Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

“Sulit bagiku memberi nasihat teknis untuk menghadapi lawan sekuat finalis ini.
Semuanya tergantung pada naluri Maryamah.”

Dalam perjalanan pulang dari Tanjong Pandan, di dalam bus yang sepi aku melamun. Aku menengok ke belakang dan teringat akan perjalananku dulu, ketika pertama kali menghubungi Nochka untuk menanyakan apakah ia bersedia mengajari Maryamah main catur. Aneh sekali semuanya telah berlangsung. Beberapa bulan yang lalu, Maryamah masih tak tahu apa-apa, sekarang bakatnya diakui oleh seorang grand master, bahwa ia bermain seperti Anatoly Karpov. Betapa ajaib perempuan itu. Betapa kuat tekadnya. Terpampang di depanku kini, akibat yang dahsyat dari orang yang tak pernah gamang untuk belajar dari orang yang berani menantang ketidakmungkinan.

Lalu, aku terpana mendapati dunia yang baru kukenal: catur. Telah kulihat bagaimana pecatur menjadi jenderal, menjadi ahli strategi, raja-diraja, budak, atau terpaksa mengambil keputusan tanpa pilihan. Tak ada permainan lain seperti catur, di mana kemenangan dan kekalahan dapat di tawar. Tak ada permainan lain yang dengan secangkir kopi tampak seperti bertunangan. Spirit catur melanda kaum ningrat hingga jelata, hitam dan putih sama saja.

Bagiku catur kadang kala mirip persamaan matematika. Ada semacam konstanta a, yakni nilai tak bergerak, semacam gradien yang mempengaruhi arah pertandingan. Konstanta itu adalah pengetahuan tentang kemampuan lawan. Catur tak sekedar permainan raja palsu dan tentara-tentara yang terbuat dari kayu, namun mengandung perlambang kekuasaan dan alat untuk menghina. Adapula yang hal yang unik semacam Guioco Piano.

Sebuah cerita yang samar sumbernya mengatakan bahwa teknik pembukaan yang dapat dikembangkan menjadi serangan maut itu ditemukan oleh pecatur Sicillia pada awal abad ke-15. Guioco Piano berarti permainan yang tenang. Namun, akibatnya tak seteduh namanya. Penemunya konon terinspirasi pembunuhan yang dilakukan sebuah geng keluarga di Sicillia. Seperti kata Nochka, referensi yang kutemukan menyebut teknik Guioco Piano sangat sulit dikuasai. Jika tak pandai menerapkannya ia akan menjadi semacam senjata back fire. Ditembakkan namun peluru melesat ke belakang, makan tuan.

“Guioco Piano sangat berbahaya,” pesan Nochka dulu pada Maryamah.

Barangkali ibarat ilmu silat, Guioco Piano adalah jurus pamungkas sakti mandraguna yang memerlukan tumbal yang besar untuk menguasainya.

Lalu adakalanya kulihat buah catur sebagai orang yang tersandera, politisi, seniman, komedian, dan spekulan. Di atas papan persegi empat itu telah kusaksikan orang mempertaruhkan martabat dan membakar kesumat. Bagi orang-orang tertentu, Maryamah dan Selamot misalnya, yang selama hidupnya selalu kalah, papan catur bak pusat putaran
nasib. Di papan catur Selamot berjumpa lagi dengan Tarub dan Maryamah bertemu lagi

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.