Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Sang wakil rakyat rupanya telah digaji pemerintah untuk bersikap sinis pada rakyatnya. Si vokal langsung mendampratnya. Ketua harusnya bersikap netral, tapi di juga rupanya benci pada wakil rakyat itu.

“Apa aku tak malu bertanya yang tidak-tidak pada menteri?”

Sebaliknya, Paman tampak jengkel pada tokoh vokal dan Ketua Karmun sebab ia mendukung Mitoha. Ia bangkit siap-siap angkat bicara. Dipeganginya selangkangnya seperti pemain PSSI mau menghadang tendangan bebas striker Vietnam. Dadanya naik-turun. Aku ngeri melihatnya. Untunglah Ketua Karmun memberi kesempatan pada Modin dulu.

Modin yang telah melihat sendiri pemogokan kemarin tampak tak segalak macam biasanya. Paman duduk lagi.

“Alasanku menolak Maryamah adalah karena pertimbangan syariat. Tak perlu aku berpanjang-panjang dalih. Tak perlu kusitir ayat-ayatnya. Di dalam Islam, perempuan tak boleh berlama-lama bertatapan dengan lelaki yang bukan muhrimnya. Dalam pertandingan
catur, hal itu akan terjadi, dan hal itu nyata melanggar hukum agama.

Paman tampak makin tak sabar. Ia bangkit lagi

“Aku setuju dengan pendapat Mitoha tadi. Kalau perempuan ikut bertanding, bisa-bisa jatuh wibawa kejuaraan catur 17 Agustus. Aku juga sepaham dengan pendapat Modin.”

Lalu, paman menoleh kepada carik yang ditugasi Ketua Karmun menjadi notulis rapat.

“Kau dengarkah bicaraku tadi, Saudara Carik? Catat semuanya!”

Cari berlepotan mengetik komentar Paman.
“Wahai majelis yang budiman, saksikan itu!” tukas Paman sambil menunjuk carik. “bahwa setia kata dari mulutku telah dicatat. Kalau timbul satu mudarat di kemudian
hari dari persoalan Maryamah ini, aku punya bukti, hitam di atas putih, bahwa pikiranku sudah jernih sejak awa. Saudara Carik, harap kau simpan catatan yang penting itu baik-baik. Nanti pasti ada gunanya.”

Pandangan Paman yang berbelok-belok disambut riuh para hadirin. Sebagian mencibirnya karena bukannya mengurusi Maryamah, ia sibuk meyakinkan dirinya dan siapa saja. Dasar paranoid. Akibat sikap Paman yang melantur, Selamot dan Mitoha kembali bertengkar seperti pertengkaran para tukang minyak tanah di pinggir jalan. Keadaan kian kisruh lantaran Giok Nio protes sana-sini pada ketua Karmun soal banyaknya pertandingan hari kemerdekaan yang tak bisa diikuti perempuan. Panjat pinang, misalnya. Wakil rakyat ambil bagian dalam silang sengketa. Tokoh masyarakat yang vokal tadi berbicara dengan sikap
mau meninju wakil rakyat itu. Suasana menjadi sangat gaduh.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.