Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

kejuaraan nanti? Jangan kata menghadapi Matarom, Maryamah bahkan belum kenal dengan catur.
Seratus meter menjelang pekarangan rumah Maryamah, aku terhibur oleh satu kemungkinan bahwa semuanya belum terlambat, yaitu aku bisa saja berbalik dan melupakan misi yang konyol ini. Namun, aku tak memperlambat sepedaku. Kawan, mimpi ini terlalu indah untuk dilewatkan.
Waktu aku tiba, Maryamah memang telah menungguku. Kami berbincang sebentar lalu duduk menghadapi papan catur yang baru kubeli di Tanjong Pandan. Yang terjadi kemudian lebih gawat dari situasi yang kucemaskan. Maryamah duduk dengan kaku di seberangku. Buah catur putih di sisinya. Tak sedikit pun ia berani menyentuhnya.
Aku mengenalkan padanya nama setiap buah catur dan di mana kedudukan awal mereka. Ia menyimak dengan tegang. Dahinya berkeringat. Pasti tak sehuruf pun penjelasanku masuk ke dalam kepalanya karena pikirannya tak tahu sedang berada di mana. Dadanya naik-turun. Ia menatap buah catur satu per satu dengan nanar seperti jin perempuan salah sajen. Buah-buah catur itu seperti benda yang menakutkan baginya.
Mulanya aku bingung melihat kelakuannya, tapi kemudian aku paham. Baginya, catur pastilah representasi Matarom dan seluruh kejadian menggiriskan yang telah menimpanya. Di depan papan catur itu ia pasti merasa sedang berhadapan dengan suaminya. Ia tak berani menyentuh buah-buah catur itu.
Kemudian, kulihat matanya berkaca-kaca. Ia menunduk, tafakur. Air matanya berjatuhan. Aku iba melihat bahunya tang merosot. Sejak berumur 14 tahun, perempuan malang itu telah memanggul beban yang tak terbayangkan beratnya. Kupandangi lengannya yang besar dan kasar, jemarinya yang hitam, berkerak, dan kaku, seperti bilah-bilah besi karena bertahun-tahun mendulang timah. Jari-jemari itu sama sekali tak serasi didekatkan dengan buah catur mainan kaum menak dan para cerdik cendikia. Perempuan di depanku itu telah dikhianati nasib, sepanjang hidupnya. Ia terisak-isak. Aku berhenti bicara. Kukemasi papan catur dan pamit pulang. Pelajaran catur pertama itu berakhir dengan sangat
menyedihkan.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?