Baca Novel Online

Digital Fortress

“Kau benar—kita memang seharusnya bisa melakukan hal tersebut!” Suara Susan tiba-tiba menjadi keras. “Jika kau tidak menyingkap celah pada Skipjack, kita pasti memiliki akses ke setiap kode yang hendak kita pecahkan, tidak hanya yang bisa ditangani TRANSLTR saja.”

“Jika aku tidak menemukan celah itu,” debat Hale, “seseorang pasti akan melakukannya. Aku menyelamatkan kalian dengan cara menyingkapnya. Bisa kaubayangkan akibatnya jika Skipjack sudah beredar ketika berita itu tersiar?”

“Biar bagaimanapun,” balas Susan, “sekarang kita memiliki EFF yang ketakutan dan berpikir kita menambahkan celah pada semua alogaritma kita!”

Hale bertanya dengan pongah, “Bukannya memang begitu?”

Susan menatap Hale dengan dingin.

“Hei,” kata Hale, tidak ingin membuat masalah lebih lanjut, “bagaimanapun juga, sekarang masalah ini tidak perlu diperdebatkan. Kalian membuat TRANSLTR. Kalian mendapatkan sumber informasi yang instan. Kalian dapat membaca apa pun dan kapan pun—tidak ada pertanyaan yang diajukan. Kalian menang.”

“Kau tidak bermaksud mengatakan bahwa kita yang menang? Terakhir kudengar kau bekerja di NSA.”

“Tidak akan lama,” celoteh Hale.

“Jangan mengobral janji.”

“Aku serius. Suatu hari nanti aku akan keluar dan tempat ini.”

“Aku akan merasa hancur.”

Pada saat itu juga, Susan merasa sangat ingin mengutuk Hale atas segala kesalahan yang terjadi. Dia ingin mengutuk Hale karena Benteng Digital, karena permasalahan dirinya dengan David, karena dirinya tidak berada di Smoky Mountains sekarang—tetapi tidak satu pun dan hal-hal itu yang merupakan kesalahan Hale. Satu-satunya kesalahan Hale adalah bahwa dia menjengkelkan. Susan harus berjiwa lebih besar. Tanggung jawabnya sebagai kriptografer kepala adalah untuk menjaga kedamaian dan untuk mendidik. Hale masih muda dan lugu.

Susan menatap Hale. Ini benar-benar membuat frustrasi, pikirnya. Hale berbakat untuk menjadi aset di Crypto, tetapi dia tetap saja tidak mengerti apa yang telah dilakukan NSA.

“Greg,” kata Susan dengan suara tenang dan terkendali. “Hari ini aku mendapat banyak tekanan. Aku menjadi kesal karena kau berbicara tentang NSA seolah kita adalah sekumpulan tukang intip dengan teknologi canggih. Organisasi ini dibangun untuk satu tujuan—menjaga keamanan Negara ni. Hal itu termasuk mengguncang beberapa pohon dan engawasi beberapa apel busuk dan waktu ke waktu. Aku rasa, kebanyakan warga sipil akan dengan rela mengorbankan privasi mereka agar bisa yakin bahwa para penjahat tidak bisa bergerak tanpa diawasi.”

Hale tidak mengatakan apa-apa.

“Cepat atau lambat,” kata Susan, “orang-orang di negara ini harus yakin pada sesuatu. Ada banyak orang baik di luar sana—tetapi ada banyak juga orang jahat. Seseorang harus memiliki akses atas semua itu dan memisahkan yang baik dan yang buruk. Itulah tugas kita. Suka atau tidak, hanya ada sebuah batas rapuh yang memisahkan demokrasi dan anarki. NSA-lah yang mengawasi batas itu.”

Hale mengangguk dengan sungguh. “Quis custodiet ipsos custodes?”

Susan kelihatan bingung.

“Itu bahasa Latin,” kata Hale. “Dan Satir Juvenal. Artinya ‘Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?'”

“Aku tidak mengerti,” kata Susan. ‘”Siapa yang akan mengawasi sang pengawas?'”

“Ya. Jika kita pengawas masyarakat, lalu siapa yang mengawasi kita dan menjamin bahwa kita tidak berbahaya?”

Susan mengangguk, tidak yakin bagaimana harus menjawab.

Hale tersenyum. “Itu adalah cara Tankado menandatangani semua suratnya untukku. Itu peribahasa favoritnya.”

***

32

DAVID BECKER berdiri di lorong di luar kamar 301. Dia tahu bahwa di suatu tempat di balik pintu berhiaskan ukiran ini terdapat cincin itu. Masalah keamanan nasional.

Becker dapat mendengar gerakan di dalam kamar tersebut. Percakapan lirih. Sebuah suara dengan aksen Jerman yang kental berseru.

“Ja?”

Becker tetap diam.

Pintu itu berderak terbuka dan sebuah wajah Jerman yang bundar dan gemuk menatapnya.

Becker tersenyum sopan. Dia tidak tahu nama pria ini. “Deutscher, ja?” tanyanya. “Orang Jerman, kan?”

Pria itu kelihatan gelisah. “Was wollen Sie? Apa yang Anda inginkan?”

Becker sadar seharusnya dia berlatih dulu sebelum dengan lancang mengetuk pintu seorang asing. Dia mencari kata-kata yang pas. “Anda memiliki sesuatu yang saya butuhkan.”

Tampaknya ini bukanlah kata-kata yang tepat karena mata si Jerman mengecil.

“Ein nng,” kata Becker. “Du hast einen Ring. Anda memiliki sebuah cincin.”

“Pergi,” geram orang Jerman itu dan mulai menutup pintu. Tanpa berpikir, Becker menyelipkan kakinya di celah pintu dan menahan agar pintu itu tetap terbuka. Becker segera menyesali tindakannya.

Mata si Jerman membelalak. “Was tust du?” tanyanya. “Apa yang kaulakukan?”

Becker sadar bahwa dirinya terpojok. Dia melongok dengan gugup ke arah lorong. Dia telah diusir dan klinik. Dia tidak ingin hal yang sama terulang lagi.

“Nirnrn deinen Fu? weg !” teriak si Jerman. “Keluarkan kakimu!”

Becker memeriksa apakah ada cincin pada jan-jan yang gemuk-pendek itu. Tidak ada. Aku sudah begitu dekat, pikirnya. “Ein Ring !” ulang Becker saat pintu terbanting menutup.

DAVID BECKER berdiri lama di lorong yang ditata apik itu. Sebuah tiruan kafya Salvador Dah tergantung di dekatnya. “Pas,” erang Becker. Surealisme. Aku terperangkap dalam sebuah mimpi yang konyol. Dia terbangun pagi tadi di atas tempat tidurnya sendiri tetapi kemudian berakhir di Spanyol sambil mencoba mendobrak kamar hotel seorang asing untuk mencari sebuah cincin gaib.

Suara Strathmore yang tegas membawa Becker kembali pada dunia nyata: Kau harus menemukan cincin itu.

David menarik napas panjang dan mengenyahkan katakata itu. Dia ingin pulang. Dia kembali menatap pintu bertanda 301. Tiket pulangnya berada di balik pintu tersebut—sebuah cincin emas. Vang harus dilakukan adalah mengambilnya.

Becker menghela napas dengan keras. Kemudian dia melangkah kembali ke arah kamar 301 dan mengetuk dengan keras. Sudah saatnya bermain kasar.

SI JERMAN membuka pintu dan siap untuk protes, tetapi Becker menghentikannya. Becker menunjukkan kartu keanggotaan klub squash Maryland miliknya dengan cepat dan berteriak, “Pohzei!” Kemudian dia mendobrak masuk dan menyalakan lampu kamar itu.

Sambil berputar, si Jerman menyipit karena kaget. “Was machst-”

“Diam!” perintah Becker dalam bahasa Inggris. “Anda bersama seorang pelacur di kamar ini?” David melongok ke sekeliling ruangan. Kamar itu semewah kamar hotel lain yang pernah dilihatnya. Bunga-bunga mawar, sampanye, tempat tidur besar berkelambu. Rocio tidak kelihatan. Pintu kamar mandi tertutup.

“Prostituiert?” Si Jerman melihat ke arah pintu kamar mandi yang tertutup itu dengan gugup. Dia lebih besar dan yang dibayangkan Becker. Dadanya yang berbulu dimulai dan dagu lipat tiganya dan berlekuk turun ke arah perutnya yang besar. Ikat pinggang serut pada bagian pinggang mantel mandi berbahan handuk milik Alfonso XIII hampir tidak bisa melingkari pinggangnya.

Becker menatap raksasa itu dengan tampangnya yang paling garang. “Siapa namamu?”

Kepanikan tampak di wajah si Jerman yang gemuk itu. “Was wilst du? Apa yang kauinginkan?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.