Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Namun, ketika aliran timah itu ditemukan, mereka bekerja lima kali lipat lebih keras dari petani dan tujuh kali lebih keras dari pedagang. Kawan, jangan kaupusingkan matematika itu. Kami bahkan bekerja lebih dari yang sesungguhnya kami sanggup. Para penambang berendam di dalam air setinggi dada dengan risiko ditelan mentah-mentah oleh buaya, berjemur seharian di bawah terik matahari sampai mencapai empat puluh derajat Celcius, mencangkul sekuat tulang sambil menduga-duga ke mana timah mengalir.
Jika beruntung, mereka mendapat segenggam timah, setengah kilogram, dan dijual pada penampung seharga tujuh ribu rupiah. Adakalanya berhari-hari bekerja dengan cara mengerikan seperti itu, tak mendapat segenggam pun. Lalu, kembalilah mereka ke warung- warung kopi untuk melamun, untuk mengadukan nasib sesama penambang, dan melarutkan kepedihan hidup di dalam gelas kopi. Mereka tak selalu bekerja atau memegang alat untuk bekerja, namun tengoklah, tengoklah itu, sungguh tak adil mengatai mereka pemalas.

Barangkali karena semuanya sudah ada di bawah tanah, maka penambang tak punya watak menabung. Kami hanya perlu berpikir-pikir—secara teknis disebut melamun tadi, di warung kopi—untuk menemukan timah. Maka, padi mendidik orang menjadi penyabar, timah mendidik orang menjadi pelamun, dan uang mendidik orang menjadi serakah.
Lantaran banyak melamun, orang Melayu menjadi pintar. Jika timah tak kunjung ditemukan dan frustrasi, serta tahu bahwa tak baik menyalahkan Tuhan, maka pemerintahlah yang menjadi sasaran kekesalan. Semua itu menjawab pertanyaan mengapa warung kopi selalu ramai dan pembicaraan di sana selalu tentang pemerintah yang tak becus.
“Semua, semua yang kita ketahui dalam hidup kita ini, adalah hasil dari pendidikan!”
Paman berbunyi.
“Tata cara bertutur kata, bergaul pria-wanita, berbaju, menggaruk kalau gatal, atau berjoget dangdut, semuanya akibat dari pendidikan. Maka, jika ada yang tak beres dengan tabiat umat di republik ini, itu adalah tanggung jawab menteri pendidikan!”
Ia mendelik padaku.
“Mendengarkah kau itu, Boi?”
Sore itu, bolong punggung menteri pendidikan dijelek-jelekkan Paman. Sebenarnya telah berulang kali kuingatkan Paman agar jangan membawa-bawa menteri pendidikan. Ia bertanya sebabnya, tak kujawab. Hanya kukatakan bahwa aku punya firasat buruk.
“Firasat buruk macam mana maksudmu!?”
Kuberi tahu, Kawan, sejak Paman sering menjelek-jelekkan presiden, kesehatannya memburuk, dan semakin buruk sejak ia mulai mengata-ngatai menteri pendidikan.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.