Baca Novel Online

Digital Fortress

“North Dakota,” bisik Susan pada diri sendiri. “Coba kita lihat siapa dirimu sebenarnya.”

Ketika email itu terbuka, muncul sebaris kalimat. Susan membacanya dan kemudian membacanya lagi.

MAKAN MALAM DI ALFREDO’S? JAM 8 MALAM?

Dari seberang ruangan, Hale menahan tawa kecil. Susan memeriksa kop surat dari pesan itu.

DARI: GHALE@CRVPTO.NSA.GOV

Susan marah, tetapi dia menahan diri. Dia menghapus pesan itu. “Sungguh dewasa, Greg.”

“Carpaccio di sana enak /ho.” Greg tersenyum. “Apa pendapatmu? Setelah itu kita bisa-”

“Lupakan.”

“Angkuh.” Hale mendesah dan kembali menatap komputernya. Itu usahanya yang ke-89 untuk mendekati Susan Fletcher. Kriptografer wanita yang cemerlang itu acap kali membuat Hale frustrasi. Dia sering membayangkan dirinya berhubungan seks dengan Susan—menekannya ke permukaan TRANSLTR yang melengkung dan mencumbuinya di sana, di atas permukaan ubin hitam yang hangat. Bagi Hale, hal yang lebih menyakitkan adalah fakta bahwa Susan mencintai seorang pengajar di universitas dengan penghasilan rendah. Sayang sekali jika Susan mengencerkan kolam gennya yang hebat dengan menghasilkan keturunan bersama seorang kutu buku. Apalagi jika Susan sebenarnya bisa mendapatkan Greg. Kami akan memiliki anak-anak yang sempurna, pikir Greg Hale.

“Apa yang sedang kaukerjakan?” tanya Hale, mencoba pendekatan lain.

Susan tidak menjawab.

“Kau benar-benar anggota tim yang baik. Kau yakin aku tidak boleh mengintip?” Hale berdiri dan mulai bergerak memutari lingkaran komputer menuju ke arah Susan.

Susan berfirasat bahwa rasa ingin tahu Hale bisa berpotensi menimbulkan masalah. Dia segera membuat keputusan kilat. “Ini sebuah tes diagnostik,” katanya, mengulang kebohongan sang komandan.

Hale berhenti di tempat. “Tes diagnostik?” Dia kedengarannya ragu-ragu. “Kau menghabiskan hari Sabtu untuk sebuah tes diagnostik dan bukannya bermain dengan si profesor?”

“Namanya David.”

“Terserah.”

Susan memelototinya. “Kau tidak punya hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan?”

“Kau sedang berusaha menyingkirkan aku?” Hale cemberut.

“Sebenarnya, ya.”

“Astaga, Sue. Aku sangat terluka.”

Mata Susan Fletcher mengecil. Dia benci dipanggil Sue. Dia tidak punya masalah dengan nama itu, tetapi Hale adalah satu-satunya yang pernah menggunakannya.

“Kenapa aku tidak membantumu saja?” Hale menawarkan diri. Tiba-tiba dia berputar ke arah Susan lagi. “Aku hebat dalam tes diagnostik. Lagi pula, aku ingin melihat tes diagnostic macam apa yang bisa membuat Susan Fletcher yang hebat itu terpaksa bekerja pada hari Sabtu.”

Susan merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhnya. Dia melihat pelacak dalam tampilan layarnya. Dia tahu, dia tidak boleh membiarkan Hale melihat program pelacak itu—orang ini akan menanyakan banyak hal. “Aku bisa menanganinya, Greg,” kata Susan.

Tetapi Hale tetap bergerak maju. Ketika pria itu berputar menuju ke komputer Susan, wanita itu tahu dirinya harus bertindak cepat. Hale hanya tinggal beberapa yard ketika Susan bertindak. Dia berdiri di hadapan Hale yang menjulang untuk menghalangi jalan pria itu. Kolonye Hale menyengat tajam.

Susan menatap mata Hale. “Aku bilang tidak.”

Hale menggelengkan kepalanya dan terlihat penasaran akan sikap Susan yang penuh rahasia. Dengan sikap main-main, Hale melangkah maju. Greg Hale tidak siap untuk apa yang akan terjadi.

Dengan sikap tenang yang tak tergoyahkan, Susan menekan telunjuknya pada dada Hale yang sekeras batu untuk menghentikan langkah pria tersebut.

Hale terhenti dan mundur dengan perasaan terkejut. Kelihatannya Susan Fletcher bersungguh-sungguh. Susan belum pernah menyentuhnya sebelum ini. Sentuhan ini tidak sama dengan yang diharapkan oleh Hale untuk kontak badan mereka yang pertama, tetapi ini adalah sebuah permulaan. Dia menatap Susan dengan bingung untuk waktu yang cukup lama dan secara perlahan kembali ke komputernya sendiri. Saat dia duduk kembali, satu hal menjadi jelas baginya. Susan Fletcher yang manis sedang mengerjakan sesuatu yang penting. Satu hal yang pasti, itu bukanlah sebuah tes diagnostik.

***

28

SENOR ROLDAN sedang duduk di belakang mejanya di Escortes Belen sambil memberikan selamat bagi dirinya sendiri karena telah mengelak dari usaha terbaru Guardia yang payah untuk menjebaknya. Menyuruh seorang petugas menirukan sebuah aksen dan meminta seorang gadis untuk semalam —ini adalah sebuah perangkap. Apalagi yang akan mereka rencanakan setelah ini?

Pesawat telepon di atas mejanya berbunyi keras. Senor Roldan segera meraih gagang telepon dengan penuh rasa percaya diri. “Buenas noches, Escortes Belen.”

“Buenas noches,” sebuah suara pria berbicara dalam bahasa Spanyol secepat kilat. Suaranya sengau, seperti sedang sakit pilek. “Apakah ini hotel?”

“Bukan, Tuan. Nomor berapa yang Anda hubungi?” Senor Roldan tidak ingin jatuh ke dalam perangkap lain malam ini.

“34-62-10,” kata suara itu.

Roldan mengernyit. Suara ini kedengarannya tidak begitu asing. Dia mencoba menebak daerah yang menggunakan aksen seperti itu—Burgos, mungkin? “Anda menghubungi nomor yang benar,” kata Roldan

dengan hati-hati, “tetapi ini layanan jasa pendamping.”

Mereka terdiam sebentar. “Oh … begitu. Maafkan saya. Seseorang menulis nomor ini. Saya pikir ini nomor hotel. Saya datang berkunjung dan Burgos. Mohon maaf sudah mengganggu Anda. Selamat mal—”

“Espere! Tunggu!” Senor Roldan tidak bisa menahan diri. Dia penjual sejati. Apakah ini semacam rujukan? Seorang klien baru dan daerah utara. Dia tidak akan membiarkan ketakutan kecil menggagalkan sebuah penjualan yang potensial.

“Sahabatku,” tegas Roldan di telepon, “rasanya saya mengenali sedikit aksen Burgos dan bicara Anda. Saya sendiri berasal dan Valencia. Apa yang membuat Anda datang ke Seuilla?”

“Saya menjual perhiasan. Mutiara-mutiara Marjonca.”

“Marjonca, benarkah! Anda pasti sering berpergian.”

Suara itu terbatuk parah. “Ya, memang betul.”

“Sedang bisnis di Seuilla?” desak Roldan. Tidak mungkin pria ini seorang Guardia. Dia pelanggan kelas kakap. “Coba saya tebak—seorang teman telah memberikan nomor kami pada Anda? Dia menyarankan agar Anda menghubungi kami? Apakah saya benar?”

Suara itu kedengarannya malu. “Eh, tidak juga. Tidak seperti itu.”

“Jangan malu, Senor. Kami ini layanan jasa pendamping. Tidak perlu merasa malu. Gadis-gadis manis, kencan untuk makan malam, hanya itu saja. Siapa yang memberikan nomor kami pada Anda? Mungkin dia langganan kami. Saya bias memberikan harga khusus untuk Anda.”

Suara itu menjadi bingung. “Ah … sebenarnya tidak ada yang memberikan nomor ini pada saya. Saya menemukannya bersama sebuah paspor. Saya sedang berusaha mencari pemiliknya.”

Semangat Roldan menciut. Pria ini ternyata bukan seorang pelanggan. “Kata Anda tadi Anda menemukan nomor ini?”

“Ya. Saya menemukan paspor seorang pria di taman hari ini. Nomor Anda tertera pada secarik kertas di dalamnya. Saya pikir ini nomor hotel tempatnya menginap. Saya bermaksud mengembalikan paspor ini kepadanya. Sudahlah, ini kesalahan saya. Saya akan menitipkannya di kantor polisi pada saat saya mening-”

“Perdon,” sela Roldan dengan gugup. “Bisakah saya menyarankan usul yang lebih baik?” Roldan bangga dengan kewaspadaannya. Kunjungan ke Guardia akan membuat para langganannya menjadi mantan langganan. “Pertimbangkan hal ini,” Roldan menawarkan. “Karena pria tersebut memiliki nomor kami, bisa jadi dia salah seorang klien kami. Saya bisa membantu Anda agar tidak perlu repot-repot ke kantor polisi.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.