Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

“Anak-anak kelas enam pun habis dibabatnya.”
Senyum Alvin makin tersimpul-simpul. Ia menatap Maryamah dengan pandangan yang aneh. Satu pandangan meremehkan yang bercampur satu niat tersembunyi dan bercampur lagi dengan hitung-hitungan. Kuduga niatnya itu adalah dengan cara apa ia bisa memojokkan Maryamah pada pilihan yang sulit sehingga seluruh kejadian ini dapat dialihkannya menjadi keuntungan di pihaknya, yaitu agar mendapatkan sebanyak mungkin permen telur cecak, baik dariku maupun dari Maryamah. Jika perlu, tanpa kami tahu satu sama lain. Alvin adalah perencana fait accompli tingkat mahir. Maryamah masih tertegun, bingung macam madu kena asap. Ia baru bergerak setelah kuminta agar mengganti kopi di atas meja dengan susu.
Alvin duduk di depan papan catur dengan penuh percaya diri. Dihirupnya susu panas. Usai sehirup, bibirnya menghirup udara, macam ekspresi orang dewasa merasakan nikmat kopi. Sungguh menyebalkan. Permainan pun dimulai. Langkah silih berganti. Meskipun tadi telah berjanji, mulut Alvin tak berhenti ngoceh. Sesekali ia meremehkan langkah Maryamah.
Maryamah tak terpengaruh akan sikap amatir Alvin. Dia berkonsentrasi penuh ke papan catur. Alvin menggerakkan buah catur dengan cepat karena ia merasa telah menguasai keadaan. Tampaknya ia yakin dapat menaklukkan Maryamah dalam dua belas langkah, seperti sesumbarnya. Senyum tengiknya tersungging-sungging. Tak lama kemudian, tak tahu
bagaimana kejadiannya, karena sangat cepat, sekonyong-konyong Maryamah berkata, “Sekak
mat.”
Alvin terperanjat. Ia berdiri dari tempat duduk dan tak percaya dengan matanya sendiri melihat rajanya tak bernapas kena cekik seekor luncus. Ia memelototi luncus itu, lalu mengalihkan pandangan padaku seperti minta dibela. Permen lolipop menggantung di mulutnya. Mukanya merah, matanya juga, lalu tak ada angin tak ada hujan meledaklah tangis.
Keadaan menjadi kacau. Berandalan cilik itu tak sanggup menerima kenyataan bahwa ia telah dilipat Maryamah, dan secara sangat mendadak. Ia tampak sangat tersinggung dan malu dengan sesumbarnya tadi, sekaligus tak rela permen telur cecak meluncur dari tangannya.
Kubujuk Alvin, kunasihati dia dengan nasihat standar untuk orang kalah, bahwa kalah adalah biasa dalam pertandingan; bahwa, ah aku selalu benci nasihat ini, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Padahal sebenarnya, kekalahan adalah kebodohan yang dipelihara. Alvin tak terima. Ia tersedu sedan. Tangisnya baru reda ketika Maryamah meminuminya susu. Kutanyakan padanya apakah ia mau melanjutkan pertandingan untuk menebus
kekalahannya, Alvin and the Chipmunks minta pulang.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.