Baca Novel Online

Digital Fortress

Tidaklah aneh ketika dua tahun kemudian NSA memperkerjakan Greg Hale. Strathmore merasa lebih baik merekrut Hale ke dalam tubuh NSA daripada membiarkannya menyerang NSA dari luar.

Strathmore menghadapi skandal Skipjack dengan tegar. Dia membela diri dengan gigih di depan Kongres. Dia bersikukuh bahwa hasrat publik akan privasi nantinya bisa berbalik menghantui mereka sendiri. Publik memerlukan seseorang untuk mengawasi mereka, tekan Strathmore. Publik memerlukan NSA untuk memecahkan kode rahasia agar tercipta kedamaian. Kelompok-kelompok seperti EFF tidak sependapat. Dan sejak itu EFF selalu menentang Strathmore.

***

24

DAVID BECKER berdiri di dalam sebuah bilik telepon umum di seberang jalan dari La Clinica de Salud Publica. Dia baru saja ditendang keluar karena telah mengusik pasien nomor 104, Monsieur Cloucharde.

Tiba-tiba permasalahan berubah menjadi lebih rumit dari yang dia bayangkan. Bantuan kecilnya untuk Strathmore—mengambilkan beberapa barang pribadi—telah berubah menjadi perburuan sebuah cincin yang aneh.

Becker baru saja menghubungi Strathmore dan memberitahunya tentang si wisatawan Jerman. Setelah meminta keterangan mendetail, Strathmore terdiam cukup lama. “David,” Strathmore akhirnya berkata dengan sedih, “menemukan cincin itu adalah masalah stabilitas keamanan nasional. Aku menyerahkannya ke tanganmu. Jangan kecewakan aku.” Sambungan telepon itu pun terputus.

David berdiri di bilik telepon itu dan mendesah. Dia mengambil Guia Telefonica yang sudah usang dan mulai mencari di dalam halaman kuningnya. “Di sini tidak ada apa-apa,” gumamnya sendiri.

Hanya ada tiga nama untuk Layanan Pendamping di buku petunjuk itu, dan Becker tidak punya cukup banyak petunjuk untuk bergerak maju. Vang dia tahu hanyalah bahwa si Jerman mengencani wanita berambut merah, yang untungnya sangat jarang di Spanyol. Cloucharde yang menggigau itu mengingat nama pendamping tersebut sebagai Tetesan Embun. Becker bergidik—Tetesan Embun? Nama itu terdengar lebih mirip nama seekor sapi daripada nama gadis cantik. Bukan pula sebuah nama Katolik yang pantas; Cloucharde pasti salah.

Becker menghubungi nomor pertama.

“SERVICIO SOCIAL de Sevilla,” sebuah suara wanita yang merdu menjawab.

Becker membuat bahasa Spanyolnya beraksen Jerman kental. “Hola, ihablas Aleman?”

“Tidak. Tetapi saya bisa berbahasa Inggris,” balasnya.

Becker meneruskan dalam bahasa Inggris yang terbatabata. “Terima kasih. Saya harap Anda bisa membantu saya.”

“Bagaimana kami bisa membantu?” Wanita itu berbicara dengan pelan sebagai usaha untuk membantu calon pelanggannya. “Mungkin Anda membutuhkan seorang pendamping?”

“Ya, betul. Hari ini saudara laki-laki saya, Klaus, mendapatkan seorang gadis, sangat cantik, rambut merah. Saya juga mau. Untuk besok, tolong.”

“Saudara laki-lakimu kemari?” suara itu tiba-tiba terdengar bergairah, seolah-olah mereka berdua sobat lama.

“Ya. Sangat gemuk. Anda ingat dia, tidak?”

“Dia berada di sini kemarin, kata Anda?”

Becker bisa mendengar wanita itu sedang memeriksa catatannya. Tentu saja tidak ada nama Klaus di daftar, tetapi Becker merasa pelanggan jarang menggunakan nama asli mereka.

“Hrnrn, maaf,” kata wanita itu. “Saya tidak menemukannya di sini. Siapa nama gadis yang bersama saudaramu itu?”

“Dia berambut merah,” kata Becker untuk menghindari pertanyaan itu.

“Rambut merah?” ulang wanita itu. Dia terdiam sesaat.

“Ini Servicio Social de Seuilla. Anda yakin saudara Anda kemari?”

“Tentu, ya.”

“Senor, kami tidak memiliki gadis berambut merah. Kami hanya memiliki kecantikan Andalusia yang murni.”

“Rambut merah,” ulang Becker yang merasa bodoh.

“Maaf, kami tidak memiliki yang berambut merah sama sekali, tetapi jika Anda-”

“Namanya Tetesan Embun,” kata Becker dengan ter-gesa dan merasa lebih bodoh lagi.

Nama konyol itu kedengarannya tidak berarti apa pun bagi wanita itu. Becker meminta maaf dan mengatakan bahwa dia mungkin telah menghubungi agensi yang keliru dan dengan sopan menutup telepon. Gagal satu kali.

BECKER MENGERNYIT dan memutar nomor kedua. Nomor itu tersambung dengan cepat.

“Buenas noches, Mujeres Espana. Bisa saya bantu?”

Becker segera mengulang percakapan yang sama, seorang wisatawan Jerman yang bersedia membayar mahal untuk seorang gadis berambut merah. “Keine Rot-kopfe, maaf.” Wanita itu menutup teleponnya. Gagal dua kali.

Becker melihat ke buku telepon tersebut. Tinggal satu nomor lagi. Akhir harapannya. Becker memutar nomor itu.

“ESCORTES BELEN,” seorang pria menjawab dengan cekatan.

Kembali Becker menuturkan kisahnya. “Si, si, senor. Nama saya Senor Roldan. Saya senang bisa membantu. Kami memiliki dua orang gadis berambut merah. Manis-manis.”

Jantung Becker terloncat. “Sangat cantik?” ulangnya dengan aksen Jerman. “Rambut merah?”

“Ya, siapa nama saudara Anda? Saya akan memberitahumu siapa pendamping yang menemaninya hari ini. Dan kami akan mengirimkannya untuk Anda besok.”

“Klaus Schmidt.” Becker mencetuskan sebuah nama yang diingatnya dan sebuah buku pelajaran. Mereka terdiam cukup lama. “Tuan … saya tidak bias menemukan nama Klaus Schmidt di daftar kami, tetapi mungkin saudara Anda memilih untuk berhati-hati— mungkin dia punya istri di rumah?” pria itu tertawa dengan tidak pantas.

“Ya, Klaus sudah menikah. Tetapi dia sangat gemuk. Istrinya tidak tidur dengan dia.” Becker memutar matanya dan melihat bayangan dirinya di dinding bilik. Jika saja Susan bisa mendengarkanku sekarang, pikir Becker. “Saya gemuk dan kesepian juga. Saya ingin tidur dengan dia. Bayar banyak uang.”

Aksi Becker luar biasa, tetapi dia melampaui batas.

Pelacuran adalah pelanggaran hukurn di Spanyol dan Senor Roldan adalah pria yang berhati-hati. Sebelumnya dia pernah bermasalah dengan petugas Guardia yang menyamar sebagai wisatawan. Saya ingin tidur dengan dia. Roldan tahu ini sebuah perangkap. Jika dia mengatakan ya, dia akan didenda berat dan, sebagaimana biasanya, akan dipaksa untuk menyediakan salah seorang pendamping terbaiknya untuk sang komisaris polisi secara gratis sepanjang akhir pekan.

Ketika Roldan berbicara, suaranya tidak seramah sebelumnya. “Tuan, ini Escortes Belen. Bisa tahu siapa yang menelepon?”

“Aah … Sigmund Schmidt,” karang Becker dengan lemas.

“Dan mana Anda mendapatkan nomor kami?”

“La Guia Telefonica—buku kuning.”

“Ya, Tuan, itu karena kami sebuah perusahaan jasa Layanan Pendamping.”

“Ya. Saya ingin pendamping.” Becker merasa ada yang salah.

“Tuan, Escortes Belen adalah perusahaan jasa yang menyediakan pendamping bagi para pengusaha untuk acara makan siang dan malam. Karena itulah kami terdaftar dalam buku telepon. Apa yang kami lakukan sesuai hukum. Apa yang Anda cari adalah seorang pelacur.” Kata itu meluncur dan mulutnya seolah sebuah penyakit yang mematikan.

“Tetapi saudaraku ….”

“Tuan, jika saudara Anda menghabiskan seharian sambil menciumi seorang gadis di taman, maka gadis itu bukanlah salah seorang dan gadis kami. Kami mempunyai peraturan yang keras tentang hubungan klien dan pen-

damping.” “Tetapi

“Anda telah keliru. Kami hanya memiliki dua gadis berambut merah, Inmaculada dan Rocio, dan keduanya tidak akan mengizinkan seorang pria pun untuk tidur bersama mereka hanya karena uang. Hal itu disebut pelacuran dan dilarang di Spanyol. Selamat malam, Tuan.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.