Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Rustam, dari tampangnya memang tampak seakan dilahirkan ke dunia ini untuk disuruh-suruh. Ia tertua di antara kami dan seperti aku adanya: bujang lapuk. Namun, ia berada dalam situasi sangat lapuk mengingat umurnya sudah 43 tahun. Karena begitu banyak bujang lapuk di kampung kami, dari dulu aku bermimpi untuk mendirikan organisasi persatuan bujang lapuk. Kalau itu terlaksana, aku akan mengangkat Rustam sebagai ketua dewan penasihat.
Ketiga orang itu sudah belasan tahun bekerja di warung kopi Paman dan sungguh misteri yang besar bagiku mengapa mereka betah. Pamanku sangat cerewet dan temperamental. Upah, sama saja dengan bekerja di warung kopi lain. Bahkan dengan pengalaman panjang itu, mereka bisa merundingkan upah yang lebih tinggi dengan juragan lain. Apakah rahasia Paman sehingga orang betah bekerja dengannya padahal ia sangat tidak menyenangkan? Pasti ada sesuatu yang luar biasa di balik semua itu. Misteri ini ingin kubongkar pelan-pelan selama bekerja di warung kopi ini.

Lambat laun, perasaan terpaksa yang kualami pada minggu-minggu pertama bekerja di warung kopi berubah. Pekerjaan itu mulai memperlihatkan madunya.
Mulanya aku senang karena di warung kopi aku dapat berjumpa lagi dengan banyak sahabat masa kecil yang telah terlupakan. Mereka membawa anak-anak dan istrinya ke warung kopi. Mawarni, anaknya sudah mau masuk SMP! Sinan rupanya sudah punya anak yang badannya lebih tinggi dari ibunya itu. Kasihan Amirrudin dan Susila, mereka belum punya anak. Bagian yang paling indah adalah mereka mengajari anak-anaknya agar memanggil ku paman. Hatiku senang tak terbilang.
Namun, daya tarik terbesar adalah bagaimana secangkir kopi telah membuatku lebih mengenal kaumku sendiri: orang Melayu. Saban hari aku takjub melihat pengaruh segelas kopi pada mereka. Pak Cik berarloji kodian tadi diam dan lesu sebelum kopinya datang. Kuantarkan kopi untuknya. Ia tersenyum. Dengan mata terpejam, diseruputnya kopi itu sampai terdengar ke seberang jalan. Lalu matanya terbuka dan mengocehlah dia. Bicaranya pintar, lebih pintar dari siapa pun.
Semakin dalam aku berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib temuan- temuanku. Kopi bagi orang Melayu rupanya tak sekadar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan. Segelas kopi adalah dua belas teguk kisah hidup. Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih pelan-pelan menguapkan rahasia nasib. Paling tidak 250 gelas kopi kuhidangkan setiap hari untuk para pelanggan tetap warung kami. Setelah sebulan, aku hafal takaran gula, kopi, dan susu untuk setiap orang, dan aku tahu semua kisah.
Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berliku-liku petualangannya. Hidup mereka penuh intaian mara bahaya.
Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Bisnis? Kena tipu. Namun, mereka tetap mencoba

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.