Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

Mozaik 38

Pembunuh Berdarah Dingin

MEMANG tak pernah ada bukti bahwa pada masa junjungan Nabi Muhammad sudah ada permainan catur karena catur konon ditemukan di India—atau Arab?—pada abad ke-14. Nama aslinya chaturangga. Dari nama itu, Indialah yang paling mungkin asal muasalnya. Pernah ada sekelompok orang yang mengklaim catur berasa dari Arab. Namun, jika dari Arab, kurasa namanya akan jadi caturrahmat.

Dari mana pun asalnya, jika catur merupakan metafora pertempuran, Junjungan telah memberi contoh yang terang soal kelakuan yang harus ditunjukkan prajurit di medan tempur. Semacam code of conducts tentara. Seganas apa pun pertempuran itu, perempuan, anak-anak, dan orang tua haruslah dikecualikan. Pampasan perang ala kadarnya, dan sejahat apa pun musuh, respek tetap harus ditaruh atas mereka. Menghinakan musuh seharusnya bukanlah tabiat para pejuang muslim.

Namun, tengoklah perbuatan Matarom. Ia semakin beringas saja, terutama sejak kehadiran Master Nasional Abu Syafaat. Master itu tak lain kerabat Mitoha dan pernah menjadi pelatih catur provinsi. Mitoha mendatangkannya demi ambisinya menjadikan Matarom juara tiga kali berturut-turut, sehingga menjadi juara sejati. Master nasional akan melatih Matarom secara khusus.

Di tangan master nasional, Matarom memang makin hebat. Ia merajalela pada setiap pertandingan. Ia melaju tanpa halangan dengan melibas setiap lawannya dua kosong tak berbalas. Ia tak pernah menemui lawan yang berarti. Karena tekniknya makin tinggi, naluri juaranya makin tajam, strategi Rezim Matarom-nya makin kejam, maka congkaknya makin bengkak.

Firman Murtado, yang merupakan sekondan Patriot Trikora, membalaskan sakit hati kongsinya itu atas konspirasi—yang bagus di atas kertas, tapi carut-marut di lapangan—tempo hari. Ia membantai salah satu pecatur klub Di Timoer Matahari.

Matarom, yang dongkol melihat kemajuan Maryamah sekaligus terpancing emosi melihat pembantaian yang dilakukan Firman itu, minta izin pada panitia untuk memakai
papan catur peraknya ketika menghadapi Firman. Panitia membicarakan papan catur perak

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.