Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Mozaik 18

Syalimah

DI TENGAH kegemparan seisi kampung membicarakan dirinya, di rumahnya yang tak ubahnya sebuah gubuk, terpencil nun di tepi kampung yang berbatasan dengan hutan, Maryamah tenggelam dalam kesedihan.

Melalui pintu kamar yang terbuka, ia menatap ibunya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Salah satu yang paling ia sesali dari kehancuran rumah tangganya adalah karena ia merasa persoalan itu telah membebani pikiran ibunya meski ibunya berulang kali mengatakan bahwa jodoh tak ubahnya umur, bisa panjang bisa pula pendek. Ibunya selalu mengatakan begitu demi membesarkan hati Maryamah. Namun, Maryamah tetap saja menyesal. Ia merasa ibunya yang renta tak sepatutnya melihat perkawinannya yang menyedihkan dan perlakuan suaminya yang buruk padanya. Maryamah telah mengalami kesulitan sejak kecil dan selalu berhasil mengatasinya. Ia telah menikahkan seluruh adiknya dan berusaha memberikan yang terbaik untuk setiap orang dalam keluarganya. Namun, cinta adalah sesuatu yang tak pernah bisa ia menangkan.

Seperti Syalimah yang hanya pernah dekat dengan seorang lelaki, jatuh cinta untuk pertama kali, dan menikah dengannya, lalu terpisah karena ditinggal mati, Maryamah pun tak mengenal banyak cinta. Waktu Matarom datang pada ibunya untuk melamar, kedua anak- beranak itu menganggap semua lelaki sebaik Zamzami. Syalimah dan Maryamah adalah perempuan-perempuan lugu, dengan cinta yang juga lugu. Mereka tak tahu bahwa cinta dewasa ini tak seperti dulu lagi. Cinta dewasa ini dapat menjadi kejam tak terperi. Mereka tak tahu, lelaki penyayang seperti Zamzami sudah susah dicari.

Minggu lalu ketika Maryamah sedang berbelanja di pasar, ia terkejut mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh. Seorang pria tergopoh-gopoh mengejarnya sambil menggandeng anak-anaknya yang tak bisa diam. Kedua anak itu, lelaki dan perempuan, saling berebut mainan. Lelaki itu menyandang tas belanjaan, memegangi tali dua balon gas, dan harus pula memegangi tangan kedua anaknya yang terus-menerus memberontak. Ia sampai di depan Maryamah. Terengah-engah.

“Aih, masih ingatkah padaku?”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.