Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Dalam perkara sepeda ini, Sersan Kepala menemui jalan buntu. Ketiga orang itu telah ia selidik, tapi masing-masing punya alibi yang kuat. Muhlasin mengatakan pada Sersan Kepala bahwa ia telah insaf. Sersan Kepala percaya. Ia sampai mengusap-usap pundak maling kecil itu.
Waktu Sersan Kepala dan ajudan masuk ke warung kopi tadi, ketiga bramacorah itu sudah ada di dalam. Mursyiddin dan Maskur gelisah. Muhlasin tenang saja, buat apa gelisah, kalau tidak berbuat. Sersan Kepala tak memedulikan mereka dan mulai membual soal rencananya membuka warung kopi pada orang-orang Tionghoa dan orang-orang Sawang sahabatnya. Sementara itu, aku mengamati tiga sekawan itu.
Kulihat cara mereka memegang gelas. Meskipun tampak paling tenang, aku langsung tahu bahwa Muhlasinlah yang semalam meraup sepeda yang bukan haknya dari pelataran parkit MPB. Namun, aku tak boleh berpanjang mulut padanya sebab teori menilai orang dari caranya memegang gelas kopi sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan. Cara itu adalah rahasia antara aku, gelas kopi, pengalaman, dan Gusti Allah. Satu rahasia yang kutemukan dari menyajikan ratusan gelas kopi dari pagi sampai malam. Esoknya Muhlasin kena ciduk karena sepeda yang hilang di MPB itu ditemukan di belakang rumahnya.

Kepada Sersan Kepala, Muhlasin berkeras bahwa ia tak tahu-menahu bagaimana sepeda itu bisa berada di pekarangannya. Wajah gembil Sersan Kepala berkerut-kerut mendengarnya. Ia pening dan bimbang. Apalagi dengan sangat cerdas, sistematis, dan meyakinkan, Muhlasin berkisah pada Sersan Kepala bahwasannya dewasa ini ada penyakit aneh yang banyak menyerang lelaki yang terlambat kawin seperti Muhairi itu, yaitu saking merana hidup mereka, mereka bangun dari tempat tidur lalu bersepeda dalam keadaan tidur. Dengan cara itulah, kata Muhlasin, mungkin sepeda itu sampai ke rumahnya.
“Pemiliknya sendiri yang meninggalkan sepeda itu di sana, Pak Cik. Dia pulang lagi ke
rumahnya, kembali ke dipannya. Semuanya ia lakukan dalam keadaan tidur!”
Sersan mengangguk-angguk takzim dan mengatakan pada Muhlasin bahwa hal-hal yang berbahaya memang bisa terjadi pada mereka yang terlalu lama hidup membujang.

Cara memegang gelas kopi tak sesederhana tampaknya, tetapi sesungguhnya mengandung makna filosofi yang dalam. Mungkin, dari meneliti cara memegang gelas kopi saja, seseorang yang menekunkan dirinya di bidang ilmu jiwa dapat membuat sebuah skripsi. Bagiku, warung kopi adalah laboratorium perilaku, dan kopi bak ensiklopedia yang tebal tentang watak orang. Jika waktu senggang, aku mencatat pengamatanku dalam buku yang ku beri judul Buku Besar
Peminum Kopi, sungguh sebuah keisengan yang sangat menarik. Aku berbicara dengan ratusan

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.