Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Raja kanibal itu limbung. Rezim Matarom pun terburai. Rezim itu bukanlah tandingan Guioco Piano. Sebuah strategi Italia kuno yang memiliki daya bunuh yang kuat. Grand Master Ninochka Stronovsky bukan pula lawan seimbang bagi Master Nasional Abu Syafaat

Matarom menyerbu lagi dengan putus asa, namun Guioco Piano telah mencapai titik bunuhnya. Maryamah mengangkat kudanya. Ia bangkit dan menarik selendang pembatas sehingga bertatapan langsung dengan Matarom. Wajahnya bersimbah air mata. Dientakkannya kembali sang kuda sambil menjerit: sekakmat!

Meledaklah sorakan pendukung pecatur perempuan yang gagah berani itu. Paman berteriak-teriak memuji Maryamah. Saking gembiranya sampai ia tak peduli selangkangnya. Bahtera perompak telah karam, lalu perlahan-lahan tenggelam bersama keyakinan yang gelap dari pria-pria berpakaian serbahitam di seputar meja tarung. Menyeret pula ke dasar laut sebuah gunung kebanggaan dari seorang pecatur hebat bernama Matarom. Dari bengis, wajah kaum pria sahabat iblis itu berubah menjadi hambar, lalu tak peduli, lalu mencari-cari pembenaran. Dari congkak, wajah Matarom berubah gamang, lalu malu, lalau terpencil.

Maryamah berdiri dan menatap ke atas. Jiwanya seakan terangkat ke langit. Para pendukung Matarom berbalik mendukungnya. Bersama dengan pendukung Maryamah sendiri, tepuk tangan dan siutan-siutan kagum menjadi gegap gempita. Pasar seakan bergoyang dibuatnya. Sungguh sebuah sore yang takkan pernah dilupakan siapa pun yang berada di situ. Alvin mengangkat tangannya dengan jari berbentuk victory. Maryamah menoleh pada Selamot, Giok Nio, dan Grand Master Ninochka Stronovsky. Mereka tak berkata-kata, tapi hanya saling tersenyum. Selamot dan Giok Nio berulang kali mengusap air matanya. Perempuan yang sepakat untuk bahu-membahu takkan pernah terkalahkan.

Matarom tersandar lemas di kursinya dengan mata nanar. Sabuk emas yang melilit pinggangnya selama dua tahun terlepas sudah. Karmanya telah terhempas di atas papan catur perak yang selalu diagung-agungkannya. Mitoha dan Master Nasional Abu Syafaat terpaku. Mereka seperti habis ditabrak angin puyuh. Matarom mengambil cangklong dari sakunya, berusaha menyalakannya tapi gagal karena tangannya gemetar. Ia tak dapat memegang korek api dengan benar. Ia membanting cangklongnya. Cangklong itu berguling-guling menyedihkan di bawah meja tarung.

Di tengah kerumunan ratusan orang dengan cekatan Mahmud berhasil menerobos dan langsung mewawancarai Selamot. Suaranya timbul tenggelam di antara sorakan.

“Kakak! Amboi! Pertarungan yang hebat bukan buatan! Maryamah pantas menjadi
juara! Tapi, tentu kami ingin dapat kabar, teknik apa gerangan yang tadi dipakai Maryamah?”

Selamot terpana mendengar pertanyaan mendadak itu. Otaknya memang tak didesain untuk sebuah reaksi cepat. Tapi, ia tak hilang akal. Sambil terengah-engah ia menjawab.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.