Baca Novel Online

Digital Fortress

“Sebenarnya,” desak Becker, “saya harus mendapatkannya segera.”

“Tidak mungkin,” bentak wanita itu. “Kami sangat sibuk.”

Becker mencoba terdengar seresmi mungkin. “Ini urusan yang mendesak. Pria ini mengalami patah pergelangan tangan dan cedera di kepala. Dia dirawat kira-kira pagi ini. Berkasnya mungkin berada pada bagian paling atas.”

Becker menambah aksen pada bahasa Spanyolnya—cukup jelas untuk menyatakan maksudnya dan cukup membingungkan untuk membuat kesal.

Bukannya melanggar peraturan, wanita itu mengutuki orang-orang Amerika yang egois dan membanting gagang teleponnya.

Becker mengernyit dan menutup teleponnya. Gagal. Bayangan harus mengantri selama berjam-jam membuatnya tidak bersemangat. Waktu terus berjalan—orang Kanada tua itu bisa berada di mana saja sekarang. Mungkin dia telah memutuskan untuk kembali ke Kanada. Mungkin dia akan menjual cincin tersebut. Becker tidak mempunyai waktu berjam-jam untuk mengantri. Dengan tekad baru, dia menyambar gagang telepon dan memutar nomor itu kembali. Dia menekan telepon itu ke telinganya dan bersender di dinding. Telepon di seberang mulai berdering. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Satu deringan … dua deringan … tiga—

Tiba-tiba dia merasakan adrenalin mengalir cepat di sekujur tubuhnya.

David berpaling dan membanting gagang telepon itu kembali ke tempatnya. Dia berbalik dan kembali menatap ruangan itu dalam kesunyian yang menegangkan. Di atas dipan lipat, persis di depannya, di atas setumpuk bantal tua, terbaring seorang pria tua dengan balutan gips putih bersih di pergelangan tangan kanannya.

***

21

ORANG AMERIKA pada sambungan telepon pribadi Tokugen Numataka terdengar khawatir.

“Mr. Numataka—saya hanya punya sedikit waktu.”

“Baiklah. Saya percaya Anda memiliki kedua kunci sandi itu.”

“Akan ada sedikit keterlambatan,” kata orang Amerika itu.

“Tidak bisa,” desis Numataka. “Anda tadi mengatakan saya akan mendapatkan kunci sandi itu sore ini!”

“Ada sedikit masalah.”

“Tankado sudah mati?”

“Ya,” kata suara itu. “Orangku telah membunuhnya, tetapi dia gagal mendapatkan kunci sandinya. Tankado memberikan cincin itu pada seorang turis sebelum dia mati.”

“Keterlaluan!” Numataka menggelegar. “Lalu bagaimana Anda bisa menjanjikan kepada saya—”

“Tenang,” si Amerika berusaha menenangkan. “Anda akan mendapatkan hak eksklusif. Saya jamin. Jika kunci sandi yang hilang itu sudah ditemukan, Benteng Digital akan menjadi milik Anda.”

“Tetapi kunci sandi itu mungkin sudah dibuat salinannya.”

“Setiap orang yang telah melihat kunci tersebut akan dilenyapkan.”

Mereka terdiam lama. Akhirnya Numataka berbicara. “Di mana kunci itu sekarang?”

“Yang perlu Anda ketahui, kunci itu akan segera ditemukan.”

“Bagaimana Anda bisa begitu yakin?”

“Karena saya bukan satu-satunya yang sedang mencarinya. Pihak intelijen Amerika telah mengetahui tentang kunci yang hilang ini. Untuk alasan-alasan yang sangat jelas, mereka ingin menghalangi beredarnya Benteng Digital. Mereka telah mengirim seorang pria untuk mencari kunci itu. Namanya David Becker.”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Itu tidak penting.”

Numataka terdiam. “Dan jika Mr. Becker berhasil menemukan kunci itu?”

“Orang saya akan merebutnya.” “Dan setelah itu?”

“Anda tidak perlu khawatir,” kata si Amerika dengan dingin. “Saat Mr. Becker menemukan kunci itu, dia akan diberi hadiah yang pantas.”

DAVID BECKER berjalan mendekat dan menatap ke arah pria tua yang sedang tertidur di atas dipan itu. Pergelangan tangan kanannya terbalut gips. Usianya di antara 6D dan 70-an. Rambutnya yang seputih salju terbelah rapi ke samping, dan di bagian tengah keningnya terdapat sebuah bilur keunguan yang menjalar ke arah mata kanannya.

Sedikit benjol? pikir Becker, sambil teringat pada kata-kata si letnan. Dia memeriksa jarijari pria itu. Tidak ada cincin emas yang tampak. Dia merogoh ke bawah dan menyentuh lengan pria itu. “Pak?” Dia mengguncangnya dengan lembut. “Permisi … Pak?”

Pria itu tidak bergerak.

Becker mencoba lagi, sedikit lebih keras. “Pak?”

Pria itu bergerak. “Qu’est-ce … quelle heure est—” dengan perlahan pria tua itu membuka matanya dan memusatkan pandangannya pada Becker. Pria tersebut merengut marah karena terganggu. “Cju’est-ce-que vous voulez?”

Ya. Pikir Becker, Bahasa Prancis Kanadat Becker tersenyum padanya. “Anda bisa meluangkan sedikit waktu?”

Walaupun bahasa Prancis Becker sempurna, dia berbicara dalam bahasa yang dia harap kurang dikuasai pria itu, yakni bahasa Inggris. Meyakinkan seorang asing untuk menyerahkan sebuah cincin emas akan sedikit sulit. Becker memutuskan

untuk menggunakan segala cara yang dia bisa.

Pria itu memerlukan beberapa saat untuk menyadari di mana dirinya berada. Dia melihat ke sekelilingnya dan merapikan kumis putihnya yang lemas dengan sebuah jari yang panjang. Akhirnya dia berbicara. “Apa yang Anda inginkan?” Bahasa Inggrisnya terdengar sengau.

“Pak,” kata Becker dengan keras seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tuli. “Saya ingin menanyakan beberapa hal.”

Pria itu memelototinya dengan pandangan aneh. “Anda mempunyai masalah?”

Becker mengernyit. Bahasa Inggris pria itu tak bercela. Dia segera mengubah nada bicaranya yang mencemooh itu. “Saya minta maaf karena telah mengganggu Anda, tetapi apakah Anda secara kebetulan berada di Plaza de Espana

hari ini?”

Mata pria itu mengecil. “Apakah Anda dari Dewan Kota?”

“Tidak, saya-” “Kantor Pariwisata?” “Bukan, saya-”

“Dengar. Saya tahu kenapa Anda kemari!” Pria itu berjuang untuk duduk. “Saya tidak akan terintimidasi. Jika saya telah mengatakannya sekali, saya akan mengatakannya seribu kali lagi—Pierre Cloucharde menulis tentang dunia sebagaimana dia menjalani hidupnya di dunia ini. Beberapa buku panduan resmi Anda mungkin akan menyelipkan hal ini ke dalam jadwal sebagai acara bebas jalan-jalan di kota. Tetapi Montreal Times tidak akan melakukannya! Saya menolak!”

“Maaf, Pak. Saya rasa Anda tidak menger-” “Merde alors! Saya mengerti dengan benar!” Dia menggoyang-goyangkan jarinya di depan wajah Becker dan suaranya menggema ke seluruh ruang olahraga itu. “Anda bukan yang pertama. Mereka mencoba melakukan hal yang sama di Moulin Rouge, Brown’s Palace, dan Glofigno di Lagos! Tetapi apa yang muncul di pers? Kebenaran! Wellington terburuk yang pernah aku makan! Bak terkotor yang pernah kulihat! Pantai paling berbatu yang pernah kukunjungi! Pembaca-pembacaku tidak bisa berharap lebih banyak lagi!”

Para pasien di dipan-dipan sekitar mulai terduduk untukmelihat apa yang sedang terjadi. Becker melihat ke sekelilingdengan gugup untuk memeriksa kalau-kalau ada perawat.

Cloucharde masih terus mengamuk. “Alasan yang payah untuk seorang polisi yang bekerja untuk kota Anda! Dia menyuruh saya naik motornya! Sekarang lihat saya!” Pria Kanada itu mencoba mengangkat pergelangan tangannya. “Sekarang siapa yang akan menulis kolom saya?” “Pak, saya-”

“Saya tidak pernah merasa sesengsara ini selama 43 tahun melakukan perjalanan! Lihat tempat ini! Tahukah Anda bahwa kolom saya dimuat di lebih-”

“Pak!” Becker mengangkat kedua belah tangannya sebagai tanda gencatan senjata. “Saya tidak tertarik pada kolom Anda. Saya dari Konsulat Kanada. Saya di sini untuk memastikan Anda baik-baik saja!”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.