Baca Novel Online

Digital Fortress

PROLOG

PLAZA DE ESPAGA SEVILLA, SPANYOL 11:00 siang

Konon, dalam kematian, segalanya menjadi jelas. Sekarang Ensei Tankado tahu bahwa hal itu benar. Sambil mencengkeram dadanya dan terjatuh ke tanah kesakitan, lelaki itu menyadari kengerian akibat kesalahan yang dibuatnya.

Orang-orang bermunculan dan berkerumun di sekitar Ensei Tankado. Mereka mencoba menolongnya. Tetapi Tankado tidak menginginkan pertolongan—sudah terlambat.

Tankado gemetar, mengangkat tangan kirinya, dan mengulurkan jari-jarinya. Lihatlah tanganku! Wajah-wajah di sekitarnya menatap dirinya, tetapi dia tahu mereka tidak mengerti.

Pada jari Tankado terdapat sebuah cincin emas berukir. Untuk sejenak, ukiran pada cincin itu berkilau di bawah matahari Andalusia. Ensei Tankado sadar bahwa itu adalah cahaya terakhir yang dia lihat.

***

1

MEREKA BERADA di Smoky Mountains, di penginapan favorit mereka. David sedang tersenyum pada Susan. “Apa pendapatmu, Manis? Mau menikah denganku?”

Sambil menengadah dari tempat tidur berkelambu mereka, Susan tahu bahwa Davidlah orangnya. Selamanya. Pada saat menatap ke dalam mata kekasihnya itu yang berwarna hijau tua, Susan mendengar bunyi lonceng yang memekakkan telinga di suatu tempat di kejauhan, dan pria itu pun menjauh. Susan berusaha menggapai David, tetapi tangannya hanya menggapai kekosongan.

Dering teleponlah yang membuat Susan terbangun dari mimpinya. Dengan terengah-engah dan terduduk di atas tempat tidur, wanita itu menggapai gagang teleponnya. “Halo?”

“Susan, ini David. Apakah aku telah membangunkanmu?”

Susan tersenyum dan berguling di tempat tidurnya. “Aku baru saja bermimpi tentang kamu. Kemarilah dan bermain cinta denganku.”

David tertawa. “Di luar masih gelap.”

“Mmm.” Susan mengerang dengan sensual. “Kalau begitu kemarilah. Kita bisa main lebih lama sebelum berangkat.”

David mendesah kecewa. “Untuk itulah aku menelepon. Ini tentang perjalanan kita. Aku terpaksa menundanya.”

Susan mendadak tersadar sepenuhnya. “Apa!”

“Aku sangat menyesal. Aku harus keluar kota. Aku a-kan kembali besok. Kemudian, kita bisa berangkat pagi-pagi sekali. Kita masih punya dua hari.”

“Tapi aku sudah memesan kamar,” kata Susan dengan perasaan terluka. “Aku berhasil mendapatkan kamar yang pernah kita tempati di Stone Manor.” “Aku tahu, tapi-”

“Malam ini seharusnya menjadi istimewa—perayaan enam bulan pertemuan kita. Kau masih ingat kan bahwa kita telah bertunangan?”

“Susan,” David mendesah. “Aku benar-benar tidak bisa membicarakan hal ini sekarang. Mobil jemputan sedang menungguku di luar. Aku akan meneleponmu dari pesawat dan menjelaskan semuanya.”

“Pesawat?” ulang Susan. “Apa yang sedang terjadi? Kenapa pihak universitas …?”

“Bukan universitas. Aku akan menelepon lagi dan menjelaskannya nanti. Aku harus pergi sekarang. Mereka sudah memanggilku. Aku akan menghubungimu. Aku janji.”

“David!” jerit Susan. “Apa yang-” Terlambat. David telah menutup teleponnya. Susan Fletcher berbaring selama beberapa jam. Dia menunggu David menelepon kembali. Tetapi telepon itu tidak berdering.

SORE ITU, Susan terduduk dengan sedih di bak mandinya. Dia membenamkan dirinya di dalam air bersabun dan mencoba melupakan Stone Manor dan Smoky Mountains. Di manakah David berada? Susan bertanya-tanya. Kenapa David beium menelepon?

Perlahan-lahan, air di sekeliling Susan berubah dari panas menjadi suam-suam kuku, dan akhirnya dingin. Susan baru saja akan keluar dari bak ketika telepon nirkabelnya berdering. Susan meloncat berdiri dan mencipratkan air ke lantai ketika dia berusaha meraih gagang telepon yang diletakkannya di wastafel.

“David?”

“Ini Strathmore,” balas sebuah suara.

Susan terkulai. “Oh.” Susan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Selamat sore, Komandan.”

“Mengharapkan pria yang lebih muda?” sang suara terkekeh.

“Tidak, Pak,” jawab Susan merasa malu. “Ini tidak seperti yang-”

“Tentu saja.” Pria itu tertawa. “David Becker adalah pria yang baik. Jangan sampai kehilangan dia.” “Terima kasih, Pak.”

Suara sang komandan mendadak berubah menjadi serius.”Susan, aku menelepon karena aku membutuhkan-mu di sini. Sekarang.”

Susan berusaha memusatkan perhatiannya. “Sekarang hari Sabtu, Pak. Biasanya kita tidak-”

“Aku tahu,” jawabnya dengan tenang. “Ini urusan darurat.”

Susan terduduk tegak. Darurat? Susan tidak pernah mendengar kata itu keluar dari mulut Komandan Strathmore. Sebuah urusan darurat? Di Crypto? Dia tidak bisa membayangkannya. “Y-ya, Pak.” Susan terdiam sejenak.

“Saya akan ke sana secepat mungkin.”

SUSAN FLETCHER berdiri dalam balutan sebuah handuk dan meneteskan air ke atas baju-baju yang terlipat rapi yang sudah disiapkan malam sebelumnya—celana pendek untuk hiking, sebuah baju hangat untuk malam-malam di pegunungan yang sejuk, dan sebuah baju dalam yang khusus dibelinya untuk malam-malam tersebut. Dengan perasaan kecewa, dia pergi ke lemarinya untuk mengambil sebuah blus bersih dan rok. Sebuah urusan darurat? Di Crypto?

Ketika turun ke lantai bawah, Susan bertanya-tanya bagaimana hari itu bisa bertambah buruk. Susan akan segera tahu.

***

2

TIGA PULUH ribu kaki di atas permukaan samudra yang tenang, David Becker menatap dengan sedih dari jendela lonjong kecil pesawat Learjet 60. Dia diberi tahu bahwa telepon di pesawat tidak berfungsi. Dan sekarang dia tidak bisa menghubungi Susan.

“Apa yang sedang aku lakukan di sini?” David menggerutu. Tetapi jawabannya sederhana—ada orang-orang yang kepadanya kamu tidak bisa bilang tidak.

“Mr. Becker,” pengeras suara berderak. “Kita akan tiba setengah jam lagi.”

David Becker mengangguk sedih pada suara tak berwujud itu. Bagus. Dia menutup jendela dan mencoba untuk tidur. Tetapi dia hanya bisa memikirkan Susan.

***

3

SEDAN VOLVO milik Susan berhenti di bawah bayangan pagar Cyclone yang menjulang setinggi sepuluh kaki dan berkawat duri.

“Tolong identitas Anda.”

Susan menuruti petugas itu dan bersabar menunggu selama setengah menit. Petugas tersebut memeriksa kartu Susan dengan alat pembaca di komputernya. Akhirnya, petugas itu selesai. “Terima kasih, Ms. Fletcher.” Pria itu tersenyum samar dan pintu gerbang pun terbuka.

Setengah mil kemudian, Susan mengulangi prosedur yang sama di depan pagar berarus listrik. Ayo dong … Aku kan sudah jutaan kalike sini.

Ketika Susan mendekati pos pemeriksaan terakhir, seorang penjaga kekar dengan dua ekor anjing penjaga dan sebuah senapan mesin melihat plat nomor mobilnya dan mengisyaratkan wanita itu untuk lewat. Susan menelusuri jalan Canine sejauh 250 yard dan melaju ke Kawasan Karyawan C. Tidak bisa dipercaya, pikir Susan. Dua puiuh enam ribu karyawan dan dana sebesar 12 miliar dolar. Orang-orang pasti mengira perusahaan ini bisa melewati akhir pekan ini tanpa aku. Susan mengarahkan mobilnya ke tempat parkir pribadinya dan mematikan mesin.

Setelah melintasi teras yang bertaman dan memasuki gedung utama, Susan melewati dua pos pemeriksaan internal lagi. Dia akhirnya sampai pada lorong tidak berjendela yang mengarah ke sayap baru. Sebuah kotak tempat mesin pembaca suara menghalangi jalannya.

NATIONAL SECURITY AGENCY (NSA) Agensi Keamanan Nasional FASILITAS CRYPTO HANYA BAGI YANG BERKEPENTINGAN

Seorang penjaga bersenjata menyapa Susan, “Selamat sore, Ms. Fletcher.”

Categories:   Fiksi

Comments