Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

dengan Maksum, Go Kim Pho, Overste Djemalam, dan Matarom, orang-orang yang dengan kebaikan dan keburukannya telah membentuk ia seperti adanya. Di papan catur, Selamot dan Maryamah mendapati kerinduan menemukan penawarnya, utang budi menemukan terima kasihnya, ketidakadilan menemukan timbangannya. Di papan catur, kedua perempuan yang kalah itu menemukan kemenangan demi kemenangan.

Lamunan yang panjang membuatku tak sadar bahwa bus reyot yang kutumpangi telah memasuki gerbang kampung. Di sebuah jalanan yang sepi aku minta berhenti. Aku berjalan melalui padang yang terhampar di sebelah kanan dan gulma yang lebat di sebelah kiri. Di ujung jalan setapak yang panjang itu tampak olehku sebuah rumah berdinding kulit kayu lelak dan beratap daun nanga.

Sunyi senyap. Maryamah yang hidup sendiri setelah ibunya meninggal sedang menyapu pekarangan waktu aku tiba. Kami duduk di beranda. Kusampaikan padanya diagram-diagram catur instruksi dari Nochka untuk menghadapi Matarom, dan kusampaikan pula ucapan selamat dari sang Grand Master atas keberhasilannya masuk final. Juga kukatakan bahwa akan ada kejutan, seorang sahabat yang jauh akan datang untuk menyaksikan pertandingan final itu.

Maryamah senang, namun ia mendesakku untuk memberi tahu siapa orang itu. Katanya, ia tak suka kejutan. Ia mendadak diam dan memandangi sebuah sepeda yang tersandar di sudut ruang tengah rumah. Lalu ia berkisah padaku tentang hadiah kejutan ayahnya untuk ibunya dulu, pada hari ayahnya meninggal. Ia menatapku.

“Aku ingin memenangkan pertandingan final itu, Boi,” suaranya berat. Ia tampak tak
sabar ingin mengakhiri perjalanan epiknya dari seorang pecatur yang dipandang sebelah mata ke puncak kejuaraan.

“Aku harus menang.”

Aku pulang dari rumah Maryamah dengan lamunan yang makin panjang. Orang yang tak mengenal Maryamah secara mendalam takkan dapat memahami alasan dan langkah yang ia ambil untuk menegakkan harga dirinya. Melalui Maryamah, aku belajar menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negatif tentang orang lain. Lalu aku berpikir, seumpama catur, hidup sedikit banyak bak reaksi atas pilihan sulit yang silih berganti mem-fait accompli manusia, dan alasan selalu lebih mudah dilupakan ketimbang akibat.

Selanjutnya, kulalui hari demi hari dengan dada bergemuruh menunggu pertandingan final. Kadang kala terasa cepat, dan kadang kala rasanya amat lambat. Keduanya bermuara pada siksaan. Malam sebelum pertandingan sama sekali tak dapat tidur. Jose Rizal hinggap di
beranda rumahku.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.