Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

“Kak, pakai teknik Grunfeld Hindia. Sayap kiri raja, serang!” Maryamah mengangguk
takzim.

Pertandingan papan ketiga yang menentukan dimulai. Maryamah maupun Matarom seperti tak sabar ingin segera bunuh-bunuhan. Penonton semakin tegang. Paman berulang kali berbisik pada Maryamah.

“Sikat! Mah, sikat! Jangan cemas. Pak Cik di belakangmu!”

Master Nasional Abu Syafaat ketar-ketir. Mitoha pucat di sampingnya.

Matarom meraup satu momentum ketika berhasil menyambar satu pion. Sungguh ketat dan berisiko tinggi pertarungan itu, bahkan kehilangan satu pion langsung membuat sistem Maryamah timpang. Dua langkah berikutnya, raja Maryamah terapung-apung seperti capung yang tak sadar akan disambar prenjak.

Maryamah tampak kusut. Ia sadar telah melakukan kesalahan fatal. Tanpa menyia- nyiakan kesempatan, Matarom menggempur. Maryamah berusaha menyusun formasi Grunfeld Hindia, namun kesulitan karena kerusakan sistemnya cukup parah. Matarom menyungging senyum remeh. Dalam kepungan yang mencekam Matarom menggeser sebutir pion. Aku ngeri melihat tindakan itu karena Matarom merencanakan sebuah kematian yang menghinakan. Ia ingin membunuh raja Maryamah dengan sebutir pion, seperti ia telah menghancurkan Firman Murtado waktu itu, sekaligus ia ingin membunuh karakter perempuan yang telah berani-berani menghalanginya merebut piala abadi 17 Agustus.
Sungguh kejam. Lelaki itu memang memelihara Fir‟aun di dalam dadanya.

Berikutnya, ibarat papan catur itu kuda, tali kekangnya digenggam Matarom. Maryamah gemetar saat rajanya dihadang menteri Matarom untuk dipaksa tergusur ke satu kotak agar raja itu sampai pada sepakan pion eksekutor. Pendukung Matarom, yang dimotori Jumadi sang pesekongkol, bersorak dan mengejek pendukung kami dengan menunjukkan tiga jari. Artinya raja Maryamah berumur paling lama tiga langkah lagi. Aku gugup, rasanya dapat kudengar jantungku berdetak.

Keadaan Maryamah kritis. Kekalahan menari-nari di mata kami. Alvin tampak tak tega melihat Mak Cik-nya kena bantai. Detektif M. Nur memalingkan muka. Paman berulang kali menarik napas panjang. Ia seperti ingin sekali membela Maryamah, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Preman Cebol menunduk. Ia pasti sedang berdoa. Baru kali ini kulihat Preman
Cebol berdoa. Sambil menyeringai penuh kemenangan, Matarom menghempaskan menterinya sambil berteriak,

“SEKAK!”

Sekonyong-konyong, dengan gerakan secepat patukan ular, hanya setengah sedetik setelah teriakan itu, bahkan kaki sang menteri belum benar-benar mendarat pada posisi

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.