Baca Novel Online

Digital Fortress

“David ada di Spanyol?” Susan sama sekali tidak percaya. “Anda mengirimnya ke Spa- nyol?” Nada suara Susan berubah menjadi marah. “Kenapa?”

Strathmore kelihatan melongo. Kelihatan- nya dia tidak terbiasa diteriaki seperti itu, apalagi oleh kriptografer kepalanya. Dia me- natap Susan dengan bingung. Wanita itu mengamuk seperti seekor induk macan yang sedang melindungi anaknya.

“Susan,” kata Strathmore. “Kau sudah bicara dengan David, bukan? Dia sudah men- jelaskannya kan?”

Susan terlalu terkejut untuk berbicara. Spanyol? Karena itulah David membatalkan perjalanan kami ke Stone Manor?

“Aku mengirim sebuah mobil untuk menjemputnya pagi ini. Dia mengatakan akan me- neleponmu sebelum berangkat. Aku benar- benar menyesal. Aku pikir-”

“Untuk apa Anda mengirim David ke Spanyol?” Strathmore terdiam dan menatapnya. “Untuk mendapatkan kunci yang satunya lagi.”

“Kunci yang satunya apa?”

“Salinan di tangan Tankado.”

Susan menjadi bingung. “Apa maksud Anda?”

Strathmore mendesah. “Tentunya kunci sandi itu ada pada Tankado saat dia mati. Aku tidak ingin kunci itu berseliweran di dalam kamar jenazah Sevilla.”

“Jadi, Anda mengirim David?” Susan benar-benar kaget. Benar-benar tidak masuk akal. “Dia bahkan tidak bekerja untuk Anda!”

Strathmore kelihatan terpana. Belum pernah ada yang berbicara kepadanya, Wakil Direktur NSA, seperti itu sebelumnya. “Susan,” kata Strathmore sambil berusaha untuk tenang, “itulah maksudku. Aku membutuhkan-”

Sang macan menerkam. “Anda memiliki 20 ribu karyawan di bawah perintah Anda! Siapa yang memberi Anda hak untuk mengirim tunangan saya?”

“Aku membutuhkan seorang kurir sipil, seseorang yang sama sekali terlepas dari pemerintah. Jika aku menggunakan jalur resmi dan seseorang mengendus-”

“Dan David Becker adalah satu-satunya orang sipil yang Anda kenal?”

“Bukan. David Becker bukan satu-satunya orang sipil yang aku kenal. Tetapi pada pukul enam pagi tadi, segalanya berlangsung cepat. David bisa bahasa Spanyol. Dia cerdas. Aku memercayainya dan aku pikir aku telah membantunya.”

“Membantunya?” cecar Susan. “Dengan mengirimnya ke Spanyol?”

“Ya. Aku membayarnya sepuluh ribu dolar untuk satu hari kerja. Dia hanya mengambil barang-barang Tankado dan terbang pulang. Itu sebuah bantuan.”

Susan terdiam. Dia mengerti sekarang. Ini semua tentang uang. Dia ingat pada sebuah peristiwa lima bulan yang lalu, ketika rektor Universitas Georgetown menawari David sebuah promosi di departemen bahasa. Sang rektor memperingatkan bahwa jam mengajar David akan berkurang dan akan lebih banyak pekerjaan administratif, tetapi juga gajinya akan naik cukup besar. Susan ingin berteriak David, jangan terima itu. Kau akan menderita. Kita punya banyak uang—siapa yang peduli kalau di antara kita yang mendapatkannya. Tapi Susan tidak berhak berkata seperti itu. Pada akhirnya, dia mendukung keputusan David. Ketika mereka tidur malam itu, Susan berusaha berbahagia untuk David, tetapi dalam hati dia merasa bahwa hal tersebut akan berubah menjadi bencana. Ternyata dia benar—tetapi dia tidak menyangka kalau dia akan begitu benar.

“Anda membayar David sepuluh ribu dolar?” tanya Susan. “Itu tipuan kotor!”

Strathmore mulai marah. “Tipuan? Ini sama sekali bukan tipuan. Aku tidak memberitahunya tentang uang itu. Aku meminta tolong kepadanya secara pribadi. Dia setuju untuk pergi.”

“Tentu saja dia setuju! Anda atasan saya. AndaWakil Direktur NSA. Dia tidak bisa menolak.”

“Kau benar,” sentak Strathmore. “Karena itulah aku memanggilnya. Aku tidak sanggup untuk-”

“Apakah Direktur tahu Anda mengirim orang sipil?” “Susan,” kata Strathmore, kesabarannya menipis, “Direktur tidak ikut terlibat. Dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini.”

Susan menatap Strathmore dengan perasaan tidak percaya. Dia seakan tidak mengenali lagi pria yang sedang berbicara dengannya. Strathmore telah mengirim tunangannya—seorang guru—dalam sebuah misi NSA dan tidak memberi tahu pada Direktur mengenai krisis terbesar dalam sejarah NSA ini.

“Leland Fontaine belum diberi tahu?”

Strathmore telah mencapai batas kesabarannya. Dia meledak. “Susan, coba dengarkan! Aku memanggilmu karena aku membutuhkan seorang sekutu, bukan juru tanya! Aku telah mengalami pagi yang buruk. Aku men-download dokumen Tankado semalam dan duduk di samping mesin cetak sambil berdoa agar TRANSLTR bisa memecahkannya. Saat subuh, aku mencampakkan harga diriku dan menelepon Direktur—dan biar kuberi tahu, itu sebuah percakapan yang amat aku nikmati. Selamat pagi, Pak. Maaf, saya telah membangunkan Anda. Kenapa saya menelepon? Saya baru saja tahu bahwa TRANSLTR sudah ketinggalan zaman, gara-gara sebuah alogaritma yang bahkan seluruh tim Crypto-ku yang mahal belum mampu membuatnya!” Strathmore memukul meja dengan kepalan tangannya.

Susan berdiri diam. Dia tidak bersuara sama sekali. Dalam sepuluh tahun, dia baru beberapa kali melihat Strathmore mengamuk seperti ini, dan belum pernah sekali pun pada dirinya.

Sepuluh detik kemudian, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Akhirnya, Strathmore bersandar dan Susan dapat mendengar napas pria itu berangsur normal. Ketika Strathmore berbicara, suaranya tenang dan terkendali.

“Sayangnya,” Strathmore berkata pelan, “Direktur berada di Amerika Selatan. Beliau sedang ada pertemuan dengan Presiden Kolombia. Karena tidak ada yang bisa dilakukannya dari sana, aku dihadapkan pada dua pilihan—meminta beliau mempersingkat kunjungannya dan kembali, atau menangani masalah ini sendiri.” Strathmore terdiam lama. Pria itu akhirnya mendongak dan matanya yang lelah bertemu dengan mata Susan. Ekspresinya berubah menjadi lembut. “Susan, aku minta maaf. Aku lelah. Ini benar-benar mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Aku tahu kau kesal soal David. Aku tidak ingin kau mengetahui soal ini dengan cara seperti ini. Kupikir kau sudah tahu.”

Susan merasa bersalah. “Saya terlalu berlebihan. Saya minta maaf. David adalah pilihan yang baik.”

Strathmore mengangguk tanpa suara. “Dia akan kembali malam ini.”

Susan memikirkan segala hal yang telah dilalui oleh Strathmore—tekanan karena menjaga TRANSLTR, jam kerja yang panjang, dan pertemuan-pertemuan. Kabarnya, istrinya yang berusia tiga puluh tahun akan meninggalkannya. Di atas segalanya, masih ada Benteng Digital—ancaman intelijen terbesar dalam sejarah NSA, dan pria malang ini berjuang sendirian. Tidak heran jika dia seperti mau gila.

“Mengingat situasinya seperti ini,” kata Susan, “saya rasa Anda seharusnya menghubungi Direktur.”

Strathmore menggelengkan kepalanya. Sebutir keringat menetes ke atas mejanya. “Aku tidak ingin berkompromi dengan keselamatan Direktur atau mengambil risiko jika terjadi kebocoran dengan menghubunginya soal krisis besar yang tidak bisa ditanganinya ini.”

Susan sadar bahwa Strathmore benar. Bahkan pada saat seperti ini, Strathmore masih bisa berpikir jelas.

“Anda sudah mempertimbangkan untuk menghubungi Presiden?”

Strathmore mengangguk. “Ya. Aku memutuskan untuk tidak melakukannya.”

Susan sudah bisa membayangkannya. Pegawai NSA senior memiliki wewenang untuk menangani masalah-masalah intelijen yang genting tanpa sepengetahuan pihak eksekutif. NSA adalah satu-satunya organisasi intelijen yang kebal sepenuhnya dari kekuasaan federal dalam bentuk apa pun. Strathmore sering kali menggunakan hak ini. Dia lebih suka melakukan pekerjaannya tanpa diganggu.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.