Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Mozaik 9
Presiden

KOPI pahit para player diaduk 36 putaran, merek Kera Siluman, begitulah kopi Selamot. Setelah hirupan pertama, senyumnya tersimpul-simpul dan seluruh elemen dirinya—polos, humoris, dan bersahabat—berpadu menjadi satu. Dengan watak semacam itu, Selamot tersohor di pasar dan segera berkawan dengan banyak orang, terutama para perempuan yang merasa dirinya telah dipunggungi nasib. Secara rahasia mereka membuat semacam kongsi. Stanplat pasar ikan setelah tutup, sore nan senyap, menjadi tempat mereka bertemu.
Selamot tak pernah segan menghapus air mata kawannya dengan lengan bajunya yang bau ayam. Dalam diri Selamot, mereka menemukan penghiburan meski sering mereka menangis sambil tersenyum, terisak sambil tersedak, mendengar nasihat Selamot yang kerap hanya digerakkan oleh keinginan yang besar untuk meringankan beban orang lain, bukan oleh pertimbangan yang pintar. Lagi pula, wanita mana pun yang berada di dekat Selamot akan percaya diri. Lantaran dari sisi sebelah mana pun, mereka pasti merasa berpenampilan lebih baik darinya. Tak seorang pun akan merasa tersaingi oleh orang Bitun yang buta huruf dan tidak cantik itu.
Sore itu aku berjumpa dengan Maryamah dan Selamot di kios Giok Nio. Miris kami mendengar Maryamah berkisah tentang nasibnya. Benar pendapat orang-orang tua Melayu, bahwa di dunia ini tak ada masalah sepelik soal rumah tangga. Kasihan dia, sungguh berat cobaan hidupnya. Nada bicaranya jelas mengesankan bahwa Matarom dan catur telah menjadi biang keladi kesusahannya. Namun, ia memang perempuan yang istimewa.
“Kalau aku susah,” katanya dengan sorot mata yang lucu, “cukuplah kutangisi semalam. Semalam suntuk. Esoknya, aku tak mau lagi menangis. Aku bangun dan tegak kembali!”
Luar biasa. Selamot mengangguk-angguk. Obrolan kami sesekali terhenti karena kerasnya tawa orang-orang yang tengah bermain catur di warung kopi di seberang kios Giok Nio. Maryamah memandangi orang-orang itu, lalu muncullah ide yang ajaib itu.
“Boi, katamu kau punya kawan yang lihai main catur?”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.