Baca Novel Online

Digital Fortress

KODE KESALAHAN: 22. Susan berusaha mengingat arti kode 22. Kegagalan peranti keras sangat jarang terjadi di Node 3 sehingga dia tidak bisa mengingat arti kode-kode dengan angka itu.

Susan membolak-balik halaman buku petunjuk SVS-OP itu untuk mencari daftar kode kesalahan.

19 20 21

MASALAH PADA PARTISI KERAS MASALAH PADA SAMBUNGAN DC KEGAGALAN MEDIA

Ketika dia sampai pada nomor 22, Susan berhenti dan menatap lama. Karena terkejut, dia memeriksa ulang monitornya.

KODE KESALAHAN: 22

Susan berhenti dan berbahk ke buku petunjuk SVS-

OP. Apa yang dilihatnya sungguh tidak masuk akal. Penjelasannya berbunyi sederhana.

22: PENGGUGURAN SECARA MANUAL

***

35

BECKER MENATAP Rocio dengan terkejut. “Anda menjual cincin itu?”

Wanita itu mengangguk. Rambut merahnya yang selembut sutra tergerai di pundaknya.

Becker berharap itu tidak benar. “Pero … tetapi

Wanita itu mengangkat bahunya dan berkata dalam bahasa Spanyol, “Seorang gadis di dekat taman.”

Becker merasa kakinya menjadi lemas. Ini tidak mungkin terjadi.

Rocio tersenyum culas dan menunjuk kepada si Jerman. “El queria que la guardara. Dia ingin menyimpannya tetapi saya melarangnya. Saya memiliki darah Gitana dalam diri saya, darah Gipsi. Kami para Gitana, selain memiliki rambut merah, juga sangat percaya pada takhayul. Cincin yang ditawarkan seorang pria yang sedang sekarat bukanlah pertanda baik.”

“Anda kenal gadis itu?” interogasi Becker.

Alis Rocio melengkung ke atas. “Vaya. Anda sangat menginginkan cincin itu, ya?” Becker mengangguk tegas. “Kepada siapa Anda menjualnya?”

Si Jerman yang besar duduk dengan perasaan bingung di tempat tidur. Malam romantisnya telah hancur, dan kelihatannya dia tidak tahu kenapa bisa begitu. “Was passiert?” tanyanya dengan cemas. “Apa yang sedang terjadi?”

Becker tidak menghiraukannya.

“Sebenarnya saya tidak menjualnya,” kata Rocio. “Saya memang mencoba tetapi dia hanya seorang anak kecil dan tidak mempunyai uang. Akhirnya, saya kasih saja cincin itu kepadanya. Jika saja saya tahu tentang tawaran Anda yang menawan ini, saya pasti akan menyimpannya untuk Anda.”

“Kenapa Anda meninggalkan taman?” tanya Becker. “Seseorang telah mati. Kenapa Anda tidak menunggu sampai datangnya polisi? Dan menyerahkan cincin itu kepada mereka?”

“Saya mengumpulkan banyak hal, Mr. Becker, tetapi masalah bukan salah satunya. Lagi pula, pria tua itu kelihatannya bisa mengatasi keadaan.”

“Orang Kanada itu?”

“Ya, dia memanggil ambulans. Jadi, kami memutuskan untuk pergi. Saya tidak melihat alasan untuk melibatkan teman kencan saya atau diri saya sendiri dengan polisi.”

Becker mengangguk dengan linglung. Dia masih berusaha menerima nasib sialnya. Wanita ini memberikan cincin itu kepada orang lain!

“Saya telah berusaha menolong pria sekarat itu,” Rocio menjelaskan. “Tetapi kelihatannya dia tidak menginginkannya. Dia mulai dengan cincin itu. Dia terus rne-nyorongkannya ke wajah kami. Dia memiliki tiga jari cacat yang mencuat ke atas. Dia terus menjejalkan tangannya pada kami, seakan-akan kami harus menerimanya. Saya tidak ingin menerimanya, tetapi temanku ini akhirnya mengambilnya. Kemudian, pria itu mati.”

“Dan kau memberinya pernapasan buatan?”

“Tidak. Kami tidak menyentuhnya. Temanku ketakutan. Dia memang bertubuh besar, tetapi dia pengecut.” Rocio tersenyum menggoda pada Becker. “Jangan khawatir, dia tidak bisa bahasa Spanyol sepatah kata pun.”

Becker mengernyit dan kembali teringat pada memar pada dada Tankado. “Apakah paramedis memberikan pernapasan buatan?”

“Saya tidak tahu. Seperti yang saya katakan tadi, kami pergi sebelum mereka tiba.”

“Maksud Anda, setelah Anda mencuri cincin itu?” Becker merengut.

Rocio memelototinya. “Kami tidak mencuri cincin itu. Pria itu sekarat. Maksudnya jelas. Kami hanya mengabulkan permintaan terakhirnya.”

Becker melunak. Rocio benar. Dia sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama. “Tetapi kemudian Anda memberikan cincin itu kepada seorang gadis?”

“Seperti yang sudah saya katakan tadi. Cincin itu membuat saya gelisah. Gadis itu memakai banyak perhiasan. Saya pikir dia mungkin akan menyukainya.”

“Dan dia tidak menganggap hal itu aneh? Bahwa Anda begitu saja memberikan sebuah cincin kepadanya?”

“Tidak. Saya memberitahukan kepadanya bahwa saya menemukannya di taman. Kupikir dia akan memberi saya uang, tetapi ternyata tidak. Saya tidak peduli. Saya hanya ingin menyingkirkan cincin itu.” “Kapan Anda memberikannya?”

Rocio mengangkat bahunya. “Sore tadi. Kira-kira satu jam setelah saya mendapatkannya.”

Becker memeriksa jam tangannya: 11:48 malam. Jejak itu sudah berumur delapan jam. Apa yang sedang aku lakukan di sini? Aku seharusnya berada di Smokys sekarang. Becker mendesah dan mengajukan satu-satunya pertanyaan yang ada di kepalanya. “Bagaimana tampang gadis itu?”

“Era un punqui,” jawab Rocio.

Becker menatapnya bingung. “Un punqui?”

“Si. Punqui.”

“Seorang punk?”

“Ya, seorang punk,” jawab Rocio dalam bahasa Inggris yang buruk dan kemudian beralih ke bahasa Spanyol. “Mucha joyena. Banyak perhiasan. Anting aneh pada satu telinga. Sebuah tengkorak, kurasa.”

“Ada punk rocker di Seuilla?”

Rocio tersenyum. “Todo bajo el sol. Apa pun yang ada di muka bumi ada di sini.” Itu semboyan Biro Pariwisata Seuilla.

“Apakah dia mengatakan namanya?” “Tidak.”

“Dia bilang akan ke mana?”

“Tidak. Bahasa Spanyolnya buruk.”

“Dia bukan orang Spanyol?” tanya Becker.

“Tidak. Dia orang Inggris kurasa. Dia mempunyai rambut yang nyentrik—merah, putih, dan biru.”

Becker bergidik membayangkan tampangnya. “Mungkin dia orang Amerika,” kata Becker.

“Saya rasa bukan,” kata Rocio. “Dia mengenakan sebuah kaus yang kelihatan seperti bendera Inggris.”

Becker mengangguk dengan gaya dungu. “Baiklah. Rambut merah, putih, dan biru, sebuah kaus bermotif bendera Inggris, sebuah anting tengkorak di telinga. Apa lagi?”

“Tidak ada. Hanya seorang punk biasa.”

Punk biasa? Becker berasal dan dunia yang penuh dengan baju hangat khas para mahasiswa dan potongan rambut yang konservatif. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang Rocio katakan. “Bisakah kau mengingat hal lainnya?”

Rocio berpikir sesaat. “Tidak. Itu saja.”

Tepat saat itu, tempat tidur berderak. Klien Rocio menggeser badannya dengan susah payah. Becker berpaling padanya dan berbicara dalam bahasa Jerman yang lancar. “Noch etwas? Ada lagi yang lain? Apa pun yang bisa membantuku menemukan punk rocker dengan cincin itu?”

Semua terdiam cukup lama. Pria raksasa itu seolah-olah hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak yakin bagaimana mengatakannya. Bibir bawahnya bergerak sesaat, berhenti, dan kemudian akhirnya dia berbicara. Keempat kata yang keluar sebenarnya bahasa Inggris, tetapi tidak bisa dimengerti karena aksen Jermannya sangat kental. “Onyah sana dan mampuslah.”

Becker menganga karena kaget. “Maaf?”

“Onyah sana dan mampuslah,” ulang pria itu sambil menepuk bagian bawah lengan kanannya yang berdaging itu, gerakan yang berarti ‘bangsat kau’ bagi orang Italia.

Becker terlampau letih untuk merasa tersinggung. Enyah sana dan mampuslah? Ada apa dengan si pengecut ini? Dia berbahk ke Rocio dan berbicara dalam bahasa Spanyol. “Sepertinya saya sudah terlalu lama di sini.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.