Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

untuk mengunjungi perhelatan pernikahan anak dari salah seorang sahabat Bibi. Mereka akan menginap selama 3 hari di pulau itu. Hal itu kami sambut dengan penuh sukacita.

Bayangkan, 3 hari tanpa Paman! Saat-saat semacam ini biasanya kami namakan liburan dari surga sebab selama ada Paman, jangankan salah, sesuatu yang benar dikerjakan sekalipun, bisa saja dimarahinya. Marah bukan lagi soal salah dan benar bagi Paman, tapi gaya hidupnya.

Maka, kami, kaum jongos, sekarang meraja di warung kopi. Tak ambil tempo, pulang dari dermaga Rustam langsung menguasai kursi malas Paman. Lalu ia meniru-nirukan gaya Paman kalau sedang menghinanya.

“Jika kutengok dari bentuk hidungmu, Tam, kecil harapan aku bakal dapat istri. Aku saja melihatnya, tertekan batinku. Pohon aren mati merana sendirian, itulah nasib di depanmu, Tam.”

Rustam adalah peniru yang hebat. Mungkin karena ia telah ditindas Paman selama bertahun-tahun sehingga kadang kala ia tampak seperti orang idiot. Maka, ia pandai benar menyaru menjadi Paman. Nada suara, gaya mencak-mencaknya, dan pilihan kata-katanya, semuanya persis Paman. Midah menimpali.

“Dot! Apa perlu kau kumasukkan ke SD lagi agar becus bekerja?”

Tawa kami berderai-derai. Hasanah menyambung.

“Macam mana suamimu takkan kabur semua. Not! Baru kutahu ada perempuan yang
baunya macam bau terasi sepertimu itu! Kubilang apa, kalau mandi, pakai sabun!”

Aku terpingkal-pingkal melihat tingkah ketiga kolegaku itu. Saking keras aku tertawa sekaligus saking keras aku menahannya, ngilu rasanya punggungku. Aku bukan hanya menertawakan kepiawaian mereka meniru Paman, namun aku telah melihat, jika mereka dimarahi Paman jangankan membantah, melihat wajah Paman saja mereka tak berani. Mereka ketakutan seperti kucing dikepung anjing. Ternyata ketika Paman tak ada, mereka sangat binal.

Ah, indahnya tanpa paman. Kami bekerja seharian dengan tenang dan senang. Sampai-sampai Midah berharap agar angin kencang di laut sehingga Paman makin lama di Pulau Sekunyit.

Esoknya kami kembali bekerja dengan tenang dan senang. Kepada para pelanggan, jika mereka tak melihat Paman dan bertanya, dengan hati gembira kami sampaikan bahwa Paman kondangan ke Pulau Sekunyit, takkan kembali sampai paling tidak dua hari lagi. Meski
mereka tak bertanya, kami bercerita saja soal itu. Oh, nikmatnya bisa mengatakan semua itu.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.