Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Kami sampaikan pada Detektif soal rencana Maryamah. Tentu saja, jika menyangkut sesuatu yang berbau rencana atau rahasia, telinga lelaki kontet itu berdiri.
“Jangan dulu panjang mulut,” kataku benar-benar. Biar lebih dramatis, kutambahkan,
“Ini menyangkut martabat Maryamah di depan Matarom. Harga diri Maryamah
tergeletak di tanganmu!”
Detektif menatap telapak tangannya. Kusampaikan pula bahwa dia mesti membantuku memperjuangkan agar Maryamah bisa ikut bertanding pada kejuaraan 17 Agustus. Jika bisa, ia harus mencari informasi tentang calon lawannya dan memata-matai permainannya, seperti yang ia lakukan dulu ketika aku menghadapi Zinar. Kemudian Detektif melakukan evaluasi atas pertandingan caturku melawan Zinar tempo hari.
“Aku curiga,” gayanya sangat mengesankan.
“Operasiku waktu itu mengalami kebocoran. Karena itu, aku kalah, Boi.”
Kebocoran apakah yang dimaksudnya? Aku tak tahu.
“Maka, mulai sekarang, diagram catur hanya boleh dikirim melalui Jose Rizal, dan jika berjumpa di pasar atau di warung kopi, kita harus seperti orang yang tidak saling kenal! Meski bersenggol bahu, tak boleh menyapa!”
Bagaimana mungkin semua itu? Kami telah lengket, bahkan sebelum kami disunat. Kami telah menjadi sahabat, bahkan sebelum kami lahir. Dia itu tetangga dekatku dan sedikit banyak masih kerabat. Tiang-tiang listrik pun tahu bahwa kami sobat. Namun, biarlah, kuikuti saja pikiran sintingnya.
Detektif meraih map berwarna pink dan memasukkan catatan pertemuan itu ke dalamnya lalu memberinya judul Maryamah vs Matarom.
“Ini kasus rumah tangga, Boi,” katanya serius. Dilemparkannya map itu ke kotak
dokumen masuk.

Usai menemui Detektif, aku berbicara dengan Ibu. Kukabarkan bahwa rencanaku ke Jakarta harus diundur lagi. Ibu bertanya alasannya, dan sekali lagi alasanku sulit diterima akal sehat.
“Aku ingin membantu Maryamah agar bisa bertanding catur 17 Agustus nanti.”
Kata terseret-seret dalam tenggorokanku. Kejujuran memang pahit, namun aku tak mungkin membuat-buat alasan di depan Ibu. Hidupku sudah cukup sial dan takkan kutambahi kesialan itu dengan membohonginya. Seperti biasa, Ibu mengunyah sirih acuh tak
acuh. Tampaknya ia sangat benci. Ia memalingkan wajah ke jendela dan bertanya:

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.