Baca Novel Online

Digital Fortress

NSA.

“Ini kata Susan terbata. “Ini … tidak mungkin.”

Seolah ingin membantah, suara Hale bergaung kembali: Tankado menyuratiku beberapa kali … Strathmore bermain api dengan mempekerjakan aku …. Suatu hari aku akan keluar dan tempat ini.

Tetap saja Susan tidak dapat menerima apa yang dilihatnya. Memang benar, Greg Hale menjengkelkan dan angkuh—tetapi dia bukan pengkhianat. Dia tahu apa yang bisa dilakukan Benteng Digital terhadap NSA. Tidak mungkin dia terlibat dalam rencana untuk merilis Benteng Digital!

Tetapi, Susan sadar tidak ada yang bisa menghentikan Hale—kecuali kehormatan dan nilai-nilai yang luhur. Susan teringat alogaritma Skipjack. Greg Hale pernah menghancurkan rencana NSA. Apa yang dapat menghalanginya untuk melakukannya lagi?

“Tetapi Tankado …,” Susan bingung. Bagaimana seseorang separanoid Tankado dapat memercayai orang yang tidak bisa diandalkan seperti Hale?

Susan tahu, semua itu tidak penting lagi. Vang penting adalah bagaimana memberi tahu Strathmore. Sekarang, rekan Tankado berada tepat di depan hidung mereka. Susan bertanya-tanya apakah Hale tahu bahwa Ensei Tankado telah mati.

Susan mulai dengan cepat menutup dokumen-dokumen email Hale agar komputer itu tampak seperti semula. Hale tidak akan curiga—belum. Dengan takjub, Susan sadar bahwa kunci sandi Benteng Digital berada di suatu tempat di dalam komputer itu.

Tetapi tepat saat Susan menutup dokumen terakhir, sebuah bayangan melintas di luar jendela Node 3. Dia segera menengadah dan melihat Greg Hale sedang mendekat. Adrenalinnya mengalir dengan cepat. Hale sudah hampir sampai ke pintu.

“Sial!” kutuk Susan sambil memperkirakan }afak untuk kembali ke tempat duduknya sendiri. Dia sadar dirinya tidak akan sempat menjangkaunya. Hale sudah hampir sampai.

Susan berputar dengan putus asa sambil memilih tempat yang sesuai di Node 3.

Pintu-pintu di belakangnya berbunyi dan bersiap membuka. Susan merasakan nalurinya bertindak. Dengan menekan sepatunya ke dalam karpet dan langkah-langkah panjang, dia bergegas menuju kamar sepen. Ketika pintu-pintu Node 3 membuka, Susan berhenti tepat di depan lemari es dan membuka pintunya. Sebuah tempat air kaca di atasnya hampir terguling.

“Lapar?” tanya Hale sambil memasuki Node 3 dan berjalan ke arah Susan. Suaranya tenang dan menggoda. “Mau berbagi tahu?”

Susan menghela napas dan berbahk menghadapnya. “Tidak, terima kasih,” jawabnya. “Aku rasa aku akan-” Kata-kata Susan tersangkut di kerongkongannya. Dia berubah menjadi pucat.

Hale menatap Susan dengan bingung. “Ada yang salah?”

Susan mengigit bibirnya dan menatap mata Hale. “Tidak ada,” katanya. Tetapi itu bohong. Di seberang ruangan, komputer Hale menyala terang. Susan lupa membuatnya redup.

***

37

DI LANTAI bawah hotel Alfonso XIII, Becker melangkah dengan lesu ke arah bar. Seorang bartender kerdil meletakkan sehelai serbet di hadapan Becker. “Que bebe usted? Hendak minum apa?”

“Tidak usah, terima kasih,” jawab Becker. “Saya ingin tahu apakah ada klab untuk punk rocker di kota ini?”

Bartender itu menatap Becker dengan pandangan aneh. “Klab? Untuk para punk?”

“Ya. Apakah ada tempat nongkrong mereka di kota ini?”

“No lo se, senor. Saya tidak tahu. Tapi yang pasti bukan di sini!” Dia tersenyum. “Mau minum?”

Becker merasa ingin mengguncang pria kecil itu. Semuanya tidak berjalan seperti yang direncanakan.

Alunan musik klasik yang lembut berputar di atas kepala Becker. Bradenburg Concertos, pikirnya. Nomor Empat. Dia dan Susan pernah menyaksikan Academy of St. Martin of the Fields memainkan komposisi tersebut di kampus tahun lalu. Tiba-tiba dia berharap Susan berada bersamanya sekarang. Semburan pendingin ruangan di bagian atas mengingatkannya bagaimana rasanya udara di luar. Dia membayangkan dirinya berjalan di sepanjang daerah Tnana yang hiruk pikuk dan panas sambil mencari seorang punk berkaus bendera Inggris. Dia teringat pada Susan lagi. “Zurno arandano,” Becker berkata setengah sadar. “Jus cranberry.”

Bartender itu kelihatannya bingung. “iSolo?” Jus Cranberry adalah minuman yang populer di Spanyol, tetapi meminumnya sendirian tidaklah lazim.

“Si,” jawab Becker. “Solo.”

“iEcho un poco de Smirnoff?” desak bartender itu. “Sedikit vodka?”

“Tidak, terima kasih.”

“iGratis?” bujuk bartender itu. “Tidak usah bayar?” Dengan kepala yang berdenyut-denyut, Becker membayangkan jalan-jalan kotor di Tnana, udara panas yang mencekat dan malam yang panjang di depannya. Peduli setan. Becker mengangguk. “Si, echame un poco de vodka.”

Bartender itu merasa sangat lega dan segera pergi untuk menyiapkan minuman itu.

Becker melihat ke sekeliling bar yang berhias itu dan bertanya-tanya apakah dirinya sedang bermimpi. Apa saja lebih masuk akal dan semua ini. Aku seorang dosen di universitas, pikir Becker, yang sedang dalam misi rahasia.

Bartender itu kembali dengan ceria dan membawakan minuman Becker. “A su gusto, senor. Cranberry dengan sedikit vodka.”

Becker mengucapkan terima kasih. Dia menyesap minumannya dan tersedak. Sedikit vodka?

***

38

HALE MENGHENTIKAN langkahnya menuju ruang sepen Node 3 dan menatap Susan. “Ada yang salah, Sue? Kau kelihatan kacau.”

Susan berusaha mengatasi rasa takutnya. Sepuluh kaki di depannya, monitor Hale menyala dengan terang. “Aku … aku baik-baik saja,” katanya dengan jantung yang berdebar.

Hale menatap Susan dengan bingung. “Kau mau segelas air?”

Susan tidak dapat menjawab. Dia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana aku bisa lupa meredupkan monitor sial itu? Susan sadar, saat Hale menyadari dirinya telah mengutak-atik komputernya, pria itu akan curiga bahwa dia telah mengetahui identitas sebenarnya North Dakota. Dia takut Hale akan melakukan apa pun untuk menjaga agar informasi itu tetap berada di dalam Node 3.

Susan bertanya-tanya apakah dirinya bisa berlari ke arah pintu. Tetapi dia tidak memiliki kesempatan itu. Tiba-tiba ada suara ketukan keras pada dinding kaca. Hale dan Susan terloncat. Ternyata itu Chartrukian. Petugas Sys-Sec itu memukulkan kepalan tangannya yang berkeringat ke atas kaca lagi. Chartrukian terlihat seperti baru saja menyaksikan perang akhir zaman.

Hale merengut ke arah petugas Sys-Sec yang mengamuk di luar jendela itu, kemudian beralih kepada Susan. “Aku akan segera kembali. Minumlah. Kau kelihatan pucat.” Hale berbahk dan keluar.

Kepala Susan serasa dipukul. Dia berbahk dan melihat percakapan yang sedang terjadi di lantai Crypto. Kelihatannya, Chratrukian belum pulang sama sekali. Petugas Sys-Sec muda itu sekarang sedang panik sambil menceritakan segalanya pada Greg Hale. Susan tahu hal itu tidak penting—Hale sudah tahu segalanya.

Aku harus segera memberi tahu Strathmore, pikir Susan. Segera.

***

39

RUANG 301. Rocio Eva Granada berdiri telanjang di depan cermin kamar mandi. Ini saat yang paling ditakutinya sepanjang hari. Si Jerman sedang menunggunya di tempat tidur. Dia adalah pria terbesar yang ditemaninya.

Dengan segan, Rocio mengambil sebongkah es dari ember air dan menggosokkannya pada dua putingnya. Keduanya segera mengeras. Ini adalah bakatnya— membuat para pria merasa diinginkan. Dan hal inilah yang membuat mereka selalu kembali. Rocio membelai seluruh badannya yang lentur dan berwarna kecokelatan itu sambil berharap dirinya bisa bertahan selama empat atau lima tahun ke depan sampai dia memiliki cukup uang untuk pensiun. Senor Roldan mengambil sebagian besar penghasilannya. Tetapi tanpa Roldan, Rocio sadar dirinya akan berada bersama pelacur lain yang menunggu para pemabuk di Triana. Paling tidak, bersama Roldan, pria-pria yang dilayaninya mempunyai uang. Mereka tidak pernah memukulnya dan mereka mudah untuk dilayani. Rocio memakai pakaian dalamnya, menarik napas panjang, dan membuka pintu kamar mandi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.