Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Sesekali Matarom dan Mitoha hadir di warung kopi untuk melakukan ekshibisi, misalnya, catur simultan atau membunuh cepat dengan batas tempo tertentu. Perwira-perwira catur perak hitam berdiri tegak dalam formasi perang nan garang. Wajah mereka tak menyisakan selembar pun belas kasihan pada lawan.

Jika Matarom datang, pegawai negeri pulang cepat. Tak peduli sanksi tata tertib. Toko- toko tutup. Terasi dirubung lalat. Busuk ikan di stanplat. Warung-warung kopi lain menjadi sepi lantaran semua orang berhamburan untuk melihat papan catur perak yang misterius dan menyaksikan sepak terjang Rezim Matarom. Setiap kali Matarom memegang buah hitam perak, para penonton menahan napasnya.

Sementara itu, Maryamah dan Alvin and the Chipmunks, susah payah memahami maksud Grand Master. Aku salut pada tekad Maryamah. Ia mengulangi petunjuk Grand Master sampai beratus-ratus kali, tak pernah lelah. Sebaliknya, kutemukan pula bakat Alvin. Ia memang nakal, tapi rupanya ia memang anak yang cerdas. Bukankah anak yang cerdas selalu anak yang nakal? Namun, anak pendiam juga sering merupakan anak yang cerdas. Macam aman bisa begitu? Aku tak tahu.

Dengan cepat, Alvin menguasai kode-kode diagram catur. Bahkan, dengan iseng ia mampu membuat isyarat lewat jemarinya untuk kode-kode tertentu. Jari telunjuk ke atas, artinya pembukaan India. Jari telunjuk ke bawah, pembukaan Perancis. Dalam pada itu, aku mencatat kemajuan Maryamah dan melaporkannya pada Grand Master. Aku gembira waktu dia berkata bahwa Maryamah telah menerjemahkan instruksinya dengan benar.

“Aku tertarik pada pola pertahanannya. Sangat menjanjikan.”

Namun, aku tetap saja gugup sebab lawan yang bisa dikalahkan Maryamah barulah aku dan Alvin and the Chipmunks. Itu sama sekali tak bisa dijadikan ukuran. Karena aku memang tak pernah menang melawan siapa pun, sedangkan Alvin and the Chipmunks, tak lebih dari anak kelas 4 SD yang tak bisa diam. Apalagi, Aziz telah sesumbar pada Mahmud, penyiar Radio AM Suara Pengejawantahan.

“Dua puluh langkah! Dua papan tak terbalas,” katanya bicara sekehendak hatinya
untuk majelis pendengar yang budiman. Kurang ajar betul lelaki ex-player itu. Wajar saja sudah dua istri minggat darinya.

Akhirnya, hari pertandingan tiba. Malamnya, tak sepicing pun aku bisa tidur. Aku yakin Detektif, Preman Cebol, Giok Nio, Selamot, Alvin, dan Jose Rizal, juga mengalami malam yang panjang. Esok sore semuanya akan ditentukan. Sangat berbeda dengan Maryamah. Aku berjumpa dengannya pagi hari sebelum pertandingan itu. Tampak jelas ia tak yakin apakah akan menang atau kalah, namun dia gembira. Mungkin karena dia telah
mendapatkan medan peperangannya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.