Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

menaikkan daya putarnya. Ia memiliki 6 skala kecepatan. Bagiku, skala-skala itu adalah anak- anak tangga sensasi. Aku biasa memakai skala 2 yang lembut dan santun. Yamuna pun tampaknya nyaman. Sesekali aku minta izin padanya untuk naik ke skala 3. Yamuna mengerling tanda setuju, namun aku tak tega. Dia sering kehabisan napas jika terlalu kencang.

Suhu kian panas. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dengkur Paman di atas kursi malas kian keras. Rustam menyusul Paman. Ia tertidur dengan wajah tertelungkup di atas meja. Aku menyusul Rustam.

Namun, belum lama aku terlena, sontak aku terbangun karena suara yang keras dari dapur warung. Aku tahu, itu suara Yamuna. Na! Siapa yang telah lancang menghidupkannya tanpa izinku? Alat itu berada dalam tanggung jawabku! Gawat! Aku melompat dan menghambur ke dapur. Sampai di sana, kulihat Paman tengah memasukkan biji-biji kopi yang kasar ke dalam blender itu.

“Man, apa-apaan ini! Kopi ini belum digerus, alat itu bisa rusak!” paman tak menjawab
tapi tersenyum lebar. Tangannya gesit menekan biji kopi kasar. Aku berteriak-teriak menyuruhnya berhenti. Suaraku bersaing dengan suara blender. Paman tak peduli.

“Tak apa-apa, Boi,” katanya riang. Ia malah memutar tombol kecepatan sampai 5. Padahal, selama memakainya aku hanya tega sampai angka 3. Itu pun setelah minta izin
dengan sungkan pada Yamuna. Maka, meraung-raunglah blender itu seperti hewan kena siksa. Aku tak sampai hati melihatnya.

“Tenanglah, Boi. Tak ada masalah.”

Paman terus menekan biji-biji kopi yang kasar. Situasi menjadi berantakan karena bubuk kopi yang penuh diputar oleh baling-baling blender yang kencang mulai berhamburan. Paman malah semakin senang seperti anak kecil menemukan mainan yang asyik dan celaka! Ia memutar lagi kecepatan blender sampai angka maksimum 6, pol! Aku berteriak histeris mencegahnya. Ia tetap tak peduli. Ia malah terbahak-bahak melihat alat itu meronta-ronta dan menghamburkan bubuk kopi. Lalu Paman mematikan blender disertai satu senyum puas yang mengerikan. Alat yang malang itu berdesing, berdengung, mendesau, lalu diam. Paman mengambil sedikit bubuk kopi, memasukkannya ke dalam cangkir lalu menyeduhnya.

Paman berlalu, meninggalkanku yang gemetar karena tak dapat menanggungkan perasaan miris dan tragedi yang menimpa Yamuna.

Kuhampiri ia. Ia megap-megap dan tampak sangat menderita. Yang dapat kulakukan hanya menenangkannya. Kulihat kiri-kanan, tak ada siapa-siapa, kupeluk ia. Ia menatapku seperti mengadu. Aku berpaling melihat Paman. Ia duduk santai di atas kursi goyangnya
sambil tersenyum-senyum dan menghirup kopi. Aku benci melihatnya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.