Baca Novel Online

Digital Fortress

“Komandan,” Susan membantah, “masalah ini terlalu besar untuk ditangani sendirian. Anda harus melibatkan yang lainnya.”

“Susan, kehadiran Benteng Digital menimbulkan implikasi yang besar terhadap masa depan perusahaan ini. Aku tidak ingin memberitahukan masalah ini kepada Presiden tanpa sepengetahuan Direktur. Kita sedang berada di dalam krisis dan aku akan menanganinya.” Dia menatap Susan dengan penuh arti. “Aku adalah wakil direktur operasional.” Sebuah senyum letih muncul di wajah Strathmore. “Selain itu, aku tidak sendirian. Ada Susan Fletcher di dalam timku.”

Pada saat itu juga, Susan menyadari mengapa dirinya sangat menghormati Trevor Strathmore. Selama sepuluh tahun, dalam suka maupun duka, pria itu selalu menunjukkan jalan bagi Susan. Tetap tabah. Tidak tergoyahkan. Dedikasi Strathmorelah yang membuat Susan merasa kagum—kesetiaan Strathmore yang teguh terhadap prinsip, negara, dan citacitanya. Apa pun yang terjadi, Komandan Trevor Strathmore adalah sebuah mercusuar di dalam sebuah dunia yang penuh dengan keputusan-keputusan muskil.

“Kau berada di dalam timku, kan?” tanya Strathmore.

Susan tersenyum. “Ya, Pak. Tentu saja. Seratus persen.”

“Bagus. Sekarang bisakah kita kembali bekerja?”

***

12

DAVID BECKER pernah menghadiri acara pemakaman dan melihat mayat sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang mengerikan dengan mayat yang satu ini. Mayat ini tidak seperti mayat lain yang terdandan rapi di dalam sebuah peti mati berlapis kain sutera. Mayat ini telanjang bulat dan diletakkan sekenanya di atas sebuah meja alumunium. Matanya masih belum menatap kosong tak bernyawa. Malahan kedua mata tersebut terpelintir ke atas langit-langit dengan tatapan ngeri bercampur sesal.

“Alli,” jawab letnan bergigi kuning itu. Dia menunjuk ke sebuah meja dengan setumpuk pakaian dan barang-barang pribadi lain.

“iEs todo? Hanya ini?”

“Si.”

Becker kemudian meminta sebuah kotak kardus. Si letnan bergegas mencarikannya.

Sekarang Sabtu malam, dan secara teknis rumah jenazah Sevilla seharusnya sudah tutup. Tadi letnan muda itu membiarkan Becker masuk karena ada perintah langsung dari Kepala Seville Guardia— kelihatannya si tamu Amerika ini memiliki teman-teman yang berpengaruh.

Becker menatap tumpukan pakaian itu. Ada sebuah paspor, dompet, dan kacamata; semuanya dijejalkan ke dalam salah satu sepatunya. Ada juga sebuah tas yang diambil polisi dari kamar hotel pria tersebut. Perintah untuk Becker jelas: Jangan menyentuh apa pun. Jangan membaca apa pun. Bawa saja semuanya pulang. Semuanya! Jangan ada yang tertinggal!

Becker memeriksa tumpukan itu dan mengernyit. Apa yang diinginkan NSA dari tumpukan sampah ini?

Si letnan kembali dengan sebuah kotak kecil dan Becker mulai memasukkan pakaian-pakaian tersebut ke dalamnya.

Perwira itu menyodok salah satu kaki mayat itu. “£Quien es? Siapa dia?” “Tidak tahu.”

“Kelihatannya seperti orang Cina.” Orang Jepang, pikir Becker. “Malang sekali. Serangan jantung, ya?” Becker mengangguk tanpa perhatian. “Itu yang mereka mengatakan pada saya.”

Si letnan mendesah dan menggelengkan kepalanya dengan simpatik. “Matahari Sevilla bisa sangat kejam. Hati-hati kalau keluar besok.”

“Terima kasih. Tapi saya akan segera pulang.” Perwira itu kelihatan terpukul. “Anda baru saja sampai!” “Saya tahu, tetapi orang yang membayarkan ongkos tiket pesawat saya sedang menunggu barang-barang ini.” Letnan itu terlihat tersinggung seperti layaknya orang Spanyol kalau sedang tersinggung. “Maksud Anda, Anda tidak akan menikmati Sevilla?”

“Saya pernah ke sini beberapa tahun yang lalu. Kota yang cantik. Saya sih ingin tinggal lebih lama.”

“Jadi, Anda sudah pernah melihat La Giralda?”

Becker mengangguk. Dia sebenarnya belum pernah naik ke menara Moor kuno itu, tetapi dia sudah pernah melihatnya. “Bagaimana dengan Alcazar?”

Becker mengangguk lagi, sambil mengingat malam ketika dia mendengar Paco de Lucia bermain gitar di sebuah halaman dalam—tahan Flamenco di bawah taburan bintang di dalam sebuah benteng berusia lima belas abad. Becker membayangkan seandainya dia sudah mengenal Susan waktu itu.

“Dan tentu saja ada Christopher Columbus.” Sang perwira bersemu. “Dia dimakamkan di katedral kami.”

Becker menengadah. “Masa? Saya pikir Columbus dimakamkan di Republik Dominika.”

“Enak saja! Siapa yang mengarang gosip itu? Jasad Columbus ada di sini, di Spanyol! Kupikir tadi Anda bilang Anda pernah kuliah.”

Becker mengangkat bahunya. “Pasti waktu itu saya sedang bolos.”

“Gereja Spanyol sangat bangga akan barang-barang bersejarahnya.”

Gereja Spanyol. Becker tahu, hanya ada satu gereja di Spanyol—gereja Katolik Roma. Ajaran Katolik di sini lebih kuat daripada di Vatikan.

“Tentunya kami tidak memiliki seluruh jasadnya,” lanjut sang letnan. “Solo el escroto.”

Becker berhenti berkemas dan menatap si letnan.

Solo el escroto? Dia berusaha untuk tidak tersenyum. “Hanya buah zakarnya?”

Si perwira mengangguk dengan bangga. “Ya. Ketika gereja mendapatkan sisa tubuh orang hebat tersebut, mereka menobatkannya menjadi orang suci dan membagi jasadnya ke berbagai katedral agar setiap orang dapat mengaguminya.”

“Dan kalian mendapatkan kata Becker sambil

menahan tawa.

“Oye! Itu bagian yang cukup penting!” kata si perwira membela diri. “Kami memang tidak mendapatkan sebuah rusuk atau seruas jari seperti gereja-gereja di Galisia! Anda harus tinggal dan melihatnya.”

Becker mengangguk dengan sopan. “Mungkin saya akan mampir pada saat saya meninggalkan kota.”

“Mala Suerte.” Si perwira mendesah. “Nasib buruk. Katedralnya tutup sampai misa subuh.”

“Kalau begitu lain kali saja.” Becker tersenyum sambil mengangkat kotak itu. “Saya harus pergi sekarang. Pesawat saya sedang menunggu.” Dia melihat ke sekeliling ruangan itu untuk terakhir kalinya.

“Anda membutuhkan tumpangan ke bandara?” tanya si perwira. “Saya memiliki sebuah Moto Guzzi di luar.”

“Tidak, terima kasih. Saya akan naik taksi.” Becker pernah naik sepeda motor waktu kuliah dulu dan hampir mati. Dia tidak ingin mengalami hal yang sama lagi, siapa pun yang mengendarainya.

“Terserah Anda,” kata si perwira sambil berjalan ke pintu. “Saya akan mematikan lampunya.”

Becker meletakkan kotak itu di bawah lengannya. Apakah aku sudah mendapatkan semuanya? Dia menatap mayat di atas meja itu untuk terakhir kalinya. Tubuh itu

telanjang, wajahnya ke atas menghadap ke lampu neon, tampaknya menyembunyikan sesuatu. Mata Becker tertuju ke sepasang tangan yang cacat dan janggal milik mayat itu. Becker melihat selama semenit, benar-benar memusatkan perhatiannya.

Si perwira mematikan lampu dan ruang itu menjadi gelap.

“Tunggu sebentar,” kata Becker. “Nyalakan lagi.” Lampu-lampu menyala kembali.

Becker meletakkan kotaknya di lantai dan berjalan menuju mayat itu. Dia membungkuk dan memicingkan mata ke arah tangan kanan mayat itu.

Si perwira mengikuti pandangan Becker. “Cukup jelek,

ya?”

Tetapi bukan kecacatannya yang menarik perhatian Becker. Dia melihat sesuatu yang lain. Dia berbalik ke arah si perwira. “Anda yakin semua ada di kotak ini?”

Si perwira mengangguk. “Ya. Itu saja.”

Becker berdiri sambil berkacak pinggang sebentar. Kemudian,dia mengangkat kotak itu, membawanya kembali ke meja, dan menumpahkan semua isinya keluar. Dengan hatihati, dia mengempaskan pakaian itu satu per satu. Kemudian,dia mengosongkan sepatu-sepatu itu dan membalikkannya seolah hendak mengeluarkan sebutir kerikil. Setelah memeriksa ulang semua barang, Becker mundur dan terpekur.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.