Baca Novel Online

Digital Fortress

“Oh, begitu.” Strathmore menggumam sambil mempertimbangkan langkah selanjutnya. Setelah sesaat, dia memutuskan untuk tidak mengusik Hale. Dengan santai dia berbalik kepada Susan. “Ms. Fletcher, bisakah saya berbicara dengan Anda sebentar? Di iuar?”

Susan ragu-ragu. “Eh … ya, Pak.” Dia menatap monitornya dengan was-was dan kemudian ke arah Greg Hale di seberang ruangan. “Tunggu sebentar.”

Dengan beberapa ketikan cepat pada tuts keyboard, Susan mengaktifkan program penguncian layar, Screen-Lock. Program itu adalah sebuah alat pengaman. Setiap komputer di Node 3 dilengkapi dengan program ini. Karena terminal komputer menyala terus sepanjang waktu, ScreenLock memungkinkan para kriptografer meninggalkan pos mereka tanpa rasa takut ada yang akan mengutik-ngutik dokumen mereka. Susan memasukkan kode privasi sepanjang lima karakter dan layarnya berubah menjadi hitam. Layar itu akan tetap seperti itu sampai dia kembali dan mengetikkan kelima karakter itu dengan urutan yang sesuai.

Kemudian Susan memakai sepatunya dan mengikuti sang komandan keluar.

“APA YANG dilakukan dia di sini?” tanya Strathmore begitu mereka berada di luar Node 3.

“Seperti biasanya,” jawab Susan. “Tidak melakukan apaapa.”

Strathmore tampak khawatir. “Dia menyebut-nyebut soal TRANSLTR?”

“Tidak. Tetapi jika dia mengakses Run-Monitor dan melihat tampilannya yang menunjukkan waktu tujuh belas jam, dia pasti akan mengatakan sesuatu.”

Strathmore mempertimbangkan hal itu. “Tidak ada alas an baginya untuk mengaksesnya.”

Susan melirik sang komandan. “Anda ingin menyuruhnya pulang?”

“Tidak. Kita biarkan saja.” Strathmore melongok ke dalam kantor Sys-Sec. “Apakah Chartrukian telah pulang?”

“Saya tidak tahu. Saya belum melihatnya lagi.”

“Oh, Tuhan.” Strathmore mengerang. “Ini sebuah sirkus.” Strathmore meraba janggut pendeknya yang mulai tumbuh dalam waktu 36 jam terakhir. “Ada kabar dari pelacak? Aku merasa hanya duduk bengong di atas.”

“Belum. Ada berita dari David?”

Strathmore menggelengkan kepalanya. “Aku memintanya untuk tidak menghubungiku sampai dia mendapatkan cincin itu.”

Susan kelihatan terkejut. “Kenapa jangan? Bagaimana jika dia membutuhkan bantuan?”

Strathmore mengangkat bahunya. “Aku tidak bisa membantunya dari sini—dia berjuang sendiri. Lagi pula, aku memilih untuk tidak berbicara pada sambungan yang tidak aman, untuk berjaga-jaga jika ada yang mencuri dengar.”

Mata Susan membesar karena khawatir. “Apa maksudnya itu?”

Strathmore segera merasa bersalah. Dia tersenyum pada Susan untuk membesarkan hatinya. “David baik-baik saja. Aku hanya berhati-hati.”

TIGA PULUH kaki dari pembicaraan mereka, tersembunyi

di balik kaca satu arah Node 3, Greg Hale berdiri di depan komputer Susan. Layarnya hitam. Hale melihat keluar ke arah sang komandan dan Susan. Kemudian dia meraih dompetnya, mengeluarkan sebuah kartu petunjuk kecil dan membacanya.

Setelah memeriksa ulang bahwa sang komandan dan Susan masih berbicara, Hale dengan hati-hati mengetik lima karakter pada komputer Susan. Satu detik kemudian, monitornya kembali menyala.

“Bingo.” Hale terkekeh.

Mencuri kode-kode privasi Node 3 tidaklah rumit. Di dalam Node 3, semua komputer memiliki keyboard identik yang dapat dilepas. Hale membawa pulang keyboard miliknya pada suatu malam dan memasang sebuah cip yang dapat merekam setiap ketukan tuts pada keyboard. Kemudian dia datang lebih awal, menukar keyboard-nya dengan yang lain, lalu menunggu. Sore harinya, dia menukar kembali keyboardnya dan melihat semua data yang terekam di dalam cip itu. Walaupun ada ribuan ketukan tuts untuk diperiksa, menemukan kode akses adalah hal yang sederhana. Hal pertama yang dilakukan oleh para kriptografer setiap pagi adalah mengetikkan kode privasi untuk membuka komputer mereka. Ini, tentunya, membuat usaha Hale menjadi mudah karena kode privasi selalu merupakan lima karakter pertama yang muncul di daftar.

Ini ironis, pikir Hale sambil melihat ke dalam monitor Susan. Dia mencuri kode-kode privasi hanya karena iseng. Sekarang dia senang telah melakukan itu. Program pada layer Susan kelihatannya penting.

Hale memikirkannya sejenak. Program itu ditulis dalam LIMBO—bukan salah satu keahlian Hale. Walaupun begitu, hanya dengan melihatnya, Hale bisa mengatakan satu hal dengan pasti—ini bukan tes diagnostik. Dia hanya memahami dua kata. Tapi dua kata itu sudah cukup.

PELACAK MENCARI …

“Pelacak?” ucap Hale lantang. “Mencari apa?” Tiba-tiba Hale merasa gelisah. Dia duduk sebentar sambil mempelajari layar Susan. Kemudian dia membuat keputusan.

Hale cukup mengerti bahasa pemrograman LIMBO untuk mengetahui bahwa bahasa itu banyak meniru dua jenis bahasa lainnya—C dan Pascal—keduanya dikuasai Hale dengan baik. Setelah mendongak untuk memastikan bahwa Strathmore dan Susan masih berbicara di luar, Hale berimprovisasi. Dia memasukkan beberapa perintah yang dimodifikasi dalam bahasa Pascal dan menekan ENTER. Tampilan status pelacak merespons persis seperti yang diharapkannya.

PELACAK DIGUGURKAN? Dengan cepat Hale mengetik: YA

APAKAH ANDA YAKIN? Kembali Hale mengetik: YA

Setelah beberapa saat, komputer itu berbunyi bip.

PELACAK DIGUGURKAN.

Hale tersenyum. Komputer itu baru saja mengirimkan pesan kepada pelacak Susan untuk menghancurkan dirinya lebih dini. Apa pun yang perempuan itu cari akan harus menunggu.

Berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak, Hale dengan ahlinya mencari catatan kegiatan sistem komputer dan menghapus semua perintah yang baru saja diketiknya. Kemudian dia memasukkan kembali kode privasi Susan.

Monitor itu menjadi hitam.

Ketika Susan Fletcher kembali ke Node 3, Greg Hale sedang duduk dengan tenang di depan komputernya.

***

30

ALFONSO XIII adalah sebuah hotel kecil berbintang empat di luar Puerta de Jerez dan dikelilingi oleh pagar besi tempa yang kuat serta bunga-bunga lila. Becker menaiki anak tangga marmer hotel itu. Ketika dia mencapai pintu, daun pintunya itu terbuka secara ajaib dan seorang pelayan hotel menggiringnya masuk.

“Bawaan Anda, Senor? Bisa saya bantu?”

“Tidak, terima kasih. Saya ingin bertemu dengan petugas hotel.”

Pelayan itu kelihatan tersinggung. Seolaholah sesuatu dalam pertemuan dua detik itu tidak memuaskan. “Por aqui, senor.” Dia membawa Becker ke lobi, menunjuk kepada seorang petugas hotel, dan segera pergi.

Lobi itu sangat indah. Kecil dan tertata dengan elegan. Era keemasan Spanyol telah lama berlalu, tetapi untuk sesaat di sekitar tahun 1600-an, negara kecil ini sempat menguasai dunia. Ruangan kecil ini dengan bangga dapat mengingatkan orang pada zaman itu—baju-baju zirah, lempengan-lempengan khas militer yang berukir, dan sebuah kotak pajangan berisi batangan ernas dan Dunia Baru (daerah jajahan Spanyol di Amerika Utara dan Selatan).

Di belakang meja dengan tanda CONSEPJE berdiri seorang pria berdandan rapi yang tersenyum begitu lebar seolaholah dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani. “En que puedo seruirle, senor? Bagaimana saya dapat membantu Anda?” Dia berbicara dengan sedikit telor dan memandang Becker dan ujung kepala sampai ujung kaki.

Becker menjawab dalam bahasa Spanyol. “Saya perlu berbicara dengan Manuel.”

Wajah pria yang berwarna cokelat itu tersenyum semakin lebar. “Si, si, senor. Saya Manuel. Apa yang Anda butuhkan?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.