Baca Novel Online

Digital Fortress

Numataka keluar dari ruang kantornya dan belok ke kiri, ke arah lorong utama Numatech. Para karyawan membungkuk dengan hormat saat dia lewat. Numataka tahu bahwa mereka sama sekali tidak mencintainya. Membungkuk adalah sopan santun yang ditunjukkan oleh para karyawan Jepang, bahkan kepada atasan yang paling bengis sekalipun.

Numataka langsung menuju ke bagian switchboard utama perusahaan itu. Semua sambungan telepon ditangani sendiri oleh seorang operator dengan menggunakan Corenco 2000,sebuah terminal switchboard dengan dua belas sambungan. Wanita yang sedang sibuk bertugas sendiri itu langsung berdiri dan membungkuk saat Numataka masuk.

“Duduk,” bentak Numataka.

Wanita itu menurut.

“Saya menerima sebuah telepon jam 4:45 pada sambungan pribadiku tadi. Kau bisa memberitahuku dan mana asalnya?” Numataka menyalahkan dirinya karena tidak melakukan hal ini sebelumnya.

Operator itu menelan ludah dengan gugup. “Kita tidak memiliki fasilitas pembaca nomor yang masuk pada mesin ini, Pak. Tetapi saya bisa menghubungi perusahaan telepon. Saya yakin mereka dapat membantu.”

Numataka yakin, perusahaan telepon bisa membantu. Dalam zaman digital ini, privasi telah menjadi barang usang. Selalu ada catatan untuk setiap hal. Perusahaan-perusahaan telepon dapat dengan tepat memberikan informasi tentang siapa yang telah kita hubungi dan berapa lama kita telah berbicara.

“Lakukanlah,” perintah Numataka. “Beri tahu aku jika sudah dapat hasilnya.”

***

34

SUSAN DUDUK sendiri di dalam Node 3 sambil menunggu pelacaknya. Hale telah memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar—sebuah keputusan yang disyukuri Susan. Anehnya, kesendiriannya di dalam Node 3 tidak memberinya ketenangan. Pikirannya berkutat dengan hubungan antara Tankado dan Hale.

“Siapa yang mengawasi pengawas?” kata Susan pada diri sendiri. Quis cus-todiet ipsos custodes. Kata-kata itu tetap berputar-putar di dalam kepalanya. Dia berusaha mengenyahkan itu dari pikirannya.

Pikirannya kembali pada David, sambil berharap agar kekasihnya itu baik-baik saja. Dia masih sulit percaya bahwa David berada di Spanyol. Semakin cepat mereka menemukan kedua kunci sandi itu dan mengakhiri semua kehebohan ini, semakin baik buat mereka.

Susan sudah tidak ingat lagi berapa lama dia duduk di sana dan menunggu pelacaknya. Dua jam? Tiga? Dia melihat keluar, ke lantai Crypto yang kosong, dan berharap komputernya berbunyi bip. Tetapi yang ada hanya kesunyian. Matahari akhir musim panas telah tenggelam. Di atasnya, lampu-lampu neon otomatis telah menyala penuh. Susan merasa kehabisan waktu.

Susan menatap pelacaknya dan mengernyit. “Ayolah,” gumamnya. “Kau telah banyak menghabiskan waktu.” Dia memegang mouse komputernya dan mengekhk tampilan status pelacaknya. “Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau bekerja?”

Susan membuka tampilan status pelacaknya. Bentuknya terlihat seperti sebuah jam digital seperti yang ada pada TRANSLTR. Tampilan itu menunjukkan berapa jam dan menit pelacaknya telah bekerja. Jadi Susan menatap monitornya sambil berharap melihat tampilan jam dan menit. Tetapi dia tidak melihat hal itu sama sekali. Apa yang dilihatnya menghentikan aliran darahnya.

PELACAK DIGUGURKAN

“Pelacak digugurkan!” Susan tersedak keras. “Kenapa?”

Dengan panik, kriptografer kepala itu memeriksa seluruh data untuk mencari setiap perintah yang menggugurkan pelacaknya. Tetapi pencariannya sia-sia. Kelihatannya, pelacaknya berhenti sendiri. Susan tahu, hal itu hanya berarti satu hal— pelacaknya terkena bug.

Susan menganggap “bug” sebagai sebuah aset yang paling penyebalkan dalam program komputer. Karena computer mengikuti secara tepat setiap urutan operasi, maka kesalahan program terkecil bisa menimbulkan akibat yang parah. Kesalahan sintaksis sederhana—seperti jika seorang pemrogram secara lalai menyelipkan sebuah koma dan bukannya titik—dapat membuat seluruh sistem menjadi lumpuh. Tetapi Susan selalu menganggap istilah bug mempunyai asal-usul yang menarik.

Istilah tersebut berasal dan komputer pertama di dunia—Mark 1—sebuah sirkuit elektromekanis sebesar ruangan yang dibuat pada 1944 di sebuah laboratorium di Universitas Harvard. Pada suatu hari, komputer itu mengalami gangguan dan tidak ada yang bisa menemukan penyebabnya. Setelah mencari selama berhari-hari, seorang asisten laboratorium akhirnya menemukan penyebabnya. Ternyata seekor ngegat telah hinggap di salah satu papan sirkuit computer itu dan menghambat kerjanya. Sejak saat itu, semua gangguan program komputer disebut bug (serangga).

“Aku tidak punya waktu untuk ini,” kutuk Susan.

Menemukan bug dalam sebuah program komputer bias memakan waktu berhari-hari. Ribuan baris kalimat program harus diperiksa apakah ada kesalahan kecil di dalamnya—ini sama saja dengan memeriksa apakah ada sebuah kesalahan ketik dalam sebuah ensiklopedi.

Susan sadar bahwa dirinya hanya mempunyai satu pilihan—mengirim pelacak sekali lagi. Dia juga tahu, pelacaknya hampir pasti akan menghadapi bug yang sama dan gugur lagi. Membuang bug dan pelacaknya akan memakan waktu, padahal dia dan sang komandan tidak memilikinya.

Tetapi saat Susan menatap pelacaknya sambil berpikir tentang kesalahan yang mungkin dibuatnya, dia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak masuk akal. Bulan lalu dia telah menggunakan pelacak yang sama persis tanpa ada masalah sama sekali. Kenapa tiba-tiba sekarang bermasalah?

Sambil berpikir, Susan teringat komentar Strathmore siang tadi. Susan, aku telah berusaha sendiri untuk mengirimkan sebuah salinan program pelacak, tetapi data yang kembali tidak masuk akal.

Susan mendengar kata-kata itu berulang kali. Data yang kembali ….

Dia menggelengkan kepalanya. Apakah mungkin? Data yang kembali?

Jika Strathmore menerima data yang kembali dan program pelacak, maka jelas pelacak itu berfungsi dengan baik. Susan berasumsi, jika data itu tidak masuk akal, maka Strathmoretelah memasukkan rentetan perintah pencarian yang salah. Tetapi walau bagaimanapun, pelacak itu berfungsi.

Susan segera menyadari bahwa ada satu hal lagi yang bisa menjelaskan kenapa pelacaknya gugur. Cacat internal pada program bukanlah satu-satunya alasan kenapa suatu program bermasalah. Kadang-kadang ada penyebab dan luar—aliran listrik, butiran debu yang menempel pada papan sirkuit, atau pemasangan kabel yang salah. Karena peranti keras di dalam Node 3 terpelihara dengan baik, Susan bahkan tidak pernah mempertimbangkan hal itu.

Susan berdiri dan bergegas menyeberangi Node 3 menuju sebuah rak buku besar berisi buku-buku petunjuk teknis. Dia mengambil satu buku berkawat spiral yang berjudul SVS-OP dan membukanya. Dia menemukan apa yang dicarinya. Dia membawa buku itu ke komputernya dan mengetik beberapa perintah. Kemudian dia menunggu saat komputernya memeriksa daftar perintah yang dimasukkan selama tiga jam terakhir. Susan berharap hasil pemeriksaan akan menunjukkan sebuah gangguan internal—program gugur akibat penyaluran listrik yang bermasalah atau sebuah cip yang rusak.

Beberapa saat kemudian, komputernya berbunyi bip. Detak nadi Susan menjadi cepat. Dia menahan napas dan memerhatikan layarnya.

KODE KESALAHAN: 22

Susan merasa ada sedikit harapan. Ini berita baik. Hasil pemeriksaan yang menunjukkan sebuah kode kesalahan merupakan bukti bahwa pelacaknya tidak bermasalah. Pelacak itu gugur karena kejanggalan yang ditimbulkan oleh faktor

dan luar, dan kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi lagi.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.