Baca Novel Online

Digital Fortress

“Masa?” Strathmore kelihatan tidak peduli. “Hal-hal aneh seperti apa?”

Susan memerhatikan dan merasa kagum pada penampilan sang komandan.

Chartrukian meneruskan. “TRANSLTR sedang mengolah sesuatu yang sangat canggih. Penyaring-penyaringnya tidak bisa mengenalinya. Saya takut TRANSLTR terserang sejenis virus.”

“Virus?” Strathmore terkekeh dengan gaya sedikit merendahkan. “Phil, aku menghargai perhatianmu. Sungguh. Tetapi Ms. Fletcher dan aku sedang mencoba sebuah tes diagnostik yang baru, sesuatu yang sangat canggih. Aku seharusnya mengabarimu soal ini, tetapi aku tidak tahu kalau Anda bertugas hari ini.”

Petugas Sys-Sec itu berusaha sebaik mungkin membela diri. “Saya bertukar giliran dengan orang baru itu. Saya mengambil giliran akhir pekannya.”

Mata Strathmore mengecil. “Aneh. Aku berbicara dengan dia semalam. Aku memintanya untuk tidak masuk. Dia tidak bilang apa-apa tentang bertukar giliran.”

Chartrukian merasa tercekik. Ada kesunyian yang mencekam.

“Baiklah.” Akhirnya Strathmore berdesah. “Mungkin ini sebuah kesalahpahaman.” Strathmore meletakkan tangannya di atas bahu petugas Sys-Sec tersebut dan menggiringnya keluar. “Berita baiknya adalah, kau tidak usah tinggal. Ms. Fletcher dan aku akan berada di sini sepanjang hari. Kami akan menjaga tempat ini. Nikmati akhir pekanmu.”

Chartrukian ragu-ragu. “Komandan, saya benar-benar berpikir kita harus memeriksa-”

“Phil,” ulang Strathmore sedikit lebih keras, “TRANSLTR baik-baik saja. Jika pembersih virusmu menemukan sesuatu yang janggal, itu karena kami memasukkannya ke situ. Nah, sekarang jika kau tidak keberatan ….” Strathmore terdiam dan petugas Sys-Sec itu pun mengerti. Waktunya telah habis.

“TES DIAGNOSTIK apaan!” gumam Chartrukian ketika dia kembali ke laboratorium Sys-Sec dengan marah. “Fungsi rumit macam apa yang membuat tiga juta pengolah data menjadi sibuk selama enam belas jam?”

Chartrukian bertanya-tanya apakah dia perlu menghubungi penyelia Sys-Sec. Para kriptografer sialan, pikir Chartrukian. Mereka benar-benar tidak memahami pentingnya keamanan!

Sumpah yang diucapkan Chartrukian ketika dia bergabung dengan Sys-Sec mulai berputar di dalam pikirannya. Dia telah bersumpah untuk menggunakan keahliannya, latihan yang didapatkannya, dan nalurinya untuk melindungi investasi NSA yang bernilai jutaan dolar.

“Naluri,” kata Chartrukian dengan sengit. Tidak perlu seorang cenayang untuk tahu bahwa ini bukanlah sebuah tes diagnostik!

Dengan kesal, Chartrukian melangkah ke terminal komputernya dan menyalakan rangkaian lengkap peranti lunak TRANSLTR untuk pemeriksaan sistem.

“Bayimu sedang dalam masalah, Komandan,” gerutunya. “Anda tidak percaya pada naluri? Saya akan memberikan buktinya!”

***

20

LA CLINICA de Salud Publica sebenarnya adalah sebuah sekolah dasar yang berubah fungsi dan sama sekali tidak kelihatan seperti sebuah rumah sakit. Gedung bata itu bertingkat satu dan panjang, dengan jendela-jendela besar dan sebuah ayunan berkarat di bagian belakang. Becker menaiki anak tangganya yang hancur.

Bagian dalam gedung itu gelap dan berisik. Ruang tunggunya adalah sederetan kursi logam lipat yang diletakkan di sepanjang lorong yang sempit. Ada sebuah tanda dari kardus di atas sebuah kuda-kuda yang berbunyi OFFICINA dengan tanda panah yang menunjuk ke arah sebuah lorong.

Becker berjalan di sepanjang lorong yang remang-remang itu. Tempat itu mirip dengan sebuah set film horor Hollywood. Udaranya berbau pesing. Lampu-lampu di ujung lorong sudah putus sehingga pandangan empat puluh atau lima puluh kaki ke depan tidak tampak kecuali bayangan-bayangan bisu. Seorang wanita yang bersimbah darah … sepasang muda mudi yang sedang menangis … seorang gadis kecil yang sedang berdoa … Becker mencapai ujung lorong yang gelap. Sebuah pintu di sisi kirinya terbuka sedikit. Dia mendorong buka pintu itu. Kecuali berisi seorang wanita tua kisut dan telanjang di atas dipan yang sedang berjuang dengan pispotnya, ruangan itu hampir kosong.

Bagus. Becker mengerang. Dia menutup pintu itu. Di mana sih kantornya?

Di sekitar tikungan tajam di lorong, Becker mendengar beberapa suara. Dia mengikuti suara tersebut dan sampai pada sebuah pintu kaca tembus cahaya. Dari baliknya suara-suara itu terdengar seperti orang sedang bertengkar. Dengan segan, dia mendorong buka pintu itu. Ini dia kantornya. Kekacauan. Seperti yang ditakutkan Becker.

Ada sebuah antrian yang terdiri atas sepuluh orang. Setiap orang saling mendorong dan berteriak. Spanyol adalah negara yang terkenal akan sikap takefisiennya, dan Becker tahu dirinya akan berada di rumah sakit tersebut semalaman untuk menunggu informasi tentang si orang Kanada. Hanya ada seorang sekretaris di belakang meja dan wanita itu sedang melayani pasien-pasien yang kesal. Becker berdiri di pintu untuk beberapa saat dan memikirkan pilihan yang harus diambilnya. Ada cara yang lebih baik.

“Con permiso!” teriak seorang mantri. Sebuah kereta dorong menggelinding lewat dengan cepat.

Becker berkelit dengan cepat dan memanggil mantri tersebut. ”

Tanpa menghentikan langkahnya, pria tersebut menunjuk ke sepasang pintu rangkap dan menghilang di sudut. Becker berjalan ke arah pintu tersebut dan masuk ke dalam.

Ruang di depan Becker sangat besar—sebuah ruang olahraga tua. Lantainya berwarna hijau muda dan berpendarpendar seperti kolam renang di bawah lampu neon. Pada dinding ada sebuah ring basket yang tergantung dengan lemas pada papannya. Pada lantai terdapat beberapa lusin pasien yang berbaring di atas dipan lipat rendah. Di ujung yang jauh, persis di bawah papan nilai yang gosong, terdapat sebuah telepon umum tua. Becker berharap telepon itu masih berfungsi.

Ketika melangkah menyeberangi lantai, Becker meraba ke dalam kantong untuk mencari sebuah koin. Dia menemukan 75 peserta dalam bentuk koin-koin cinco duros, uang kembalian dari taksi—hanya cukup untuk dua sambungan lokal. Sambil tersenyum hormat pada seorang perawat yang hendak keluar, dia menuju telepon itu. Setelah mengangkat gagangnya, dia memutar Sambungan Layanan Bantuan. Tiga puluh detik kemudian, Becker mendapatkan nomor kantor utama klinik itu.

Terlepas di negara mana, sepertinya ada kemiripan di semua kantor: Tidak ada yang tahan terhadap deringan telepon. Tidak peduli ada berapa pelanggan yang menunggu untuk dilayani, si sekretaris akan meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya untuk menjawab telepon.

Becker menekan nomor dengan enam angka tersebut. Sebentar lagi dia akan tersambung dengan kantor utama. Pastinya, akan ada seorang Kanada dengan pergelangan tangan patah dan gegar otak yang masuk hari ini. Berkasnya akan mudah ditemukan. Becker tahu kantor ini akan ragu-ragu memberikan nama dan alamat orang ini pada pihak asing, tetapi dia mempunyai sebuah rencana.

Telepon itu mulai berdering. Becker menebak hanya perlu lima deringan. Ternyata ada sembilan belas.

“Clinica de Salud Publica,” gonggong si sekretaris yang repot.

Becker berbicara dalam bahasa Spanyol dengan aksen Amerika-Perancis yang kental. “Ini David Becker. Saya dari Kedubes Kanada. Salah seorang warga saya dirawat di sini hari ini. Saya ingin meminta informasi tentang dia agar Kedubes bisa mengatur pembayarannya.”

“Baiklah,” kata wanita itu. “Saya akan mengirimkannya ke Kedubes hari Senin.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.