Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

“Lihatlah perbuatan kalian! Tak pernah perempuan di kampung ini berani macam- macam sebelumnya. Kalian telah menghasut mereka!” tangannya menunjuk-nunjukku, Giok Nio, Selamot, Detektif M. Nur, dan Preman Cebol.

“Di mana-mana tak ada perempuan bertanding catur melawan laki-laki!” bentaknya berapi-api. Hadirin segera terbagi menjadi dua kelompok, yang setuju dengan tuduhan Mitoha yang tidak. Yang tak setuju dimotori seorang tokoh masyarakat yang terkenal vokal. Di
antara yang setuju, Paman termasuk. Ia tampak sudah tak sabar mau marah-marah. Mitoha menyambung:

“Mengapa perempuan mau ikut campur? Bisa-bisa rontok wibawa pertandingan catur
17 Agustus nanti.”

Selamot tersinggung.

“Kami tidak pernah menghasut siapa pun. Itu kemauan mereka sendiri! Mengapa perempuan tak boleh ikut bertanding? Mana ada undang-undangnya bisa begitu. Jangankan hanya catur, di Jakarta sekarang ada perempuan yang mau jadi presiden!”

“Presiden mau siapa, mau laki-laki, mau perempuan, mau banci, itu urusan orang
Jakarta! Bukan urusan kita!”

Maka, meletuplah adu mulut antar Selamot dan Mitoha. Pendukung masing-masing ikut-ikutan bertengkar. Ketua Karmun susah payah melerai. Di tengah hiruk pikuk yang memanas itu, seorang wakil rakyat bangkit. Sambil membetulkan posisi cincin batu akiknya, ia
berseru, “Ini perkara rumit. Kurasa harus kita tanyakan pada menteri olahraga, apakah
perempuan boleh ikut bertanding main catur atau tidak. Jangan cemas, aku bisa berangkat ke
Jakarta untuk menanyakannya. Kebetulan istrinya adalah teman sekolah mantan istriku.”

Tokoh masyarakat yang vokal itu tak bisa menguasai diri.

“Maksudmu, biar kau bisa pelesiran ke Jakarta pakai uang rakyat? Begitukah maksudmu? Mau istri menteri itu kawan sekolah istrimu, mau kawan istrimu main kasti, itu urusan rumah tanggamu. Jangan kau bawa-bawa kemari!”

Wakil rakyat tersinggung.

“Paling tidak aku punya jalan keluar, daripada kau! Merepet saja sana-sini!”

Adu mulut meletus secara terbuka. Si vokal naik pitam.

“Paling tidak, aku berani mengatakan keburukan orang di depan hidungnya sendiri! Daripada kalian, sibuk mengurusi golongan kalian sendiri! Kalau dekat pemilu, repot betul kalian berbaik hati. Tak ada pemilu, mana ingat kalian pada kami!”

“Yang suka lempar batu sembunyi tangan adalah kau!”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.