Baca Novel Online

Digital Fortress

Becker menunggu beberapa kendaraan melintasi Ave-nida Borbolla. Dia berpikir bagaimana jika Susan telah menduga yang terburuk. Bukan kebiasaan Becker untuk tidak menelepon jika dia sudah berjanji.

Becker melangkah ke bulevar berlajur empat itu. “Masuk dan keluar,” bisiknya sendiri. “Masuk dan keluar.” Becker terlalu sibuk sehingga tidak memerhatikan seorang pria dengan kaca mata berbingkai kawat yang sedang memerhatikannya dari seberang jalan.

***

18

NUMATAKA BERDIRI di depan jendela kaca besar di dalam pencakar langitnya di Tokyo sambil mengisap cerutunya dalam-dalam dan tersenyum pada dirinya sendiri. Dia hampir tidak percaya akan nasib baiknya. Dia telah berbicara dengan orang Amerika itu lagi, dan apabila semua berjalan sesuai dengan jadwal, Ensei Tankado pasti sudah disingkirkan saat ini, dan salinan kunci sandi miliknya pasti sudah disita.

Sungguh ironis, pikir Numataka bahwa dirinyalah yang akhirnya memiliki kunci sandi milik Ensei Tankado. Dia pernah bertemu dengan Tankado sekali beberapa tahun yang lalu. Pemrogram muda yang baru lulus kuliah dan sedang mencari kerja itu pernah datang ke Numatech Corp. Numataka menolaknya. Tidak diragukan lagi bahwa Tankado sangat cemerlang, tetapi pada saat itu ada pertimbangan-pertimbangan lain. Walaupun Jepang saat itu sedang mengalami perubahan, Numataka masih tetap kolot. Dia hidup dengan keyakinan menboko—kehormatan dan penampilan. Kecacatan tidak bisa ditoleransi. Jika dia mempekerjakan seorang cacat, dia akan mempermalukan perusahaannya. Dia membuang surat keterangan riwayat hidup Tankado tanpa dilirik sekali pun.

Numataka melihat jamnya lagi. Si orang Amerika, North Dakota, seharusnya sudah menelepon dari tadi. Numataka merasa sedikit gugup. Dia berharap tidak ada yang salah.

Jika kunci sandi tersebut sehebat yang dijanjikan, kunci tersebut akan meluncurkan sebuah produk yang paling dicari di abad komputer ini—sebuah alogaritma sandi digital yang tidak terkalahkan. Numataka bisa menanamkan alogaritma tersebut ke dalam kepingan VSLI antirusak yang tersegel dan dijual secara massal kepada para pembuat komputer, pemerintahan, industri, dan mungkin bahkan kepada pasar gelap … pasar gelap dunia teroris.

Numataka tersenyum. Kelihatannya, seperti biasanya, dia telah dibantu oleh shichigosan—ketujuh dewa keberuntungan. Numataka Corp. akan segera menguasai satu-satunya salinan Benteng Digital yang ada. Dua puluh juta dolar adalah jumlah yang besar—tetapi mengingat produknya, itu sangat murah.

***

19

“BAGAIMANA JIKA ada orang lain yang mencari cincin itu?” tanya Susan yang tiba-tiba merasa gugup. “Mungkinkah Da-vid berada dalam bahaya?”

Strathmore menggelengkan kepalanya. “Tidak ada orang lain yang tahu tentang keberadaan cincin itu. Karena itulah aku mengirim David. Aku ingin menjaganya agar tetap begitu. Setansetan penasaran biasanya tidak menguntit guru bahasa Spanyol.”

“Dia seorang profesor,” koreksi Susan yang segera menyesali perkataannya. Kadang-kadang Susan merasa David tidak cukup pantas di mata sang komandan. Sepertinya Strathmore berpikir bahwa Susan bisa mendapatkan yang lebih baik daripada seorang guru sekolah.

“Komandan,” lanjutnya, “jika Anda memberi penjelasan kepada David melalui telepon mobil pagi ini, seseorang bisa saja menyadap-”

“Satu berbanding sejuta,” sela Strathmore dengan nada meyakinkan. “Setiap penguping harus berada sangat dekat pada saat itu dan tahu dengan pasti apa yang harus didengarkan.” Strathmore meletakkan tangannya di pundak Susan. “Aku tidak akan pernah mengirim David jika aku pikir akan berbahaya.” Strathmore tersenyum. “Percayalah. Jika ada tandatanda masalah, aku akan mengirimkan para profesional.”

Kata-kata Strathmore diputus oleh suara seseorang yang menggedor kaca Node 3. Susan dan Strathmore berpaling.

Petugas Sys-Sec Phil Chartrukian menempelkan wajahnya di kaca sambil menggedor dengan gencar dan berusaha melihat ke dalam. Apa pun yang diteriakkannya tidak bisa terdengar melalui kaca kedap suara ini. Chartrukian tampak seperti baru saja melihat hantu.

“Apa yang dilakukan Chartrukian di sini?” erang Strathmore. “Dia tidak bertugas hari ini.”

“Kelihatannya ada masalah,” kata Susan. “Mungkin dia telah melihat Run-Monitor.”

“Sialan!” desis sang komandan. “Semalam, aku secara khusus menghubungi petugas Sys-Sec yang sedang dinas dan memberitahukannya untuk tidak masuk.”

Susan tidak kaget. Membatalkan tugas seorang Sys-Sec tidaklah lumrah, tetapi tidak diragukan lagi Strathmore menghendaki privasi di dalam kubah ini.

“Sebaiknya kita menggugurkan perintah untuk TRANSLTR,” kata Susan. “Kita bisa set ulang Run-Monitor dan mengatakan kepada Phil bahwa dia tidak melihat apa-apa.”

Strathmore tampaknya telah memperhitungkan hal itu, kemudian menggelengkan kepalanya. “Belum. TRANSLTR baru bekerja lima belas jam. Aku ingin mesin itu bekerja selama 24 jam penuh—sekadar untuk menyakinkan.”

Hal itu masuk akal bagi Susan. Benteng Digital adalah yang pertama menggunakan fungsi teks-jelas berotasi. Mungkin Tankado telah melewatkan sesuatu sehingga TRANSLTR bisa memecahkannya setelah 24 jam. Tetapi Susan agak meragukan hal itu.

“TRANSLTR tetap bekerja,” Strathmore memutuskan. “Aku perlu tahu dengan pasti bahwa alogaritma ini tidak bisa dikalahkan.”

Chartrukian masih terus menggedor kaca.

Sang Komandan menarik napas panjang dan berjalan ke arah pintu kaca geser. Lempengan peka tekanan pada lantai teraktivasi dan pintu itu berdesis terbuka.

Chartrukian hampir saja jatuh ke dalam ruangan. “Pak Komandan. Saya … saya minta maaf telah mengganggu Anda, tetapi Run-Monitor … Saya telah menjalankan program pembersihan virus dan-”

“Phil, Phil, Phil,” kata sang komandan dengan ramah seraya meletakkan tangannya ke atas pundak Chartrukian untuk menenangkannya. “Pelan-pelan. Ada masalah apa?”

Dari nada suara Strathmore yang santai, tidak ada yang akan bisa menebak kalau pria itu sedang dalam masalah. Dia bergeser ke samping dan menggiring Chartrukian ke dalam dinding-dinding keramat Node 3. Sang petugas Sys-Sec melangkah masuk melewati ambang pintu dengan ragu-ragu, seperti seekor anjing yang sudah terlatih dengan baik dan tahu diri.

Dari kebingungan yang terpancar di wajah Chartrukian, sudah jelas dia belum pernah melihat sisi dalam tempat ini. Apa pun sumber kepanikannya, untuk sementara hal itu terlupakan. Chartrukian memerhatikan interior Node 3 yang mewah, barisan terminal komputernya, rak-rak bukunya, dan lampu-lampunya yang lembut. Ketika tatapan Chartrukian jatuh pada ratu Crypto yang sedang berkuasa, Susan Fletcher, dia segera memalingkan muka. Susan benar-benar membuat dirinya takut. Otak perempuan itu bekerja di tingkat yang berbeda. Dia sangat cantik, dan Chartrukian tidak bisa berkata apa-apa bila berada di dekatnya. Pembawaannya yang sederhana membuat segalanya menjadi lebih buruk.

“Ada masalah apa, Phil?” tanya Strathmore sambil membuka lemari es. “Mau minum?”

“Tidak, eh—tidak, terima kasih, Pak.” Tampaknya lidah Chartrukian jadi kelu karena tidak percaya kalau dirinya akan disambut dengan baik, “Pak … saya rasa ada masalah dengan TRANSLTR.”

Strathmore menutup lemari es dan menatap Chartrukian dengan gaya biasa. “Maksudmu Run-Monitornya?”

Chartrukian kelihatan terkejut. “Maksud Anda, Anda sudah melihatnya?”

“Tentu. TRANSLTR sudah bekerja sekitar enam belas jam, kalau aku tidak salah.”

Chartrukian kelihatan bingung. “Ya, Pak, enam belas jam. Tapi ini belum semuanya, Pak. Saya telah menjalankan program pembersih virus, dan muncul hal-hal aneh.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.