Baca Novel Online

Digital Fortress

“Maksudmu, simbol-simbol ini memiliki lebih dari satu makna?”

Becker mengangguk. Dia menjelaskan bahwa Kanji adalah sistem penulisan dalam bahasa Jepang yang berasal dari karakter tulisan Cina yang dimodifikasi. Sejauh ini dia telah memberikan terjemahan dari bahasa Mandarin karena memang itulah yang diminta oleh para kriptografer.

“Oh, Tuhan.” Morante terbatuk. “Mari kita coba Kanji.”

Bagaikan sulap, segalanya cocok.

Para kriptografer benar-benar tercengang, tetapi mereka tetap meminta Becker untuk menerjemahkan karakter-karakter tersebut secara acak. “Untuk keamanan Anda sendiri,” kata Morante. “Dengan begini, Anda tidak tahu apa yang sedang Anda terjemahkan.”

Becker tertawa, namun kemudian dia sadar kalau yang lainnya tidak ikut tertawa.

Setelah sandi itu akhirnya terpecahkan, Becker tidak tahu rahasia apa yang telah dia bantu pecahkan, tetapi satu hal sudah pasti—NSA benar-benar menganggap serius pemecahan sandi tersebut; karena cek di dalam kantongnya lebih banyak dari gaji sebulannya di universitas.

Ketika Becker keluar melalui serangkaian pos pemeriksaan di koridor utama, jalan keluarnya dihalangi oleh seorang penjaga yang baru saja menaruh gagang telepon. “Mr. Becker, tolong tunggu sebentar.”

“Ada masalah apa?” Becker tidak menyangka pertemuan ini memakan waktu lama, dan sekarang dia akan terlambat untuk pertandingan squash Sabtu sore.

Si penjaga mengangkat bahunya. “Ibu pimpinan Cryp-to ingin berbicara dengan Anda. Beliau sedang menuju kemari.”

“Ibu?” Becker tertawa. Dia belum melihat seorang wanita pun di dalam gedung NSA.

“Apakah itu masalah bagi Anda?” tanya sebuah suara wanita dari arah belakangnya.

Becker berbalik dan segera merasa dirinya bersemu merah. Dia melihat kartu pengenal pada blus wanita tersebut. Kepala Divisi Kriptografi NSA bukan seorang wanita, tetapi seorang wanita yang sangat menawan.

“Tidak,” jawab Becker tergagap. “Saya hanya

“Susan Fletcher.” Wanita tersebut tersenyum dan menjulurkan tangannya yang ramping.

Becker menyambutnya. “David Becker.”

“Selamat, Mr. Becker. Saya dengar Anda telah melakukan pekerjaan Anda dengan baik hari ini. Bisakah saya berbincang-bincang tentang hal itu dengan Anda?”

Becker ragu-ragu. “Sebenarnya, sekarang saya agak terburu-buru.” Becker berharap menolak agensi intelijen terkuat di dunia bukanlah sebuah perbuatan bodoh, tetapi pertandingan squashnya akan dimulai 45 menit lagi. Dan dia memiliki reputasi yang harus dipertahankan. David Becker tidak pernah terlambat untuk squash … terlambat untuk mengajar mungkin, tetapi tidak pernah untuk squash

“Hanya sebentar saja kok.” Susan tersenyum. “Mari lewat sini.”

Sepuluh menit kemudian, Becker berada di ruang makan NSA sambil menikmati kue dan jus cranberry bersama kepala bagian kriptografi NSA yang cantik, Susan Fletcher. David segera menyadari bahwa pemegang posisi atas di NSA yang berusia 38 tahun ini bukan orang sembarangan—Susan adalah salah satu wanita tercerdas yang pernah ditemuinya. Ketika mereka berdua mendiskusikan berbagai macam sandi dan pemecahannya, Becker merasa keteteran—ini pengalaman baru yang menarik baginya.

Satu jam kemudian, setelah Becker kehilangan kesempatan bertanding squash dan Susan secara terang-terangan mengabaikan tiga panggilan interkom, keduanya tertawa terbahakbahak. Mereka adalah dua manusia cerdas dengan kemampuan analisis tinggi yang seharusnya kebal terhadap perasaan jatuh cinta yang tidak masuk akal. Namun, ketika mereka duduk sambil membahas morfologi linguistik dan generator pengacak angka semu, mereka merasa seperti sepasang mudamudi—segalanya terasa meledak-ledak.

Susan tidak pernah mengungkapkan alasan sebenarnya kenapa dia ingin berbicara dengan David Becker— yaitu menawarkan pada pria itu sebuah posisi percobaan di bagian Divisi Kriptografi Asiatik. Dilihat dari gaya bicara Becker yang menggebu-gebu tentang mengajar, sudah jelas sang profesor muda itu tidak akan meninggalkan universitas. Susan memutuskan untuk tidak merusak suasana dengan membicarakan bisnis. Dia merasa seperti seorang gadis sekolah lagi. Tidak ada yang boleh merusaknya. Dan memang tidak ada.

MASA PACARAN mereka berjalan perlahan dan romantis. Mereka sering kali mencuri-curi waktu untuk bertemu jika jadwal mereka mengizinkan—berjalan-jalan di sekitar kampus Georgetown, minum cappuccino malam-malam di Mer-lutti’s, atau sesekali menghadiri kuliah dan konser. Susan mendapati dirinya tertawa lebih sering daripada yang dia kira. Kelihatannya tidak ada hal yang tidak bisa dijadikan lelucon oleh David. Bagi Susan, ini menjadi pelepasan yang menyenangkan dari tekanan pekerjaannya di NSA.

Pada suatu senja yang dingin di musim gugur, mereka duduk di bangku panjang di stadion dan menyaksikan regu sepak bola Georgetown dihajar oleh regu Rutgers.

“Kau pernah mengatakan suka olahraga apa? Zucchini?”

(Zucchini adalah sejenis timun.)

Becker mengerang. “Namanya squash.”

(Squash bisa juga berarti sejenis labu.)

Susan menatapnya bingung.

“Permainannya seperti zucchini,” ledek David, “tetapi lapangannya lebih kecil.”

Susan mendorong Becker.

Pemain kiri Georgetown melakukan tendangan pojok yang melewati garis dan serentak para penonton berteriak kecewa. Barisan pertahanan pun segera kembali ke tengah lapangan.

“Bagaimana dengan kau?” tanya Becker. “Olahraga

apa?”

“Aku pemegang sabuk hitam dalam StairMaster.”

Becker mengernyit. “Aku lebih suka olahraga yang bisa aku menangkan.”

Susan tersenyum. “Dasar tidak mau kalah.” Bintang pertahanan Georgetown sedang menghadang sebuah tendangan, dan terdengar sorakan ramai dari penonton. Susan mencondongkan badannya ke depan dan berbisik di telinga David. “Dokter.”

Davis menoleh dan menatap Susan dengan bingung. “Dokter,” ulang Susan. “Katakan hal pertama yang melintas di benakmu.”

David terlihat ragu-ragu. “Permainan kata?” “Ini prosedur standar NSA. Aku harus tahu dengan siapa aku bersama.” Susan menatap Becker dengan tegas. “Dokter.”

Becker mengangkat bahunya. “Seuss.”

(Seuss adalah tokoh dokter dalam komik anak-anak.)

Susan menatap Becker dengan dahi berkerut. “Baiklah, sekarang coba yang ini … ‘dapur.'”

David menjawab tanpa ragu, “Kamar tidur.”

Susan mengangkat alisnya malu, “Baiklah, bagaimana dengan yang ini … ‘cat (kucing).'”

“Gut (usus),” Becker menyerang balik.

“Gut?”

“Ya, Catgut. Jenis senar raket squash unggulan.”

“Lucu sekali.” Susan mengerang.

“Jadi, diagnosismu apa?” tanya Becker.

Susan berpikir sejenak. “Kau adalah setan squash kekanakkanakan yang kecewa dalam hal seks.”

Becker kembali mengangkat bahunya. “Kedengarannya benar.”

HUBUNGAN MEREKA berlangsung seperti itu selama berminggu-minggu. Pada saat menikmati hidangan pencuci mulut makan malam, Becker biasanya bertanya macam ma-cam.

Di mana Susan belajar matematika?

Bagaimana Susan bisa bergabung dengan NSA?

Bagaiman Susan bisa begitu menarik?

Susan bersemu merah dan mengakui kalau dirinya tumbuh dewasa agak terlambat. Dia dulu sangat tinggi ceking dan canggung serta mengenakan kawat gigi sampai menjelang akhir masa remajanya. Dia bercerita bahwa bibinya yang bernama Clara pernah berkata bahwa Tuhan memberi Susan sebuah otak yang cerdas sebagai permintaan maaf atas tampangnya yang pas-pasan. Suatu penyesalan yang terlalu dini, pikir Becker.

Susan menjelaskan bahwa dia mulai tertarik pada bidang kriptografi saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Seorang anak laki-laki tinggi bernama Frank Gutmann, yang menjadi ketua klub komputer, memberi Susan sebuah puisicinta yang diketik dalam bentuk sandi dengan pola penggantian angka. Susan memohon pada Frank untuk memberitahukan isi puisi itu, tetapi Frank menolak dengan genit. Susan membawa pulang puisi itu dan mencoba memecahkannya di bawah lampu senter sambil bergadang sampai akhirnya dia berhasil. Setiap angka mewakili sebuah abjad. Dengan hati-hati, Susan menguraikan puisi itu dan dengan perasaan takjub menyaksikan angka-angka acak tersebut berubah dengan ajaib menjadi sebuah puisi indah. Pada saat itu juga, Susan sadar dirinya telah jatuh cinta. Sandi dan kriptografi akan menjadi hidupnya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.