ragu-ragu. “Saya tidak bisa!” “Tentu kau tidak bisa! Memang tidak pernah ada!” Susan berkata, “Komandan, saya harus-” Dengan marah, Strathmore kembali mengisyaratkan pada Susan untuk diam dengan mengibaskan tangannya. Susan menatap Hale dengan cemas. Hale terlihat

pongah dan tenang. Sungguh masuk akal, pikirnya. Hale tidak akan mencemaskan sebuah virus. Hale tahu apa yang sedang terjadi di dalam TRANSLTR.

Chartrukian bersikeras. “Dokumen yang terinfeksi itu ada, Pak. Tetapi Gauntlet tidak bisa menangkapnya.”

“Jika Gauntlet tidak bisa menangkapnya, lalu dan mana kautahu virus itu ada?” tanya Strathmore dengan marah.

Tiba-tiba Chartrukian menjadi lebih percaya diri. “Rangkaian mutasi, Pak. Saya telah menjalankan analisis penuh, dan pemeriksaan menunjukkan bahwa itu adalah rangkaian mutasi!”

Susan sekarang mengerti kenapa petugas Sys-Sec itu khawatir. Rangkaian mutasi, pikirnya. Susan tahu bahwa rangkaian mutasi adalah urutan pemrograman yang merusak data dengan cara yang sangat rumit. Hal seperti ini sangat umum terjadi pada virus-virus komputer, terutama pada virus yang dapat mengubah data berukuran besar. Tentu saja, Susan juga tahu dan email Tankado bahwa rangkaian mutasi yang ditemukan Chartrukian tidak berbahaya—hanya bagian dan Benteng Digital.

Petugas Sys-Sec itu meneruskan. “Ketika saya pertama kali melihat rangkaian itu, Pak, saya pikir penyaring Gauntlet telah gagal. Tetapi kemudian saya menjalankan beberapa tes dan menemukan ….” Dia berhenti dan tiba-tiba terlihat gelisah. “Saya menemukan bahwa seseorang telah memotong jalan Gauntlet secara manual.”

Pernyataan itu segera membuat semua terdiam. Wajah Strathmore semakin merah. Tidak diragukan lagi siapa yang sedang dituduh oleh Chartrukian. Komputer Strathmore adalah satu-satunya di Crypto yang bisa memotong jalan penyanng-penyanng Gauntlet.

Ketika Strathmore berbicara, suaranya sedingin es. “Mr. Chartrukian, ini sebenarnya bukan urusanmu, tetapi akulah yang telah memotong jalan Gauntlet.” Dengan emosi yang semakin memuncak, Strathmore meneruskan. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sedang menjalankan sebuah tes diagnostik yang sangat canggih. Rangkaian mutasi yang kaulihat di dalam TRANSLTR adalah bagian dan tes diagnostic itu. Rangkaian tersebut ada di sana karena aku yang menaruhnya. Gauntlet menolak saat aku memasukkan dokumen itu, jadi aku memotong jalan penyanng-penyanngnya.” Mata Strathmore yang mengecil memandang tajam pada Chartrukian. “Sekarang, ada lagi yang lain sebelum kau pergi?”

Dalam sekejap, segalanya menjadi jelas bagi Susan. Ketika Strathmore memasukkan alogaritma Benteng Digital yang bersandi dan internet itu dan berusaha memeriksanya dengan TRANSLTR, rangkaian mutasinya menghantam penyanngpenyanng Gauntlet. Karena sangat ingin mengetahui apakah Benteng Digital bisa dipecahkan atau tidak, Strathmore memotong jalan penyanng-penyanng tersebut.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.