Baca Novel Online

Digital Fortress

Suara itu ragu-ragu. “Saya tidak tahu. Mungkin sebaiknya saya-”

“Jangan terburu-buru, Kawan. Saya malu untuk mengakui kalau polisi di Sevilla tidak selalu secekatan polisi—polisi di daerah utara. Akan makan waktu berhari-hari sebelum paspor ini kembali ke pemiliknya. Jika Anda memberi tahu saya namanya, saya akan memastikan dia mendapatkan kembali paspornya sesegera mungkin.”

“Vah, baiklah … saya rasa tidak ada salahnya Terdengar suara gesekan kertas, lalu suara itu kembali. “Ini sebuah nama Jerman. Saya tidak bias mengucapkannya … Gusta … Gustafson?”

Roldan tidak mengenali nama itu, tetapi dia memiliki klien dan seluruh dunia. Mereka tidak pernah meninggalkan nama mereka yang sebenarnya. “Tampangnya seperti apa—di foto? Mungkin saya bisa mengenalinya.”

“Yah …/’jawab suara itu. “Wajahnya sangat, sangat gemuk.”

Roldan segera tahu. Dia ingat betul wajah gembrot itu. Dia adalah pria yang bersama Rocio. Aneh, pikir Roldan, mendapat dua telepon tentang si Jerman itu dalam semalam.

“Mr. Gustafson?” Roldan memaksakan sebuah tawa. “Tentu saja! Saya mengenalnya dengan baik. Jika Anda mengantarkan paspor itu kemari, saya akan memastikan dia mendapatkannya kembali.”

“Saya sedang ada di pusat kota dan saya tidak mempunyai mobil,” sela suara itu. “Mungkin Anda bisa dating kemari?”

“Sebenarnya,” potong Roldan, “saya tidak bisa meninggalkan telepon. Tetapi jaraknya tidak terlalu jauh, jika-”

“Maaf, tetapi ini sudah terlalu larut untuk berkeliaran di luar. Ada sebuah kantor Guardia di dekat sini. Saya akan meninggalkan paspor ini di sana, dan jika Anda bertemu dengan Mr. Gustafson, Anda dapat memberitahukan di mana paspornya.”

“Jangan, tunggu!” seru Roldan. “Tidak perlu melibatkan polisi. Anda tadi bilang di pusat kota, bukan? Anda tahu Hotel Alfonso XIII. Hotel itu adalah salah satu yang terbaik di kota ini.”

“Ya,” kata suara itu. “Saya tahu Alfonso XIII. Cukup dekat.”

“Bagus! Mr. Gustafson adalah tamu di sana malam ini. Mungkin dia sedang berada di sana sekarang.”

Suara itu ragu-ragu. “Oh begitu. Baiklah … saya rasa itu bukan masalah.”

“Bagus sekali! Pasti dia sedang makan malam dengan seorang gadis pendamping kami di restoran hotel.” Roldan tahu mereka mungkin sekarang berada di tempat tidur. Tetapi Roldan harus berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan si penelepon. “Tinggalkan saja paspor itu pada petugas hotel, namanya Manuel. Katakan padanya bahwa saya yang mengutus Anda. Suruh dia memberikan paspor itu pada Rocio. Rocio adalah teman kencan Mr. Gustafson malam ini. Dia akan memastikan paspor itu dikembalikan. Anda mungkin ingin menyelipkan nama dan alamat Anda di dalamnya— mungkin Mr. Gustafson akan mengirimkan sedikit tanda terima kasih.”

“Usul yang bagus. Alfonso XIII. Baiklah, saya akan mengantarkannya ke sana sekarang. Terima kasih atas bantuan Anda.”

DAVID BECKER menutup telepon itu. “Alfonso XIII.” Dia terkekeh. “Hanya perlu tahu bagaimana menanyakannya.”

Beberapa saat kemudian, sesosok bisu mengikuti Becker di sepanjang Calle Dehcias dalam malam Andalusia yang temaram.

***

29

SUSAN, YANG masih kesal akan pertemuannya dengan Hale, menatap keluar melalui kaca satu arah Node 3. Lantai Crypto tampak kosong. Hale sudah terdiam lagi karena mendongkol. Susan berharap Hale akan segera pergi.

Susan bertanya-tanya apakah perlu menghubungi Strathmore. Sang komandan akan mengusir Hale—lagi pula, ini hari Sabtu. Walaupun begitu, Susan sadar bahwa jika Hale diusir, pria tersebut akan segera curiga. Begitu keluar, dia akan memanggil para kriptografer lain untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Susan memutuskan lebih baik membiarkannya di sana. Pria itu akan pergi sendiri.

Sebuah alogaritma yang tidak bisa dipecahkan. Susan mendesah. Pikirannya kembali pada Benteng Digital. Dirinya masih tak percaya kalau alogaritma seperti itu dapat dibuat—tetapi, buktinya ada di depan mata. Tampaknya TRANSLTR tidak berdaya dibuatnya.

Susan memikirkan Strathmore yang dengan tangguh memikul beban berat ini di pundaknya. Strathmore melaksanakan segala hal yang harus dilakukan dan tetap tenang menghadapi semua ini.

Kadang-kadang Susan menemukan David dalam diri Strathmore. Mereka memiliki banyak kelebihan yang sama —kegigihan, pengabdian, dan kecerdasan. Terkadang Susan merasa Strathmore akan kehilangan arah tanpa dirinya. Kemurnian cintanya akan kriptografi adalah sebuah nadi kehidupan bagi Strathmore, karena itu menyelamatkan sang komandan dari lautan politik yang bergolak dan mengingatkannya kembali akan masa mudanya dulu sebagai pemecah kode.

Susan juga bergantung pada Strathmore sebagai tempatnya berteduh di dalam dunia yang penuh dengan orang-orang yang haus kekuasaan. Strathmore membangun kariernya, melindunginya, dan, sebagaimana sering dijadikan bahan canda, juga mewujudkan mimpi-mimpinya. Memang ada benarnya, pikir Susan. Mungkin secara kebetulan sang komandan adalah orang yang telah membuat David Becker datang ke NSA pada sore yang bersejarah itu. Pikiran Susan kembali bergulirpada David, dan matanya secara naluriah beralih ke sebuah papan di dekat keyboard-nya. Ada selembar faksimili tertempel di sana.

Faksimili itu sudah berada di sana selama tujuh bulan. Itu adalah satu-satunya sandi yang belum dia pecahkan. Sandi itu dari David. Susan membaca sandi itu untuk kelima ratus kalinya.

PLEASE ACCEPT THIS FAX MY LOVE FOR YOU 1S W1THOUT WAX. (TOLONG TERIMA FAKSIMILI INI CINTAKU UNTUKMU TANPA LILIN.)

David mengirimkannya setelah terjadi sebuah percekcokan kecil. Susan memohon selama berbulan-bulan agar diberi tahu artinya, tetapi David menolak. Without wax, tanpa lilin. Itu adalah balasan dari David. Susan telah mengajari David cukup banyak hal tentang penulisan sandi dan membuat kekasihnya itu cukup mahir. Susan menulis semua pesannya dalam kode dengan pola sandi yang sederhana: daftar belanja, pesanpesan mesra— semuanya berbentuk sandi. Ini merupakan permainan dan David telah menjadi seorang kriptografer yang cukup andal. Kemudian pria ini memutuskan untuk membalasnya. Dia mulai mengakhiri semua suratnya dengan “Without wax, David” (“Tanpa lilin, David”). Susan menyimpan sekitar dua lusin pesan dari David. Semuanya diakhiri dengan cara yang sama. Without wax.

Susan memohon agar diberi tahu makna tersembunyi dari frase itu, tetapi David tidak mau membuka mulut. Jika ditanya, dia hanya tersenyum dan berkata, “Kau kan seorang pemecah sandi.”

Kriptografer kepala NSA itu telah mencoba segalanya—substitusi, kotak sandi, bahkan anagram. Dia telah memasukkan kata-kata “without wax” ke dalam komputernya dan mengubah susunan hurufnya menjadi frase-frase baru. Hasil yang dia dapatkan adalah TAXI HUT WOW. Kelihatannya, bukan hanya Ensei Tankado yang dapat menulis kode yang tidak terpecahkan.

Pikiran Susan terputus oleh suara desis dari pintu yang terbuka. Strathmore melangkah masuk.

“Susan, sudah ada kabar?” Strathmore melihat Greg Hale dan langsung berhenti. “Wah, selamat malam, Mr. Hale.” Strathmore mengernyit dan matanya mengecil. “Pada hari Sabtu pula. Ada apa gerangan sampai kita mendapat penghormatan seperti ini?”

Hale tersenyum polos. “Hanya untuk memastikan saya telah menjalankan kewajiban saya.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.