Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

perusahaan timah, yang dikenal sejak zaman Belanda dengan sebutan maskapai timah, telah khatam riwayatnya. Di warung-warung kopi itu pria-pria Melayu mengisahkan nasibnya, membangga-banggakan jabatan terakhirnya sebelum maskapai timah gulung tikar, dan mempertaruhkan martabatnya di atas papan catur. Lelaki Melayu dengan kopi, sisa kebanggaan, dan catur, seperti lelaki Melayu dengan pantunnya, seperti lelaki suku bersarung dengan sarungnya, seperti lelaki Khek dengan sempoanya.
Kalau ada kriteria semacam densitas warung kopi, yakni jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu, kupastikan kampung kami masuk buku rekor dunia. Pun jika ada lomba soal jarak yang sudi ditempuh orang demi segelas kopi, pemenangnya pasti pula lelaki Melayu. Saban pagi, serombongan besar pria, seperti gerombolan migrasi di Padang Masaimara, dari kampung-kampung yang berjarak sampai 20 kilometer, berbondong- bondong ke pasar demi segelas kopi. Lalu, mereka pulang ke kampungnya masing-masing untuk bekerja. Sore mereka kembali lagi ke pasar, dan pulang lagi. Adakalanya malam nanti, pukul 9, setelah istri dan anak-anak tidur, mereka ke pasar lagi. Semuanya demi segelas kopi.
Kopi adalah minuman yang ajaib, setidaknya bagi lidah orang Melayu, karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Keluhan istri soal suami yang tak mau minum kopi di rumah—padahal bubuk kopinya sama seperti di warung kopi—adalah keluhan turun- temurun. Alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak kopi di warung.
Peristiwa ini dialami Mustahaq Davidson—Kawan tentu masih ingat mengapa namanya antik begitu. Jabatan terakhirnya di maskapai timah adalah kepala regu juru pompa semprot; jabatan sekarang: juru sound system Masjid Al-Hikmah. Ia berkisah bahwa istrinya diam-diam membeli kopi di warung kopi langganannya, dibungkusnya dengan plastik dan dibawanya pulang, lalu dihidangkannya untuk Mustahaq. Setelah meminumnya, sehirup saja, Mustahaq berkemas-kemas mau berangkat. Istrinya, yang terkenal galak, bertanya mau ke mana. Mustahaq, yang terkenal jujur, menjawab bahwa ia mau ke warung kopi, karena kopi di rumah tak seenak di warung kopi.
“Melayanglah panci ke kepala awak,” kata Mustahaq apa adanya, disambut ledak tawa
seisi warung kopi.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.