Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Lelaki Melayu memang peminum kopi sejak masa nenek moyang, tapi mereka minum kopi buatan istri di rumah. Pernah pula ada satu masa ketika kopi dianggap seperti rokok sehingga perempuan yang minum kopi dianggap tidak patut.

Warung kopi kemudian berkembang menjadi tempat para pendulang timah saling mengadukan nasib sekaligus gedung parlemen tempat mereka melakukan tugas legislatif tak remi untuk mempertengkarkan sepak terjang pemerintah. Namun, sejak tahun sembilan puluhan, sejak maskapai timah gulung tikar, warung kopi kian banyak bermunculan. Mungkin karena makin banyak yang dikeluhkan.

Lambat laun warung-warung itu membentuk sistem sosialnya sendiri. Maka, kami punya warung kopi dengan menu kopi miskin, yaitu kopi bagi mereka yang melarat sehingga tak punya uang cukup untuk membeli kopi biasa. Namun, ganjarannya, ia mendapat kopi tanpa gula sebab harga gula mahal. Maka, kopi miskin adalah kopi pahit, sepahit-pahitnya, seperti nasib pembelinya.

Pamanku yang berjiwa lapang dan merupakan umat Nabi Muhammad yang amat pemurah, menyediakan kopi miskin dalam menu warungnya. Sesekali, secara diam-diam pamanku menyuruh kami menambahkan gula untuk kopi miskin, karena ia tak sampai hati pada kaum papa itu. Namun, aneh, pembeli melarat telah terbiasa dengan kopi miskin malah tak menyukai hal itu. Pelajaran moral nomor 22: kemiskinan susah diberantas karena pelakunya senang menjadi miskin.

Tak jarang, orang-orang dari partai politik rapat di warung kami. Kadang kala orang- orang ternama mampir. Warung kami telah menjadi tempat pertandingan catur, tempat orang berunding soal bisnis, tempat kampanye, tempat menenangkan diri jika sedang ribut dengan istri, tempat bertemu bagi yang tengah kasmaran, dan tempat membuat janji-janji bagi cinta yang terlarang. Aku takjub menemukan diriku menjadi bagian dari fenomena warung kopi. Saban hari, dari para peminum kopi, ada saja pengalaman menarik yang membuatku berpikir sambil tersenyum. Pengalaman makin menjadi sejak ada blender itu.

Sesuai dengan amanah yang telah diembankan Paman ke atas pundakku, serta titahnya yang sangat keras agar aku mengoperasikan dan merawat blender itu dengan sopan, aku benar – benar cermat dengan alat itu. Tak terbayangkan murka Paman jika terjadi sesuatu padanya. Maka, kuikuti dengan teliti manualnya. Ia tak kupakai jika tak terpaksa. Bubuk kopi yang kumasukkan ke dalamnya kugerus dengan halus sebelumnya dengan kisaran sehingga ia tak perlu bekerja terlalu keras. Selesai kupakai, kubuka komponen-komponennya, kubersihkan dengan teliti, kutiup-tiup, bahkan kumasukkan lagi ke dalam kotaknya. Paman puas dengan performaku.

Lambat laun, terjalinlah hubungan emosional antara aku dan blender itu. Aku terpesona akan kecerdasan di balik sistem elektronika dan mekanikanya. Ia adalah inst rumen

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.