Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

seat belt-ku. Kami mengenakan helm. Diserahkannya topi pilotnya padaku sambil menatapku dengan kesan jika sampai terjadi sesuatu pada topi itu, ia takkan ragu mencekik leherku.

Chip menghidupkan sirene dan mulai mengayuh. Para tetangga celangak-celinguk melalui jendela. Rupanya sudah menjadi kebiasaan, jika Chip membunyikan sirene, mereka menyemangatinya. Roda sepeda berputar lambat karena piring belakang hanya bergigi tujuh. Rancangan piring begitu memang diniatkan untuk memakai sepeda secara kesetanan. Chip mengitari rumah. Ia menggerung mengerahkan seluruh tenaga. Setelah putaran ketiga, diiringi sorak-sorai tetangga dan raungan sirene, Chip melesat ke jalan raya dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Sejurus kemudian, semua kekonyolan yang tak tertanggungkan tadi segera berubah menjadi horor. Chip menundukkan tubuh. Ia berkonsentrasi penuh pada jalan di depannya dan ngebut sekuat-kuat tulangnya. Udara bersuit-siut diterabas sepeda yang melesat sangat deras. Rasanya aku tak percaya sedang naik sepeda. Kutaksir kecepatan kami mencapai 70 kilometer per jam. Beberapa kali kami melewati sepeda motor. semua hal yang sering dibesar- besarkan orang tentang Chip dan sepedanya benar-benar bukan berita kosong!

Situasi berubah menjadi tidak lucu lagi, tapi berbahaya. Chip dan piring gigi ganjil kesayangan Tuhan itu menunjukkan watak aslinya. Ketujuh giginya patuh pada hukum fisika, yakini setelah mencapai akselerasi yang sempurna, ia malah semakin mudah dikayuh. Hanya tenaga pancal, daya ikat mur sepeda, dan kecelakaan tertungging di parit, yang dapat menghalanginya melaju seperti kuda terbang. Aku berteriak histeris menyuruh Kapten Chip mengurangi kecepatan, dia tak peduli. Lantaran dia telah terlempar ke dalam dunianya sendiri, di mana ia adalah pilot dan sepedanya adalah pesawat Fokker 28.

Aku gemetar di tempat duduk belakang. Saking kencangnya, jika mulutku terbuka, rasanya gigiku bergoyang. Sepeda meluncur meninggalkan debu. Dilihat dari jauh, kami tak ubahnya film kartun. Kupejamkan mata menahan perasaan ngeri dengan mulut komat-kamit memuja-muji Nabi Muhammad. Jika jalan jelek, Kapten Chip berteriak.

“Kencangkan sabuk pengaman, Boi, cuaca buruk!”

Setiap memasuki kampung, di menyalakan sirene. Anak-anak berhamburan ke pinggir jalan untuk melihat aksinya. Kapten chip melambai-lambai pada mereka.

Tanpa kusadari, kami telah memasuki Tanjong Pandan. Orang-orang kota yang melihat kami ternganga mulutnya lalu terpingkal-pingkal. Memang sungguh lucu melihat dua orang bersepeda menyilaukan, berhelm balap, penumpangnya diikat dengan tali sambil memegang topi pilot. Akhirnya, kami sampai di Warnet. Kulihat arloji. Astaga! Chip mampu
mencapai Tanjong Pandan kurang dari satu setengah jam!

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.