Novel Cinta Di Dalam Gelas

Cinta Di Dalam Gelas

mendatang dapat men-clone, menciptakan lagi masyarakat Melayu seperti adanya sekarang di kampungku. Hebat luar biasa, menjadi seorang pemimpi sungguh tak terperikan hebatnya.

Namun, mimpi itu hanya akan terwujud jika aku paham ilmu budaya. Maka, kubuka lagi buku-buku lamaku waktu kuliah dulu. Kubuka lembar -lembar teori Doktor Hofstede, ilmuwan Belanda yang ciamik itu. Ketika membacanya, rasanya ada topi lucu dengan tali berjuntai-juntai di depan wajah, mirip kopiah pengantin Melayu.

Aku semakin bersemangat karena rupanya aku telah diajar oleh seorang profesor yang bermutu tinggi, dan aku telah membuat makalah-makalah yang mendapat nilai cukup memuaskan. Lalu, aku berpikir keras bagaimana memodifikasi model-model ciptaan Doktor Hofstede untuk membedah watak orang Melayu udik. Sebuah tantangan sains yang dahsyat.

Ternyata hasil dari modifikasi yang canggih itu sangat mengejutkan, yaitu kutemukan kesimpulan yang sangat ilmiah bahwa mereka yang memesan kopi sekaligus memesan teh— adalah mereka yang baru gajian. Mereka yang memesan kopi, tapi takut-takut menyentuhnya-
–uang di sakunya tinggal seribu lima ratus perak. Mereka yang tak menyentuh gelas kopi, tapi menyentuh tangan gadis pelayan warung—pemain organ tunggal. Mereka yang minum dari gelas kosong, seolah-olah ada kopi di dalamnya—sakit gila nomor 27. Mereka yang tidak
minum kopi, tapi makan gelasnya—kuda lumping.

Mereka yang mau ke warung kopi, tapi gengsi—bupati. Mereka yang memandangi orang minum kopi—ajudan bupati. Mereka yang membuka warung kopi, tapi tidak laku— mantan bupati. Mereka yang tidak membelikan polisi kopi—bukan kawan polisi. Tentara yang datang ke warung kopi—dapat izin menginap dari komandan. Mereka yang senang kopi yang
dingin—tak punya bulu hidung.

Mereka yang minum kopi dengan sedotan—bukan pacar biduan. Mereka yang menjual kopi dengan harga lebih dari sepuluh ribu rupiah—pemuja setan. Anak yang disuruh ibunya
membeli kopi, tapi pulang membawa terasi—waktu kecil pernah kena sawan.

Mereka yang mencuri gelas milik warung kopi—pernah bersalaman dengan presiden. Mereka yang mengembalikan lagi gelas yang dicuri itu ke warung kopi—bodoh sekali. Mereka yang minum kopi merek ayam beranak—tidak ada karena tidak ada kopi merek ayam beranak. Mereka yang minum lima gelas kopi—peragu. Mereka yang minum tujuh gelas kopi-
–pemalu. Mereka yang berpura-pura suka kopi—penerbit buku. Mereka yang minum kopi,
tapi tidak habis—penerjemah novel ke dalam bahasa Inggris.

Lelaki (30), bujangan, yang minum kopi sambil tersenyum simpul—bujang lapuk karena sengaja. Lelaki (30), bujangan, yang minum kopi dengan waswas—bujang lapuk karena tak laku-laku. Mereka yang minum kopi dan uangnya dapat berubah menjadi daun—hantu. Mereka yang minum kopi sambil marah-marah—rokoknya terbalik. Mereka yang minum kopi
sambil menyingsingkan lengan baju—baru membeli arloji.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161

  1. nurafiah says:

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix…

  2. ademilce antibe says:

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?

Leave a Reply