Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Dalam pada itu, Matarom semakin getol memamerkan kemampuannya di warung-warung kopi dengan tujuan menekan mental Maryamah. Hal itu justru menguntungkan kubu kami. Detektif M .Nur berhasil mengumpulkan berlembar-lembar diagram permainannya.

Tiga hari sebelum laga final, aku, Detektif M. Nur, Preman Cebol, dan Aziz mengunjungi pasar malam untuk melihat pertunjukan orkes Melayu Pasar Ikan Belok Kiri pimpinan Bang Zaitun. Masyarakat berbondong-bondong datang karena konser itu adalah konser come back orkes Melayu yang sempat beku karena Bang Zaitun beralih profesi menjadi supir bus. Rupanya darah seniman Bang Zaitun tak pernah berhenti bergolak. Orang-orang bersarung dari pulau-pulau kecil rela berperahu berjam-jam demi menyaksikan Bang Zaitun beraksi.

Panitia kehabisan tiket yang harganya hanya lima ratus perak. Pengunjung yang masuk tanpa tiket tangannya di cap huruf Z oleh penjaga pintu. Z pastilah maksudnya Zaitun. Aziz dan beberapa pria yang tak kami kenal terlambat masuk. Mereka kena cap Z itu.

Orkes itu ternyata belum kehilangan daya magnetnya. Penonton bergoyang-goyang dimabuk musik, para personel orkes, tua-tua keladi! Bang Zaitun memakai jubah yang ditempeli pernak-pernik berkilau-kilau. Sepatunya berhak tinggi. Ikatan tali sepatunya sampai ke lutut. Hebat bukan buatan. Senyumnya terlempar -lempar menyapa penggemarnya. Permainan gitarnya meliuk-liuk. Eric Clapton pun bisa berkecil hati dibuatnya.

Subuh-subuh esoknya aku naik bus ke Tanjong Pandan untuk membicarakan diagram Matarom dengan Nochka. Alunan gitar Bang Zaitun masih terngiang-ngiang di telingaku. Masih gelap waktu itu. Satu per satu penumpang naik. Aku hafal penumpang Senin subuh. Mereka adalah para pegawai pemerintah di kantor kabupaten yang pulang kampung untuk libur sejak Jumat lalu. Senin pagi mereka kembali ke kantornya. Lalu naik tiga orang lelaki yang tak kukenal. Mereka duduk di bangku paling belakang.

Sepanjang perjalanan aku merasa diawasi ketiga orang itu. Jika aku menoleh ke belakang, mereka berpaling. Aku sadar bahwa ada yang tak beres. Bus sampai di Tanjong Pandan, aku minta sopir berhenti sebelum masuk terminal. Aku turun dan berlari menjauhi bus. Ketiga lelaki itu berloncatan dari dalam bus.

Aku menyeberangi jalan, mereka menyusulku. Aku cemas, apa yang dinginkan orang- orang yang tak dikenal itu? Aku berbelok ke samping kantor pos. mereka berlari ke arah yang sama. Dua orang dari mereka mengambil jalur memutar. Jelas mereka ingin mengepungku. Aku masuk ke gang yang dipenuhi pedagang kaki lima. Mereka tengah bersiap menggelar dagangan. Mereka terkejut melihatku berlari pontang-panting. Tiba-tiba dua orang yang berlari memutar tadi muncul dan langsung menghadangku. Aku terjebak. Mereka berusaha merampas tasku. Kurengkuh tasku kuat-kuat. Lelaki yang lain mendorongku. Tindakan itu
membuat tali tas terlepas dari tarikan kawannya, lengan jaketnya tersingkap. Tampak huruf Z

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.