Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Jika sudah bicara soal rencana membuka warung kopi itu, berjam-jam ia tak berhenti, sampai mau muntah saking bosan mendengarnya. Ia bicara tentang nama warung kopinya, jumlah pelayannya, dan lokasinya. Ia bicara tentang bagaimana akan lapang hatinya karena nongkrong berlama-lama sambil main catur dan minum kopi di warungnya sendiri. Ia tak peduli telah menceritakan hal itu pada orang yang sama berpuluh-puluh kali. Membuka warung kopi adalah resolusi hidupnya.
Sersan Kepala sering minta saran padaku untuk nama warung kopinya. Setiap kusampaikan usulku, matanya berbinar-binar. Dari sekian banyak nama, dia suka dua: Warung Kopi Tiga Tuntutan Rakyat atau Warung Kopi Sayangku Manisku. Kedua nama itu sangat merakyat, mengandung misteri, dan romantis, katanya. Konon dia akan memanjatkan doa kepada Gusti Allah agar diberi ketetapan hati untuk memilih salah satu dari dua nama yang membuatnya bimbang itu.
Di lain kesempatan, Sersan Kepala bicara.
“Tak pernah pula kutembakkan sejak benda ini dipercayakan padaku. Bahkan, aku sudah lupa cara menembak.” Kancing besi di sarung pistol tampak karatan karena pistol itu tak pernah dikeluarkan dari sarungnya.

Sersan Kepala masuk ke warung kopi. Sebagaimana biasa, ia didampingi oleh anak buahnya, semacam ajudan. Namun, tidak seperti ajudan biasa yang membawa koper atau map, ajudan itu membawa bantal khusus yang bolong di tengahnya sehingga jika Sersan Kepala duduk, satu lokasi yang agung di bagian bawah tubuhnya, tidak menyentuh bangku. Ambeien memang keterlaluan.
“Kopi pahit, Boi!” perintah Sersan Kepala. Aku telah hafal pesanannya.
Sersan kepala sebenarnya telah mengawasi tiga maling paling pokok di kampung kami: Mursyiddin, Maskur, dan Muhlasin. Muhlasin adalah pendatang baru dalam dunia percolongan, namun ia paling kreatif ketimbang dua seniornya itu. Muhlasin berpembawaan manis, santun gerak lakunya, dan pintar bicara. Namanya pun seperti nama musala, tapi kelakuannya macam iblis.
Kasus terakhir Muhlasin adalah nyolong ayam. Waktu ditanyai sersan, ia bersikukuh bahwa ayam-ayam itu datang sendiri ke rumahnya pada pukul dua malam. Dengan wajah beloon tapi serius ia berkilah bahwa ia tak pernah mengundang ayam-ayam itu. Seandainya ajudan tidak menemukan bahwa kunjungan ayam ke rumah Muhlasin telah beberapa kali terjadi, Sersan Kepala hampir saja percaya pada alasan Muhlasin. Akhirnya, Muhlasin kena
kurung sebulan lalu kena wajib lapor setiap Senin pagi.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.