Baca Novel Online

Digital Fortress

Susan kelihatan sama bingungnya. “Tetapi kita kan punya TRANSLTR. Kenapa tidak kita pecahkan?” Tetapi ketika Susan melihat wajah Strathmore, dia sadar masalahnya tidak begitu. “Oh, my God.” Susan terengah dan mendadak mengerti. “Benteng Digital disandikan dengan dirinya sendiri?”

Strathmore mengangguk. “Bingo.”

Susan benar-benar terpana. Rumus untuk Benteng Digital disandikan dengan menggunakan Benteng Digital. Tankado telah mengirim sebuah rumus matematika yang tak ternilai harganya, tetapi teks rumus tersebut telah diacak dengan menggunakan dirinya sendiri.

“Biggleman’s Safe,” gagap Susan dengan kagum.

Strathmore mengangguk. Biggleman’s Safe adalah sebuah skenario kriptografi hipotetis tentang seorang pembuat lemari besi yang menulis cetak biru sebuah lemari besi yang tidak bisa dibuka. Si perancang ingin merahasiakan cetak biru tersebut sehingga dia membuat lemari besi itu dan mengunci cetak biru itu di dalamnya. Tankado telah melakukan hal yang sama terhadap Benteng Digital. Dia melindungi cetak birunya dengan me-nyandikannya dengan rumus yang digariskan oleh cetak biru tersebut.

“Dan dokumen itu sekarang ada di dalam TRANSLTR?” tanya Susan.

“Aku men-download-nya dari situs internet Tankado seperti yang lainnya. NSA memiliki Benteng Digital; hanya saja kita tidak bisa membukanya.”

Strathmore menyodorkan sebuah guntingan surat kabar kepada Susan. Guntingan itu adalah sebuah terjemahan berisipujian dari surat kabar Nikkei Shimbun, sebuah koran Jepang yang setara dengan Wall Street Journal. Isinya menyatakan bahwa pemrogram Jepang Ensei Tankado telah menyelesaikan sebuah rumus matematika yang diklaim bisa digunakan untuk menulis kode rahasia yang tak terpecahkan. Rumus itu disebut Benteng Digital dan bisa dipelajari di internet. Sang pemrogram akan melepaskannya untuk penawar tertinggi. Kolom itu juga menyebutkan bahwa berita ini disambut baik di Jepang. Beberapa perusahaan peranti lunak di AS menyatakan bahwa klaim itu konyol, sama seperti mengubah timah menjadi emas. Mereka menuduh rumus itu sebagai bualan belaka dan tidak perlu ditanggapi serius.

Susan menatapnya. “Sebuah lelang?”

Strathmore mengangguk. “Saat ini setiap perusahaan peranti lunak di Jepang sudah men-download salinan sandi Benteng Digital dan berusaha memecahkannya. Setiap kali mereka gagal, harga tawarannya meningkat.”

“Ini konyol,” kata Susan. “Semua dokumen sandi baru tidak bisa dipecahkan kecuali dengan TRANSLTR. Benteng Digital tidak lebih dari sebuah alogaritma publik generik, dan tidak ada satu pun dari perusahaan-perusahaan itu yang bisa memecahkannya.”

“Tetapi ini sebuah taktik pemasaran yang hebat,” kataStrathmore. “Coba pikir—semua merek kaca antipeluru kebal terhadap peluru, tetapi jika sebuah perusahaan menantangmu untuk menembakkan sebuah peluru ke kaca mereka, setiap orang pasti ingin mencoba.”

“Dan orang-orang Jepang benar-benar percaya Benteng Digital berbeda? Lebih baik dari segala yang ada di pasaran?”

“Tankado mungkin saja dikucilkan, tetapi setiap orang tahu dia genius. Dia hampir menjadi tokoh pujaan di kalangan hacker. Kalau dia mengatakan bahwa alogaritmanya tak terpecahkan, memang begitulah adanya.”

“Tetapi bagi publik, memang semua alogaritma tidak bisa dipecahkan.”

“Ya kata Strathmore. “Untuk sementara.”

“Apa maksudnya?” Strathmore mendesah. “Dua puluh tahun lalu tidak ada yang membayangkan kita bisa memecahkan sandi dengan dua puluh bit. Tetapi teknologi mengalami kemajuan. Dan akan selalu seperti itu. Para pembuat peranti lunak berasumsi bahwa pada suatu saat komputer seperti TRANSLTR akan ada. Teknologi maju pesat dan akhirnya alogaritma kunci publik yang ada akan menjadi tidak aman lagi. Alogaritma yang lebih baik akan dibutuhkan agar bisa bersaing dengan komputer masa depan.” “Maksudmu Benteng Digital?”

“Tepat. Sebuah alogaritma yang tahan terhadap brute force tidak akan ketinggalan zaman, tidak peduli seberapa hebatnya komputer pemecah kode muncul. Dalam sekejap alogaritma itu akan menjadi standar dunia.”

Susan menarik napas panjang. “Tuhan, tolonglah kami,” bisiknya. “Bisakah kita ikut menawar?”

Strathmore menggelengkan kepalanya. “Tankado telah memberi kita kesempatan. Dia menyatakannya dengan jelas. Lagi pula hal itu terlalu riskan. Jika ketahuan, sama saja kita mengakui bahwa kita takut pada alogaritmanya. Kita akan melakukan pengakuan kepada umum bahwa kita tidak saja memiliki Benteng Digital, tetapi juga bahwa Benteng Digital itu kebal.

“Kapan batas waktunya?”

Strathmore mengernyit. “Tankado berencana mengumumkan penawar tertinggi besok siang.”

Susan merasakan perutnya menegang. “Kemudian?”

“Rencananya, dia akan memberikan kunci sandinya kepada sang pemenang.”

“Kunci sandi?”

“Bagian dari taktiknya. Setiap orang memiliki alogaritmanya, jadi Tankado hanya perlu melelang sebuah kunci sandi untuk membuka alogaritma tersebut.”

Susan mengerang. “Tentu saja.” Semuanya sempurna. Bersih dan sederhana. Tankado telah menyandikan Benteng Digital, dan hanya dia sendiri yang memegang kunci untuk membukanya. Susan merasa sulit untuk membayangkan bahwa pada suatu tempat di luar sana—mungkin tertulis pada secarik kertas di dalam kantong Tankado— ada sebuah kunci sandi dengan 64 karakter yang dapat mengakhiri riwayat intelijen AS selamanya.

Susan mendadak merasa mual ketika membayangkan hal tersebut. Tankado akan menyerahkan kunci sandinya kepada penawar tertinggi dan perusahaan itu akan membuka dokumen Benteng Digital. Kemudian, perusahaan itu mungkin akan menanamkan alogaritma itu ke dalam sebuah cip atau keping antirusak dan, dalam kurun waktu lima tahun, setiap komputer akan dilengkapi dengan sebuah cip Benteng Digital. Tidak ada satu pun perusahaan komersil yang bermimpi untuk membuat cip pembuat sandi, karena alogaritma pembuat sandi biasanya akan menjadi ketinggalan zaman. Tetapi tidak demikian halnya dengan Benteng Digital. Dengan sebuah fungsi teks-jelas yang berotasi, tidak ada brute force attack yang bisa menemukan kunci yang cocok. Sebuah pembuat sandi digital standar. Sekarang dan selamanya. Setiap kode tidak akan bisa dipecahkan. Para bankir, pialang, teroris, mata-mata. Satu dunia—satu alogaritma.

Anarki.

“Apa saja pilihan kita?” Susan bertanya. Dia sadar betul bahwa pada saat genting seperti ini, langkah-langkah yang nekat perlu diambil, bahkan di dalam NSA.

“Kita tidak bisa membunuh Tankado, jika itu maksudmu.”

Memang itulah maksud Susan. Selama bertahun-tahun di NSA, Susan telah mendengar gosip tentang hubungan agensi tersebut dengan para pembunuh bayaran andal tingkat dunia—para tenaga sewaan yang diperbantukan untuk melakukan tugas kotor di kalangan intelijen.

Strathmore menggelengkan kepalanya. “Tankado ter-

lalu cerdas bagi kita untuk bertindak seperti itu.” Anehnya, Susan merasa lega. “Dia dilindungi?” “Tidak juga.” “Bersembunyi?”

Strathmore mengangkat bahunya. “Dia telah meninggalkan Jepang. Dia berencana memeriksa semua penawaran melalui telepon. Tetapi kita tahu di mana dia berada.”

“Dan Anda tidak berencana untuk bertindak?”

“Tidak. Dia mempunyai jaminan. Dia memberikan sebuah salinan kunci sandinya kepada pihak ketiga yang tidak diketahui namanya … kalau-kalau sesuatu terjadi”.

Tentu saja, Susan kagum. Seorang malaikat pelindung. “Dan jika sesuatu terjadi pada Tankado, orang rahasia ini akan menjual kuncinya?”

“Lebih buruk lagi. Jika ada yang melukai Tankado, rekannya akan memublikasikan kunci tersebut.”

Susan kelihatan bingung. “Rekannya akan memublikasikan kunci tersebut?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.