Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Alvin baru mau bertanding setelah kusogok permen lolipop sepuluh tangkai. Sambil menggandeng tanganku, sepanjang jalan mulutnya merepet saja, tentang ia baru diangkat menjadi ketua kelas lalu dipecat lagi oleh gurunya karena nakal melebihi murid lainnya, yang seharusnya ia kendalikan, juga tentang keheranannya mengapa perempuan main catur. Lalu, ia menyombongkan diri bahwa ia juara catur di sekolahnya. Bahkan, anak-anak kelas enam habis dilibasnya. Diingatkannya pula bahwa aku tak pernah menang melawannya. Katanya, ia juga telah mengalahkan gurunya di sekolah. Sesumbarnya minta ampun.
“Maaf, ya, Pak Cik, aku ini juara bertahan. Melawan ibu-ibu macam Mak Cik
Maryamah? Maaf, ya, dua belas langkah saja Mak Cik kuberi, cincai.”
Lalu disebutkannya tuntutannya jika nanti ia menang dan tuntutannya itu, dengan sangat cermat, lengkap dengan nomor urut, telah ia tulis di dalam selembar kertas, beserta ancaman-ancamannya jika kau tak memenuhi tuntutannya itu. Banyak orang pintar berpendapat, generasi seperti Alvin ini menjadi begitu mencemaskan karena pengaruh televisi. Bisa jadi. Alvin adalah anak Melayu model baru. Masa kecil kami dulu tak pernah begitu dengan orang tua. Alvin sudah menjadi kapitalis sejak masih hijau.
Kulirik kertas itu. Bermacam-macam nama permen berderet disana. Kulihat permen telur cecak di nomor urut pertama. Ada pula baterai, lengkap dengan ukuran voltase untuk mobil-mobilannya, buku-buku komik. Dan sebagainya. Katanya, kalau aku belum punya uang untuk semua tuntutannya itu, maka yang belum dapat kupenuhi akan dianggapnya sebagai utang. Namun, apa pun yang terjadi, permen telur cecak itu harus dipenuhi lebih dulu.
“Aku tak mau tahu, Pak Cik, kalau perlu Pak Cik menggadaikan sepeda.”
Alvin memaksaku untuk memperlihatkan padanya berapa jumlah uangku agar ia merasa tuntutannya mendapat semacam asuransi. Kukeluarkan uang dari saku. Kebetulan aku baru mendapat upah dari Paman. Lebarlah senyumnya.
Kuingatkan Alvin agar nanti saat bertanding jangan ngoceh sana-sini. Jika Maryamah kalah, jangan mengejeknya seperti sering ia perbuat padaku. Yang paling penting, jangan panjang mulut pada siapa pun bahwa ia telah bermain catur melawan Mak Cik Maryamah.
Kami tiba. Maryamah berdiri dengan anggun di muka pintu demi menyambut tamu seorang pecatur hebat. Ia seperti akan menerima kontingen PON. Ia telah menyiapkan segalanya: papan catur dan segelas kopi yang mengepul untuk seorang lawan yang terhormat. Ketika kami tiba, ia heran.
“Mana pecatur itu, Boi?”
Aku menunjuk Alvin. Alvin tersenyum simpul. Maryamah terpana dan bimbang. Kukatakan agar jangan sembarangan sama Alvin, dia itu keponakanku yang sangat pintar dan
aku tak pernah menang main catur dengannya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.