Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Mozaik 20

Bitun

ADUH, minta ampun udiknya Bitun itu. Kesana harus melewati tiga macam jalan. Mulanya aspal, terus batu merah, lalu jalan pasir yang meliuk-liuk sesuka hatinya seperti ular manau. Tempat itu adalah ujung dari ujung kampung orang Melayu yang paling ujung. Setelahnya hanya Laut China Selatan yang bergelora. Maka, Bitun bisa disebut sebagai the last frontier kebudayaan Melayu. Lokasinya seperti tak sepenuh hati. Orang-orang yang pertama tinggal di sana pasti mencari-cari saja sekenanya daratan tak berawa untuk menancapkan empat tiang kayu gelam, lalu didindingi bambu dan diatapi daun nipah.

Maka, berdirilah belasan rumah yang mengelilingi tali air—sebutan lokal untuk sumber mata air. Bitun terpelencat dari peradaban dan terperosok ke daratan rendah dengan tepi barat ladang garam dan tepi timur rimba yang gelap. Jauh, jauh sekali, jin saja tak mau buang anak di situ.

Semuanya serbasederhana di Bitun. Mereka yang bosan dengan ketam akan bertukar rebung dengan Tetangganya. Mereka yang punya beras, bertukar dengan minyak kelapa. Mereka yang tak punya beras, ketam, rebung, dan minyak kelapa, bertukar senyum dengan siapa saja. Jika laut tenang, mereka melaut dan memanen kerang. Jika laut garang, mereka masuk ke rimba yang lebat, mencari jamur. Begitu saja ekonomi mereka.

Bahkan cinta juga sederhana. Sepasang remaja yang telah akil balig dipasang- pasangkan orangtua mereka lalu dinikahkan secara Islam. Tak ada prahara rumah tangga, tak ada talak-menalak, tak ada asmara yang tak biasa. Maka, ketika sebuah perahu dari suku orang bersarung merapat ke Bitun, dan salah satu nelayan nan gagah berani itu menaruh hati pada Selamot, kembang-kempislah hidung gadis 16 tahun itu. Lagi pula ia tengah meradang karena selalu jadi gunjingan, dianggap perawan tua.

Betapa Selamot kasmaran. Saban hari hatinya mantul-mantul. Sejak itu, tak ada yang lebih dinantikannya selain menunggu orang bersarung gitu merapat di pangkalan Bitun. Sang pria pujaan datang seminggu sekali dan melewatkan waktu tak lebih dari setengah hari.
Seminggu berikutnya tanpa melihat lelaki itu, Selamot merindu. Saban sore ia memandang

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.