Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Matarom, pemegang sabuk juara bertahan, datang bersama Mitoha dan Master Nasional Abu Syafaat. Ia langsung duduk di tempatnya. Dinyalakannya cangklong diisapnya, dan didiamkannya asap berkelana sebentar di dalam mulutnya, lalu disertai tepuk tangan pendukungnya, diembuskannya asap cangklong itu. Semua itu—sikap duduknya, embusan asap cangklongnya, dan seringainya—merupakan pernyataan bahwa pertandingan itu tak lebih dari soal remeh-temeh saja, dan bahwa jarak antara dirinya dan dengan juara abadi hanya tinggal dua game yang akan ia akhiri secara tragis bagi Maryamah. Namun, ia kaget karena mendengar tepuk tangan yang ramai. Melalui mikrofon, Modin bersusah payah menenangkan penonton. Maryamah tiba.

Maryamah dikawal oleh lapis pertama sekondannya: Giok Nio, Alvin and the Chipmunks, Lintang, Detektif M. Nur dan Preman Cebol. Semuanya pakai baju baru. Alvin sibuk memamah biak permen telur cecak. Maryamah sendiri berbaju sari macam wanita India. Burkaknya jingga. Ketika ia berjalan, selendangnya berkibar -kibar. Aura penantang yang tak kenal takut terpancar kuat darinya, bahwa ia bukan lagi Maryamah sang pendulang timah, ia adalah pecatur perempuan yang menggetarkan lawan. Namun, tak seperti biasanya, Maryamah sendirian. Orang-orang bertanya, di manakah gerangan manajernya, Selamot? Kami pura-pura tak tahu.

Maryamah duduk. Kemudian terdengar lagi tepuk tangan, tapi agak ragu. Rupanya hadirin menyambut yang datang bersama seseorang yang asing. Orang itu berjalan dengan tenang dan mengangguk pada setiap orang. Ia berperawakan sedang, tapi di antara orang Melayu ia kelihatan paling tinggi. Ia memakai kaus, celana jins, dan scarf berwarna biru. Cantik sekali. Kulitnya putih, rambutnya pirang. Rupanya yang sangat berbeda menarik perhatian setiap orang. Bisik-bisik merebak. Melihat orang itu, Mitoha, Overste Djemalam, dan Master Nasional Abu Syafaat tertegun seperti melihat hantu. Modin mengucek-ngucek matanya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mulutnya ternganga, kacamatanya merosot. Mikrofon di dekatnya menangkap suara yang tak sadar ia ucapkan.

“Ni … Ni … Ninochka Stronovsky ….”

Mereka yang mengikuti perkembangan dunia catur seperti Mitoha, Overste Djemalam, Master Nasional Abu Syafaat, Modin, dan beberapa orang lainnya, tentu kenal Ninochka Stronovsky. Mereka yang familier dengan nama itu, namun tak pernah melihat wajahnya, terperangah. Mereka yang tak mengenalnya sama sekali ikut-ikutan seperti kenal agar tak dianggap orang udik, biasa orang Melayu.

Mendengar namanya disebut, Nochka berhenti dan menoleh pada Modin. Ia tersenyum dan menunduk. Modin gugup dan agaknya ingin mengucapkan pidato penyambutan dalam bahasa Inggris, tapi kosakatanya terbatas. Ia melanjutkan dalam bahasa
Indonesia

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.