Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

sedang tidak marah. Semua itu adalah protokol hariannya yang lambat-laun berubah menjadi seni bekerja dengannya.

Kami telah bekerja pada Paman sekian lama—yang kami dapatkan adalah training yang militan, disiplin, dan kecintaan pada profesi. Kami telah datang padanya untuk mengadu— yang kami dapatkan adalah orang yang siap membela kebenaran dengan risiko apa pun. Kami telah mendengar pendapatnya tentang pemerintah—yang kami dapatkan adalah kejujuran yang brutal. Kami telah datang padanya untuk berkawan—yang kami dapatkan adalah emasnya persahabatan.

Terbongkar sudah misteri yang telah lama kucari kuncinya, tentang mengapa Midah, Hasanah, dan Rustam betah bekerja dengan Paman. Mereka tak pernah mau bekerja di warung kopi mana pun walau diimingi apa pun. Daya pikat warung kopi Paman ternyata terletak pada diri Paman sendiri. Hati lelaki itu, jauh lebih besar dari pensiunnya.

Paman adalah orang Melayu lama jenis asli. Ia prototype orang Melayu tulen. Di dunia yang ingar bingar penuh huru-hara, Paman adalah sebuah kemurnian. Ia seperti Bang Zaitun pimpinan orkes Melayu Pasar Ikan Belok Kiri. Sudah susah mencari orang Melayu seperti mereka. Orang Melayu dewasa ini tak lagi berpantun. Mereka terobsesi pada gengsi, politik, kekuasaan, citra terpelajar yang palsu dan penuh basa-basi yang melelahkan. Basa-basi yang mereka tiru dari televisi.

Hari ketiga itu berlalu dengan hampa. Kami bekerja malas-malasan. Suasana tenteram dan damai ini sungguh tak menyenangkan. Ini palsu, ini bukan kami, ini bukan warung kami. Kami yang dulu ingin agar Paman tak segera kembali, kini malah berharap angin selatan teduh, sehingga Paman cepat pulang.

Midah mengambil sikap sedikit dramatis. Ia menitipkan pesan pada seorang nelayan yang sore itu tambat di dermaga membawa kopra, dan akan kembali ke Pulau Sekunyit, bahwa Paman harus cepat pulang sebab warung kopi kisruh, banyak pelanggan marah-marah.

Menjelang siang esoknya, brunch time, kami terkejut mendengar teriakan dari pekarangan warung.

“Midooot!”

Kami menghambur ke beranda, dan berdirilah di sana lelaki fenomenal itu memegangi selangkangnya. Kami takut, tapi senang.

“Baru kuberi amanah sepele saja, keadaan sudah trabel! Kacau balau!”

Pernah kukatakan padamu, Kawan, Midah adalah deputy. Jika Paman tak ada, dialah
PJS (Pejabat Sementara).

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.