Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Pagi itu pun berlalu dengan tenteram. Tak ada lengkingan orang ngomel-ngomel sambil memegangi selangkangnya itu. Tak ada yang menghina-dina kami. Tak ada lagu Badai Bulan Desember. Lagu kesayangan Paman yang saking kami bosan mendengarnya, sering kami berdoa agar kasetnya kusut, bahkan agar tape recorder itu meledak. Sekarang kami bebas mencari gelombang radio untuk mendengar lagu sesuka hati, atau mendengar celoteh Bang Mahmud di Radio Suara Pengejawantahan.

Siangnya usai salat zuhur, masa-masa sepi warung kopi. Rustam termangu-mangu di kursi malas Paman. Midah hilir mudik di pekarangan warung kopi, lalu duduk melamun di bawah pohon kersen. Tak jelas apa yang sedang merundungnya. Hasanah mengetuk-ngetuk gelas dengan ujung sendok, sehingga menimbulkan suara bising yang merisaukan dan karena itu ia dimarahi Midah. Dua perempuan itu bertengkar karena Hasanah tak mau menghentikan keisengannya.

Aku menyingkir ke dapur karena jiwaku tertekan mendengar mereka beradu mulut. Kutatap dengan sedih Yamuna yang sekarang disimpan di atas lemari. Kulap debu yang melekatinya dengan perasaan penuh kasih sayang, lalu aku kembali ke ruang tengah warung dan duduk. Midah juga kembali ke warung lalu duduk di pojok. Pandangannya jauh ke arah dermaga. Sunyi senyap. Rustam meletakkan kakinya di lantai untuk menghentikan goyangan kursi. Ia menatap Hasanah. Hasanah menatap Midah. Midah menatapku. Aku menatap blender. Blender menatap Rustam. Kami saling menatap untuk mengucapkan satu hal yang sama, tapi tak mampu terucapkan. Kami terlalu gengsi untuk mengakuinya. Kami terlalu benci untuk berterus terang. Benci, benci. Tapi, akhirnya Midah tak tahan.

“Aku rindu pada Paman …,” katanya dengan sedih.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.