Baca Novel Online

Cinta Di Dalam Gelas

“Kita ini sudah menjadi warga negara yang baik! Kita tak pernah protes -protes! Kita sudah tunduk patuh pada hukum. Kita sudah membayar pajak. Tapi tengoklah! Tengoklah! Balasan pemerintah pada kita! Harga-harga dinaikkannya sekehendak hatinya!”

Sebenarnya ini marah kemarin yang tertunda. Dan jika Paman marah, kami otomatis harus menghentikan apa pun yang sedang kami kerjakan, untuk menyimaknya, dan jangan coba-coba tak acuh, perkara bisa runyam.

“Politisi, anggota DPRD, menteri pendidikan, sama saja! Mereka selalu bicara atas nama rakyat. Tahukah kalian? Kalau mereka bicara atas nama rakyat, maka mereka bicara atas nama saya! Karena saya ini adalah rakyat! Sekarang, harga bahan pokok mahal! B iaya sekolah
melambung! Mereka telah melupakan nilai-nilai kepanduan! Trabel! Trabel!”

Kemarin Paman berjalan-jalan dengan cucunya keliling pasar, warga Khek mengeluhkan harga-harga yang naik. Mereka malah kasihan pada pembeli, bukannya melihat hal itu sebagai peluang untuk mengeruk keuntungan.

“Pejabat mencuri, korupsi, tertawa-tawa di televisi, kita diam saja! Tak pernah kita macam-macam. Pemerintah benar-benar tak punya perasaan! Politisi tak tahu adat!”

“Pamanda, Pamanda ….”

Seorang lelaki muda memanggil Paman. Lelaki itu berdiri di belakang Paman bersama istrinya dan seorang anak perempuan kecil yang mungkin berumur tiga tahun. Anak itu menggemaskan sekali, tembam, dan berkuncir kuda. Mereka adalah keluarga adik ipar Paman yang melewatkan libur dengan menginap di rumah Paman. Mereka mau pamit untuk pulang ke kampungnya.

Paman berbalik, dan serta-merta, kedua tanduknya terisap ke dalam kepalanya. Wajahnya berubah 180 derajat, dari yang tadinya jahat, menjadi lembut.

“Amboi, aih, aiihhh, Putri Kecilku ….”

Dirayu-rayu begitu, anak kecil itu tersipu-sipu. Ia memeluk kaki ayahnya. Paman menggodanya dengan melompat-lompat seperti kelinci. Anak itu cekikikan mendengar suara Paman yang dibuat-buat sehingga berbunyi aneh dan lucu. Sesekali Paman menjentik kuncirnya. Anak itu menjerit-jerit manja dan minta tolong pada ayahnya.

Paman mendesak mereka agar memperpanjang waktu menginap, dan hal itu bukanlah basa-basi. Selain terkenal sangat galak, Paman juga terkenal sangat sayang pada keluarga. Ia adalah paradoks yang membingungkan, sekaligus memesona. Lalu, dengan nada penuh simpati, Paman menanyakan pada sang ayah tentang perjalanannya yang jauh. Bagaimana
ditempuhnya dengan sepeda sambil membonceng anak-istrinya. Adakah kesulitan?

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: August 26, 2013 13:51

    nurafiah

    Novel yg sarat pngalaman n plajaran berharga..tp kpn bercerita ttg kerjaan ikal sekarang n kisah khidupan pribadix...
  • Posted: December 11, 2013 05:21

    ademilce antibe

    bagaimana sikap pengarang dari pendekatan feminisme tentang novel ini?
  • Posted: December 14, 2016 00:01

    Sapaya

    saya belum baca :)
  • Posted: February 8, 2018 05:13

    alpina panjaitan

    trima kasih atas inspirasinya,, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh perjuangan akan membakar api semangat untuk berjuang ,,,dan tak ada yang mustahil jika kita mau bersungguh sungguh untuk mencapai nya, dengan tekat yang kuat... yes. semangat.
  • Posted: July 31, 2018 03:48

    Mufasa Al Ayyubi

    Ngga rela pas bacanya tamat... Rasanya ingin terjebak dalam dunia padang bulan selamanya..!!! T_T

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.