Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

yang mengembuskan napas maut. Ia tahu bahwa Matarom tak pernah sekali pun dapat dikalahkan, oleh siapa pun, di atas papan catur perak berhantu itu. Namun, Firman adalah lelaki rasional yang berkali-kali mendaftarkan diri untuk pendidikan sekolah calon Tamtama, dan selalu gagal di ujian tertulis. Ia lelaki lembut tapi ada tentara di dalam dadanya, semua itu membuatnya sama sekali tak sudi jika disebut pengecut, apalagi harus menolak papan catur perak yang hanya desas-desus saja bahwa banyak hantu dari zaman lawas gentayangan di atasnya. Maka mendongaklah Firman.

“Mau pakai hantu, mau pakai dukun, silahkan!”

Katanya dengan gengsi yang meluap-luap.

“Mau pakai papan perak, mau papan perunggu, aku tak takut!”

Kurasa Firman Murtado sedikit bingung soal nilai logam mulia dan di tak paham konsep intensitas. Dalam marah yang benar seharusnya kalimat kedua itu nilainya lebih tinggi dari perak, bukan? Tak heran ia selalu gagal ujian tertulis. Ini tak lain tanggung jawab menteri pendidikan.

Maka, bertandinglah mereka dengan papan catur perak. Para penonton yang menggemari catur dan para penggila klinik datang berbondong-bondong dan napas mereka tertahan karena dalam pengundian Matarom mendapat buah hitam. Duduklah lelaki bercambang gagang pistol itu di belakang barisan hantu sebagai raja iblis.

Tak perlu waktu lama, papan catur menjelma menjadi Laut China Selatan yang bergelora. Raja berekor berdiri di haluan bahtera kaum lanun dengan mulut masih berdarah habis memangsa anak kecil. Menteri, yang telah diisi sang empu sesat dari Melidang, dengan nyawa tak diterima bumi karena bahkan neraka tak menyukai kekejamannya, yakni nyawa Panglima Ho Pho: Kwan Peng, menghunus pedang di buritan. Ia tak sabar ingin menetak leher musuh. Delapan pion hitam adalah bajak laut yang menyerbu dengan belati berkilat. Salah satu dari mereka kemudian menusuk jantung raja Firman Murtado.

Secara pertempuran, raja Firman telah mangkat dengan gagah berani di tangan musuh, namun secara catur, raja itu telah dimakzulkan oleh sebutir pion, sekali lagi, sebutir pion, dan hal itu sama sekali bukan hal lain selain sebuah penghinaan. Kelakuan semacam itu memperlakukan musuh model begitu, yang tak disetujui oleh junjungan Muhammad.

Pertandingan tak dapat dilanjutkan pada papan kedua sebab pelecehan yang dilakukan Matarom dengan memperalat prajurit balok satu umpan peluru alias pion itu menimbulkan huru-hara. Jika tak dilerai Sersan Kepala dan tak digertak Paman, pasti berakhir dengan tinju bebas tanpa ronde antar sekondan klub Di Timoer Matahari dan sekondan Firman Murtado.

Para penggemar catur berdecak kagum atas sepak terjang Matarom sebab mereka tahu, Firman bukanlah pecatur kelas emprit. Tahun lalu ia berada di tempat ketiga, itu pun

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.