Baca Novel Online

Digital Fortress

“Ke mana perginya?”

“Tidak tahu. Saya berlari memanggil polisi. Ketika saya kembali, dia telah pergi.”

“Tahukah Anda siapa dia?” “Seorang wisatawan.” “Anda yakin?”

“Hidupku penuh dengan wisatawan,” sentak Cloucharde. “Saya bisa mengenali mereka. Dia dan teman wanitanya sedang berjalan-jalan di taman.”

Becker semakin bertambah bingung. “Teman wanita? Ada seseorang bersama orang Jerman itu?”

Cloucharde mengangguk. “Seorang pendamping. Si rambut merah yang jelita. Mon Dieu! Cantik.”

“Seorang pendamping?” Becker terkejut. “Seperti … seorang pelacur?”

Cloucharde meringis. “Ya, jika Anda harus menggunakan istilah itu.”

“Tetapi … petugas itu tidak mengatakan apa-apa tentang-”

“Tentu saja tidak! Saya tidak pernah menyebutkan tentang seorang pendamping.” Cloucharde mengibaskan tangannya yang tidak sakit ke arah Becker. “Mereka bukan penjahat—sungguh konyol memperlakukan mereka seperti pencuri pada umumnya.”

Becker masih sedikit terpukul. “Apakah masih ada yang lain di sana?” “Tidak, hanya kami bertiga. Waktu itu sungguh panas.”

“Dan Anda yakin wanita tersebut seorang pelacur?”

“Seratus persen. Tidak ada wanita secantik itu yang

mau bersama pria seperti itu jika tidak dibayar mahal! Mon Dieu! Pria Jerman itu gendut, gendut, gendut! Seorang Jerman gembrot yang menjengkelkan dan berisik. Cloucharde mengernyit sedikit ketika menggeser badannya. Tetapi dia tidak mengacuhkan rasa sakitnya dan terus berbicara. “Pria ini benar-benar seekor binatang—paling tidak, beratnya tiga ratus pon. Dia mendekap wanita malang itu seolah-olah wanita itu akan lari darinya—saya sih tidak akan menyalahkan wanita itu. Saya serius. Tangan pria itu menggerayanginya. Menyombongkan diri bahwa dia menyewa wanita itu seharga tiga ratus dolar untuk seminggu! Seharusnya pria Jerman itu yang jatuh dan mati, bukan pria Asia yang malang itu.” Cloucharde terengah-engah dan Becker menyerobotnya. “Anda tahu namanya?”

Cloucharde berpikir sejenak dan kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu.” Dia mengernyit kesakitan lagi dan berbaring kembali perlahan di atas bantal bantalnya.

Becker mendesah. Cincin itu telah menguap di hadapannya. Komandan Strathmore tidak akan senang.

Cloucharde menekan keningnya. Luapan antusiasmenya telah berakibat buruk bagi kondisinya. Tiba-tiba dia tampak sakit.

Becker mencoba cara lain. “Mr. Cloucharde, saya ingin mendapatkan pernyataan dari pria Jerman itu serta dari pendampingnya sekalian. Tahukah Anda di mana mereka menginap?”

Cloucharde menutup matanya. Kekuatannya telah menyusut. Napasnya menjadi pendek.

“Apa pun yang Anda ingat?” desak Becker. “Nama pendampingnya?”

Mereka terdiam cukup lama. Cloucharde meraba pelipis kanannya. Tiba-tiba dia tampak pucat. “Yah … ah … tidak. Saya tidak percaya Suaranya bergetar. Becker membungkuk ke arahnya. “Anda baik-baik sa-

ja?”

Cloucharde mengangguk pelan. “Ya, baik-baik saja … hanya sedikit … terlalu bersemangat mungkin ….” Suaranya menghilang.

“Berpikirlah, Mr. Cloucharde,” desak Becker perlahan. “Ini penting.”

Cloucharde mengernyit. “Saya tidak tahu … wanita itu … pria itu terus-menerus memanggilnya Dia menutup matanya dan mengerang.

“Siapa namanya?”

“Saya benar-benar tidak ingat Suara Cloucharde mengecil.

“Berpikirlah,” desak Becker. “Sangat penting untuk menyiapkan berkas konsulat selengkap mungkin. Saya harus mendukung cerita Anda dengan pernyataan dari saksi-saksi lainnya. Apakah ada keterangan yang bisa Anda berikan kepada saya untuk menemukan mereka ….”

Tetapi Cloucharde sedang tidak mendengarkan. Dia mengelap dahinya dengan seprai. “Maafkan saya … mungkin besok…,” tampaknya dia merasa mual.

“Mr. Cloucharde, Anda harus mengingatnya sekarang.” Tiba-tiba Becker sadar dirinya telah berbicara terlalu lantang. Orang-orang pada dipan di sekitarnya telah terduduk dan melihat apa yang sedang terjadi. Di ujung ruang yang jauh muncul seorang perawat melalui pintu rangkap dan melangkah cepat ke arah Becker.

“Apa pun yang Anda ingat,” desak Becker.

“Si Jerman memanggil wanita itu-” Becker mengguncang Cloucharde dengan lembut, berusaha membangunkannya.

Mata Cloucharde terbuka sesaat. “Namanya ….” Tetap sadar, pria tua ….

“Embun Mata Cloucharde tertutup lagi. Perawat itu semakin mendekat dan tampak marah besar.

“Embun?” Becker menggoyangkan lengan Cloucharde. Pria tua itu mengerang. “Dia memanggilnya Cloucharde sekarang bergumam hampir tidak terdengar.

Si perawat yang berada kurang dari sepuluh kaki berteriak marah pada Becker dalam bahasa Spanyol. Becker tidak mendengar apa-apa. Matanya tertuju pada bibir Cloucharde. Dia mengguncang Cloucharde untuk terakhir kalinya ketika perawat itu meraihnya.

Perawat itu mencengkeram pundak Becker. Dia menarik Becker berdiri, persis pada saat bibir Cloucharde terbuka. Sebuah kata yang keluar dari mulut Cloucharde sama sekali tidak terucap. Kata itu didesahkan—seperti sebuah kenangan sensual yang jauh. “Tetesan Embun

Sebuah cengkeraman marah merenggut Becker pergi.

Tetesan Embun? Becker bertanya-tanya. Nama macam apa itu? Becker berkelit dari si perawat dan berpaling kepada Cloucharde untuk terakhir kalinya. “Tetesan Embun? Anda yakin?”

Tetapi Pierre Cloucharde telah tertidur lelap.

***

23

SUSAN DUDUK sendiri di dalam Node 3 yang mewah. Dia memegang secangkir ramuan teh lemon dan menunggu program pelacaknya kembali.

Sebagai seorang kriptografer senior, Susan menikmati pemandangan terbaik dari balik meja komputernya. Letaknya di sisi belakang lingkaran komputer dan menghadap ke lantai Crypto. Dari tempat ini, Susan bisa melihat semua hal di Node 3. Dia juga bisa melihat ruang sebelahnya dan TRANSLTR yang berdiri di tengah lantai Crypto.

Susan memeriksa waktu program pelacak. Dia telah menunggu selama hampir satu jam. ARA kelihatannya sangat santai dalam meneruskan surat North Dakota. Susan mendesah keras. Walaupun dia berusaha melupakan percakapannya dengan David pagi ini, kata-kata sang kekasih terus berputar di dalam kepalanya. Dia merasa telah berlaku terlalu keras pada David. Dia berdoa agar pria itu baik-baik saja di Spanyol.

Pikiran Susan terbuyarkan oleh desis keras pintu kaca. Dia menengadah dan mengerang. Kriptografer Greg Hale berdiri di celah pintu.

Tinggi tegap dengan rambut ikal pirang dan sebuah dagu yang terbelah dalam, Greg Hale adalah seorang pria bersuara keras, berotot, dan selalu dandan berlebihan. Rekan kriptografer lainnya menjuluki pria itu “Halite”— sama seperti nama mineral. Hale selalu berpikir kalau itu adalah nama sejenis permata langka—yang menyamai kecerdasan dirinya yang tak tertandingi dan fisiknya yang kuat. Jika saja ego Hale mengizinkan dirinya memeriksa ensiklopedi, dia akan menemukan bahwa mineral tersebut tidak lebih dari sisa garam yang tertinggal setelah samudra menguap.

Seperti semua kriptografer NSA lainnya, Hale mendapat gaji yang sangat besar. Dia mengendarai sebuah Lotus putih dengan atap bulat dan sebuah subwoofer yang memekakkan telinga. Dia tergila-gila pada peralatan, dan mobilnya adalah alat peraganya. Dia memasang di kendaraan itu sebuah system komputer pelacak yang tersambung dengan satelit, system penguncian pintu yang diaktifkan oleh suara, sebuah pemindai lima arah, dan sebuah telepon/mesin fax seluler agar dirinya selalu bisa dihubungi. Nomor kendaraannya berbunyi MEGABYTE dan dibingkai oleh lampu neon ungu.

Greg Hale diselamatkan dari masa kecil yang penuh dengan kejahatan ringan oleh korps Marinir AS. Di sanalah dia belajar tentang komputer. Dia adalah salah seorang pemrogram terbaik yang pernah dimiliki oleh korps marinir tersebut. Dan hal ini memberinya peluang yang baik di dalam karier militer. Tetapi dua hari sebelum perjalanan dinas ketiganya berakhir dia masa depan Hale tiba-tiba berubah. Karena mabuk, dia secara tidak sengaja membunuh seorang rekan marinir dalam sebuah perkelahian. Seni bela diri Korea, Taekwondo, ternyata lebih mematikan dari sekadar untuk membela diri. Hale segera dibebastugaskan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.